Thursday, July 28, 2022

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

 

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep



1. Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi pada Anak Palsi Serebral 
M. Luthfi Suhaimi, Iskandar Syarif, Eva Chundrayetti, Rahmi Lestari
http://jurnal.fk.unand.ac.id

Pada anak yang menderita palsi serebral kemungkinan akan mengalami peningkatan risiko terjadinya epilepsy. Setiap perubahan pada otak dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi dengan berbagai manifestasi klinis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Desain peneltian ini adalah cross-sectional study yang dilaksanakan pada Agustus 2018 sampai Desember 2019. Subjek palsi serebral diperoleh secara consecutive sampling, dengan jumlah minimal 60 subjek. Faktor risiko yang diteliti meliputi asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal. Uji statistik menggunakan Chi-square test dan Fisher’s exact test, dengan batas kemaknaan p<0,05. Hasil: Pada 60 pasien palsi serebral, ditemukan 39 pasien (65%) menderita epilepsi dan 21 pasien (35%) tidak menderita epilepsi. Perbandingan jenis kelamin perempuan dan laki-laki 1,2:1. Epilepsi umum merupakan tipe epilepsi yang paling banyak ditemukan (76,9%), pengobatan secara politerapi hampir sama banyak dengan monoterapi. Asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal tidak bermakna sebagai faktor risiko epilepsi pada anak palsi serebral. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral.

2. Herpes Zoster Otikus dengan Paresis Nervus Fasialis (Sindrom Ramsay Hunt) pada Pasien Imunokompromais
Holy Ametati1 2
Med Hosp 2020; vol 7 (1) : 113–118 p-ISSN: 2301-4369 e-ISSN: 2685-7898
https://doi.org/10.36408/mhjcm.v7i1.437

Sindrom Ramsay Hunt (SRH) merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada herpes zoster. SRH dapat terjadi tanpa adanya ruam kulit (zoster sine herpete). Karena gejala-gejala ini tidak selalu muncul saat onset, sindrom ini sering salah didiagnosis. Insidensi 5/100.000 kasus pada populasi di Amerika Serikat dan meningkat pada kelompok umur di atas 60 tahun dan kondisi imunokompromais. Laporan kasus : Laki-laki, 66 tahun, timbul plenting-plenting di daerah telinga kiri menyebar ke dada sebelah kiri sejak 8 hari sebelum dikonsulkan. Terdapat nyeri pada telinga, pendengaran berkurang, pusing berputar, wajah sebelah kiri sulit digerakkan dan sulit berbicara. Permeriksaan fisik ditemukan vesikel berkelompok dengan dasar kulit eritem dan edema, bula, erosi, krusta, konfigurasi herpetiformis, distribusi unilateral, segmental setinggi persarafan servikal 2–4. Temuan tzank test menunjukkan sel datia berinti banyak. Penatalaksanaan dengan sistemik asiklovir dan metilprednison. Pembahasan : SRH merupakan hasil reaktivasi virus varicella zoster laten diganglion genikulatum yang menyebabkan vesikel pada aurikula, otalgia dan paresis/paralisis fasialis. Mekanisme pencetus reaktivasi pada pasien ini diduga berhubungan dengan imunokompromais (keganasan). Pasien imunokompromais memiliki resiko 20–100 kali lebih besar. Pemeriksaan Tzank sesuai dengan gambaran herpes zoster. Terapi SRH yang paling disarankan adalah terapi kombinasi antivirus dan kortikosteroid. Simpulan : Telah dilaporkan kasus herpes zoster otikus dengan paresis nervus fasialis (Sindrom Ramsay Hunt) pada pasien imunokompromais. Hasil terapi memuaskan. 

3. Efektivitas Terapi Akupuntur dengan Akupressure pada Ibu Postpartum sebagai Terapi Sakit Kepala di Poskestren Al Bahjah Sendang Kabupaten Cirebon
Noorlinda, 2 Roni Iryadi, 3 Ninis Siti Anisah
Jurnal Kesehatan Pertiwi Politeknik Kesehatan Bhakti Pertiwi Husada 
Volume 3 Nomor B Tahun 2021

Sakit kepala setelah melahirkan pertanda adanya masalah kesehatan, mulai dari yang ringan, seperti alergi dan sinusitis, hingga yang berat, seperti preeklamsia, meningitis, dan penyumbatan pembuluh vena dalam otak.Penatalaksanaan sakit kepala pada ibu post partum dapat secara farmakologi dan non farmakologi Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui efektivitas terapi akupunkturdengan akupressure pada ibu postpartum sebagai terapi sakit kepala di POSKESTREN Al Bahjah Sendang Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Metode Penelitian: Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metodeQuasi Experiment dengan rancangan two group pretest dan posttest, non-equivalentcontrol group yang terdiri dari dua kelompok intervensi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua postpartum dengan sakit kepala di POSKESTREN Al Bahjah Sendang pada periode bulan Juni - Agustus 2021 didapatkan sejumlah 78 orang.Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 15 orang untukkelompok intervensi akupuntur dan 15 orang untuk kelompok intervensi akupresur. Jadi, total keseluruhan sampel yang dibutuhkan adalah 30 orang. Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Hasil Penelitian: Analis Sakit kepala pada ibu postpartum sebelum dan sesudah diberikan intervensi Terapi akupuntur di POSKESTREN Al Bahjah Sendang Sebelum intervensi dilaksanakan, rata-rata skala nyeri pada responden yang mengalami sakit kepala sebelum intervensi 6,00 dengan standar deviasi 1,927 sedangkan sesudah intervensi akupuntur diberikan, skala sakit kepala responden menunjukkan rata-rata 3,33 dengan standar deviasi 2,093. Ada perbedaan penurunan nyeri sakit kepala secara signifikan antara kelompok akupunktur dengan kelompok akupresur. Nilai mean difference dari terapi akupresur lebih besar jika dibandingkan dengan terapi akupuntur. Kesimpulan: Terapi akupresur yang lebih efektif dalam menurunkan nyeri sakit kepala dibandingkan dengan terapi akupunkur. Terapi akupresur lebih baik dalam menurunkan nyeri sakit kepala daripada terapi akupuntur.

4. PERBEDAAN TEKANAN DARAH PADA SISI LENGAN YANG NORMAL DAN SISI LENGAN YANG LUMPUH PADA PASIEN STROKE DI RUANGAN IRINA F NEURO RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO
Sefti Rompas Jeavery Bawotong
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, 4 Februari 2019

Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke otak. Stroke merupakan yang paling sering menyebabkan cacat berupa kelumpuhan gerak, gangguan bicara, proses berpikir, daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan tekanan darah pada sisi lengan yang normal dan sisi lengan yang lumpuh pada pasien stroke di Irina F Neuro RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu desain “Pre Experimen One Group Pretest”. Penelitian dilaksanakan di Irina F Neuro RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado dengan sampel sebanyak 62 responden. Instrumen yang digunakan yaitu tensi meter, lembar data pasien, dan lembar observasi pengukuran tekanan darah. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik mann whitney diketahui bahwa nilai sistol (0,617> 0,05) dan nilai p diastole 1,00. Kesimpulannya yaitu tidak ada perbedaan tekanan darah antara lengan yang normal dan lengan yang lumpuh pada pasien stroke di Irina F Neuro RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Kata kunci : Tekanan darah, sisi lengan normal dan sisi lengan lumpuh.

5. Kriptokokal meningitis: Aspek klinis dan diagnosis laboratorium 
Efrida, Desiekawati
http://jurnal.fk.unand.ac.id

Kriptokokosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans, infeksi ini secara luas ditemukan di dunia dan umumya dialami oleh penderita dengan sistem imun yang rendah. Munculan klinis terutama adalah meningitis dan meningoensefalitis yang dikenal dengan kriptokokal meningitis. Sejalan dengan infeksi HIV yang menjadi pandemi, kriptokokosis sebagai infeksi oportunistik juga semakin berkembang di dunia. Kriptokokal meningitis merupakan infeksi oportunistik kedua paling umum yang terkait dengan AIDS di Afrika dan Asia Selatan dengan kejadian kriptokokosis 15%-30% ditemukan pada pasien dengan AIDS. Tanpa pengobatan dengan antifungal yang spesifik, mortalitas dilaporkan 100% dalam dua minggu setelah munculan klinis kriptokokosis dengan meningoensefalitis pada populasi terinfeksi HIV. Di Indonesia, sebelum pandemi AIDS kasus kriptokokosis jarang dilaporkan. Sejak tahun 2004, seiring dengan pertambahan pasien terinfeksi HIV, Departemen Parasitologi FKUI mencatat peningkatan insidensi kriptokokal meningitis pada penderita AIDS yaitu sebesar 21,9%. Faktor yang terkait dengan virulensi Cryptococcus neoformans adalah adanya kapsul polisakarida, produksi melanin dan sifat thermotolerance. Imunitas yang dimediasi oleh sel memiliki peranan penting dalam pertahanan pejamu terhadap Cryptococcus. Pemeriksaan laboratorium penunjang untuk diagnosis adalah pemeriksaan mikroskopis langsung menggunakan tinta India, deteksi antigen, metode enzyme immunoassay, kultur, dan metode molekular. 

6. STUDI HASIL INDEKS ERITROSIT PADA PENDERITA STROKE ISKEMIK DAN STROKE HEMORAGIK
Syahida Djasang1 , Nurul Hikma2

Stroke adalah penyakit yang ditandai oleh penurunan fungsi otak yang tejadi karena sumbatan, penyempitan, pecahnya pembuluh darah dan terhentinya alirah darah ke otak. Hemoglobin, hematokrit dan eritrosit berperan penting terhadap derajat klinis stroke karena terkait dengan oksigenasi di jaringan otak yang mengalami infark.Salah satu yang berperan penting dalam proses oksigenasi dalam aliran darah ialah eritrosit. Berkurangnya hemoglobin dalam darah akan menyebabkan kurangnya suplai oksigen ke otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil indeks eritrosit pada penderita stroke iskemik dan stroke hemoragik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hematologi Rumah Sakit dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Maret sampai dengan Mei 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian descripitive. Analisa data secara analitik dilakukan uji labotaorium untuk mengetahui gambaran hasil indeks eritrosit pada penderita stroke iskemik dan stroke hemoragik. Hasil penelitian yang diperoleh pada penderita stroke iskemik didapatkan nilai MCV, MCH dan MCHC yang rendah, Terdapat 5 penderita dengan nilai MCV rendah, 6 penderita dengan nilai MCH rendah dan 8 penderita dengan dilai MCHC rendah. Pada penderita stroke hemoragik didapatkan nilai MCV, MCH dan MCHC yang rendah, Terdapat 1 penderita dengan nilai MCV rendah, 5 penderita dengan nilai MCH rendah dan 8 penderita dengan dilai MCHC rendah

7. Ekstraksi Ciri Sinyal EEG Untuk Gangguan Penyakit Epilepsi Menggunakan Metode Wavelet
Wiwit Putri Ani, Hindarto Hindarto
Jurnal Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi ISSN : 1978-161X(p); 2477-2550(e)
Volume 9, No. 2 (2017), pp 62-65 DOI : 10.18860/mat.v9i2.4376
Received : July 12th 2017; Accepted : August 14th 2017 ; Avalaible Online : September 15th 2017

Epilepsy terjadi karena ada gangguan sistem saraf otak pada manusia, yang terekam dari sinyal Elektroensephalogram. Sinyal Elektroensephalogram memiliki informasi aktivitas listrik pada otak, termasuk kondisi gangguan kelistrikan dan pikiran pada syaraf. Sinyal Elektroensephalogram mempiliki bentuk yang kompleks, mudah tertimbun noise , amplitudo kecil dan tidak memiliki  pola yang baku, sehingga analisa secara visual tidak mudah[1] Untuk meningkatkan akurasi dan menghilangkan noise dari sinyal EEG, penelitian ini menggunakan metode Wavelet sebagai proses ekstraksi ciri dan Backpropagation untuk klasifikasi. Data sinyal Elektroensephalogram didapat dari Universitas Bonn yang terdiri dari 5 kelas dataset yaitu A, B, C, D, dan E. Tiap dataset berisi 100 segmen EEG saluran tunggal dengan durasi selama 23.6 detik. Peneliti menggunakan dataset B dan E. Pada tahap pelatihan (training) menggunakan 80 naracoba , sedangkan pada tahap pengujian (testing) menggunakan 100 naracoba. Proses ini dilakukan setelah ekstraksi ciri sinyal EEG dengan Wavelet. Hasil ekstraksi ciri digunakan sabagai nilai input, pada penelitian ini menggunakan metode back propagation (16-35-2) yaitu 2 input sinyal EEG, satu hidden layer dengan 35 unit dan dua target epilepsy dan non epilepsi . dari pengujian data tersebut didapat nilai akurasi sebesar 100%.

8. DIAGNOSIS DAN TERAPI DEEP BRAIN STIMULATION PADA PENYAKIT PARKINSON
Eudon Muliawan*, Seilly Jehosua*, Rizal Tumewah*
Seorang wanita berusia 44 tahun dengan penyakit Parkinson yang telah menunjukkan gejala yang lebih awal sejak 8 tahun yang lalu pada umur 36 tahun dan telah menjalani terapi Deep Brain Stimulation. Setelah menjalani terapi tersebut pasien menjukkan perbaikan klinis yang bermakna, begitu pula peningkatan kualitas hidup. Dengan terapi ini pula, pengobatan berkurang hingga 50- 80%.

9. Deteksi Penyakit Epilepsi dengan Menggunakan Entropi Permutasi, K-means Clustering, dan
Multilayer Perceptron
Yunita Ardilla, Handayani Tjandrasa, dan Isye Arieshanti

Abstrak—Epilepsi didefinisikan sebagai kumpulan gejala dan tanda-tanda klinis yang muncul disebabkan gangguan fungsi otak secara intermiten, yang terjadi akibat lepas muatan listrik abnormal atau berlebihan dari neuron-neuron secara paroksimal dengan berbagai macam etiologi. Banyak pasien yang tidak menyadari adanya gejala epilesi dalam dirinya. Oleh karena itu diperlukan sistem yang bisa memprediksi apakah seseorang menderita epilepsi bebas kejang, atau epilepsi kejang. Dalam artikel ini diimplementasikan perangkat lunak pendeteksi  penyakit epilepsi dengan menggunakan entropi permutasi, K- means clustering, dan multilayer perceptron. Hasil model dari algoritma multilayer perceptron akan digunakan dalam proses prediksi. Dataset yang digunakan dalam proses uji coba berisi
lima himpunan (A-E) EEG dari manusia sehat dan yang menderita epilepsi yang tersedia online (''Klinik für Epileptologie, Universität Bonn''). Performa terbaik yang dihasilkan oleh model adalah akurasi sebesar 96,5%, specificity sebesar 95,45%, dan sensitivity sebesar 97,97%.

10. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL'S PALSY SINISTRA DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN MASSAGE DI RSUD CIKALONG WETAN KABUPATEN BANDUNG BARAT
Genta Eep Afandi1 , Ika Rahman2

Bell's Palsy adalah kelumpuhan Nervus VII jenis perifer yang timbul secara akut yang penyebabnya belum diketahui, tanpa adanya kelainan neurologik lain. Pada sebagian besar penderita Bell's Palsy Kelumpuhan akan sembuh total, namun pada diantara mereka kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa. Gejala sisa ini dapat berupa kontraktur, sinkenesia atau spasme spontan (Zainal Abidin, dkk, 2017).Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi dalam peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional wajah pada kondisi Bell's Palsy Sinistra dengan modalitas Infra Red dan Massage.Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali didapatkan hasil peningkatan kekuatan otot wajah yaitu MMT T1: mengerutkan dahi: 3, mengangkat alis: 1, menutup mata: 1, kembang kempis hidung: 3, tersenyum: 1, mencucu: 1 menjadi T6: mengerutkan dahi: 5, mengangkat alis: 3, menutup mata: 5, mengkembang kempis hidung: 5, tersenyum: 3, mencucu: 3. Kemampuan fungsional Ugo Fisch Scale T1: 45 "Sedang" menjadi T6: 72 "Baik".Infra Red dan Massage dapat meningkatkan kekuatan otot dan kemampuan fungsional wajah pada kasus Bell's Palsy Sinistra. Kata Kunci : Bell's Palsy, Infra Red, Massage

11. Sklerosis Multipel: Diagnosis dan Tatalaksana
Jimmy Christianto Suryo
CDK Edisi CME-3/Vol.48 no.8, th.2021

Sklerosis multipel adalah lesi multipel sistem saraf pusat akibat rusaknya selubung mielin yang membungkus akson. Penyakit ini termasuk penyakit neurodegeneratif bersifat progresif dan relaps, sering mengenai wanita dewasa muda, memerlukan penanganan komprehensif dan sistematis. Penyebab penyakit belum diketahui pasti, diduga berkaitan dengan faktor infeksi virus atau proses autoimun atau genetik. Manifestasi klinisnya bervariasi. Kriteria diagnosis terbaru didasarkan pada Kriteria McDonald tahun 2017. Tatalaksana mencegah relaps dan progresivitas menggunakan corticosteroid, imunosupresan, imunomodulator, plasmapheresis (pertukaran plasma), atau DMAMS (Disease-Modifying Agent for Multiple Sclerosis), atau stem cell therapy. Prognosis tergantung komplikasi, progresivitas penyakit, dan pilihan terapi.

12. Gangguan Kognitif Terkait Epilepsi Lobus Temporal: Laporan Kasus
Herpan Syafii Harahap
Jurnal Kedokteran 2019, 8(3): 1-5 ISSN 2301-5977, e-ISSN 2527-7154

Salah satu komplikasi penting dari penyakit epilepsi, terutama epilepsi lobus temporal, adalah gangguan kognitif. Kerentanan seorang pasien epilepsi untuk mengalami gangguan fungsi kognitif ditentukan oleh karakteristik demografik, karakteristik klinik, dan cognitive reserve pasien tersebut. Laporan kasus ini mendeskripsikan keluaran klinis fungsi kognitif dari dua kasus epilepsi lobus temporal dan karakteristik demografik, klinik, dan cognitive reserve yang mendasarinya. Pada kasus pertama, seorang perempuan berusia 41 tahun, lulusan sarjana S1, terdiagnosis epilepsi lobus temporal sejak 18 bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat cedera kepala 11 tahun yang lalu. Pasien saat ini mengkonsumsi karbamazepin 600mg/hari dan asam valproat 500mg/hari dan bebas bangkitan selama 3 bulan. Sejak 6 bulan yang lalu, pasien mulai mengeluhkan adanya gangguan kognitif dan mudah khawatir dan marah, namun aktivitas sehari-hari masih normal. Tes neuropsikologi menunjukkan bahwa fungsi kognitif pasien tersebut normal, namun didapatkan adanya gangguan mood ringan. Pada kasus kedua, seorang laki-laki berusia 47 tahun, lulusan SLTA, terdiagnosis epilepsi lobus temporal sejak 14 
tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat cedera 20 tahun yang lalu. Pasien saat ini mengkonsumsi karbamazepin 800mg/hari dan asam valproat 1000mg/hari dan bebas bangkitan selama 8 bulan. Sejak 1 tahun yang lalu, pasien mulai mengeluhkan adanya penurunan daya ingat yang menyebabkan aktivitas sehari-harinya menjadi terganggu. Pada kedua kasus tersebut, penentu adanya berbedaan keluaran klinis status kognitif adalah awitan epilepsi, lokasi fokus epileptogenik, dosis obat antiepilepsi, dan tingkat pendidikan. 

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

 

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep



1. EFEKTIFITAS LATIHAN ACTIVITY DAILY LIVING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN DAN MENURUNKAN KECEMASAN PADA PASIEN GANGGUAN TULANG BELAKANG DI RSUD PROF DR DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Woro Hapsari1, Khodijah2, Taskurun Ahyari3

Spinal disorder is an injury or disorder of the cervical, and lumbar vertebral traumatic fall from a height, traffic accidents, sports accidents tumor and infection causing neurological deficits, the occurrence of paraplegia caused by the loss of a complete sensory and motor, bowel and bladder disorders, dysfunction sexual, autonomic desrefleksia problems arising from the disorder is immobility, weakness, and the inability of the result is the inability to care for themselves, the individual is not able to do the need to maintain and improve the well-being according to the concept of Dorothea Orem self care. Daily Living Activity exercises that include bowel, bladder training, grooming, feeding, personal hygine can improve self-care and as a basis for the ful fillment of self-care. His study uses an experimental design approach prepre-testand post test without control. Samples accidental sampling independent variables: exercise Activity Daily Livingdependent variable independence and anxiety. Paired t-test results o fthe independence of the value of .001 (p<0.05), the results Paired t-test anxiety with a value of .015 (p<0,05). Conclusions significant difference value independence and anxiety before and after exercise Activity Daily Living, exercise daily living activity can increase independence and decrease anxiety in patients with spinal disorders.

2. PENERAPAN METODE CERTAINTY FACTOR PADA SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DALAM
Supina Batubara1, Sri Wahyuni 2, Eko Hariyanto 3
Seminar Nasional Royal (SENAR) 2018 ISSN 2622-9986 (cetak)
STMIK Royal – AMIK Royal, hlm. 81 – 86 ISSN 2622-6510 (online)
Kisaran, Asahan, Sumut - 3 September 2018

Kehadiran teknologi informasi dengan program aplikasi membantu dan berperan penting dalam kehidupan manusia Sistem Pakar diagnosa Penyakit Dalam Pada Manusia merupakan aplikasi yang berguna untuk mengetahui jenis penyakit yg terdapat pada rongga tubuh manusia bagian dalam, beserta gejala yang dialami pemakai. Model inferensi yang digunakan dalam pembuatan sistem pakar ini adalah factor kepastian (Certainty Factor sedangkan teknik pencarian menggunakan Cash Based Reasoning. Penentuan diagnosa dalam sistem pakar ini dilakukan melalui proses konsultasi antara sistem dan pemakai. Jawaban disesuaikan dengan aturan yang berada di dalam sistem, jika jawaban yang dimasukkan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka sistem ini akan memberikan hasil diagnosa berupa informasi penyakit. Diharapkan dengan dibuatnya Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Penyakit dalam Pada Manusia ini dapat memberikan hasil diagnosa, penyebab, pengobatan, serta pencegahan terhadap suatu penyakit. Sistem ini disebut dengan Sistem Pakar (Expert Sistem). 

3. Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Penyakit Syaraf Terjepit Pada Tulang Belakang (HNP) Menerapkan Metode Case Based Reasoning
Erli Sari Harahap
Journal of Computer System and Informatics (JoSYC)
Volume 1, No. 4, Agustus 2020, Page 352-357
ISSN 2714-8912 (media online)
ISSN 2714-7150 (media cetak)

Penyakit hernia nukleuspulposus (HNP) merupakan salah satu penyakit yang sering menyebabkan rasa sakit pada ruas-ruas tulang belakang. HNP terjadi dikarenakan adanya nukleuspulposus (bahan pengisi berupa zat yang kenyal seperti gell) yang keluar dari diskusinvertebralis (sendi tulang belakang). Gejala awal dari penyakit ini sering kali kurang disadari oleh para penderitanya. Akibat dari kurangnya kesadaran ini justru dapat menyebabkan aktivitas menjadi terhambat. Hal ini dikarenakan HNP dapat menyebabkan nyeri pada bagian tulang belakang yang dapat berimbas pada nyeri pada bagian paha,
betis dan kaki bahkan dapat menyebabkan kelainan bentuk tulang belakang. Untuk mengurangi resiko penyakit HNP ini, maka dibutuhkan sebuah system pakar yang dapat membantu baik penderita maupun para pakar dalam mendiagnosis gejala awal dari penyakit ini sehingga pencegahan efek berbahaya dapat dilakukan lebih cepat. Pada penilitian kali ini, dibuatkan sebuah system pakar yang berfungsi untuk mendiagnosis gejala awal penyakit HNP dengan metode case based reasoning sebagai logika system pakar yang dibuat. Solusi ini dibuat karena dengan adanya bantuan teknologi web, maka para penderita dapat dengan mudah mendiagnosa gejala penyakit HNP kapan saja dan dimanasaja.

4. SISTEM DETEKSI PENYALAHGUNAAN NARKOBA MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN MODEL BACKPROPAGATION
Rayendra
Volume 3, No. 1.1, Agustus 2019 
Jurnal Mantik Penusa Vol. 3, No. 1.1 Agustus 2019, pp.7-13 Terakreditasi DIKTI No.SK 21/E/KPT/2018 e-ISSN 2580-9741 p-ISSN 2088-3943

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat, maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi penyalahgunaan narkoba menggunakan jaringan syaraf tiruan model backpropagation. Jaringan syaraf tiruan merupakan salah satu sistem pemrosesan informasi yang didesain dengan menirukan cara kerja otak manusia dalam menyelesaikan suatu masalah dengan melakukan proses belajar melalui perubahan bobot sinapsisnya. Pada penelitian ini akan di susun data jenis narkoba dan turunannya. Kemudian seluruh gejala psikis yang ditimbulkan untuk turunan narkoba tersebut. Data input dibuat dengan memberikan nilai 1 untuk gejala yang dimiliki pada pengguna narkoba jenis turunan tertentu, dan 0 untuk gejala yang tidak dimiliki. Pembelajaran dan pengujian dilakukan unuk data gejala klinis dan psikis yang ada atau nilai 1 dengan beberapa kali literasi untuk mendapatkan output apakah narkoba jenis narkotika, psikotropika, zat adiktif atau tidak teridentifikasi. Menentukan variabel jumlah sel lapisan masukan, jumlah sel lapisan tersembunyi, jumlah sel lapisan keluaran, galat yang dijinkan, konstanta belajar, kenaikan konstanta belajar, penurunan konstanta belajar meomentum, rasio kesalahan dan fungsi aktivasi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program aplikasi Matlab sehingga hasilnya akan mampu memberikan informasi apakah seseorang telah terkena pengaruh narkoba atau tidak. 

5. Klasifikasi Suara Paru Normal dan Abnormal Menggunakan Ekstraksi Fitur Discrete Wavelet Transform dengan Klasifikasi Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan yang Dioptimasi dengan Algoritma Genetika
Fathurrahman Rabani1, Jondri2, Achmad Rizal3
Jurnal ELEMENTER Vol. 7, No. 1, Bulan Mei 2021
Jurnal Politeknik Caltex Riau
https://jurnal.pcr.ac.id/index.php/elementer
| ISSN : 2460 – 5263 (online) | ISSN : 2443 – 4167 (print)

Salah satu cara yang digunakan dokter untuk mendiagnosis gangguan pada paru-paru adalah dengan mendengarkan suara pernapasan menggunakan stetoskop. Namun, dalam penggunaan stetoskop masih bisa terjadi kesalahan mendiagnosis karena beberapa faktor, seperti kemampuan, pengalaman, dan kepekaan pendengaran dokter, serta pola suara yang hampir mirip. Pada penelitian ini suara paru didekomposisi menggunakan metode discrete wavelet transform (DWT) untuk dekomposisi sinyal dan diklasifikasi menggunakan jaringan saraf tiruan (JST) yang dioptimasi oleh algoritma genetika (AG). Suara paru sebagai suara dari sistem pernapasan, kemudian dilakukan normalisasi dan dekomposisi menggunakan DWT. Karakteristik sinyal suara paru diperoleh dengan menghitung entropi pada koefisien DWT. Selanjutnya dilakukan klasifikasi dengan JST dan dioptimasi oleh AG. Berdasarkan solusi tersebut, klasifikasi suara paru-paru dapat diselesaikan dengan akurasi hingga 67,54%. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan tanpa menggunakan AG . Metode yang diusulkan diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif metode dalam analisis suara paru.

6. Gambaran Pengetahuan Lansia Penderita Stroke Berdasarkan Karakteristik Di Puskesmas Sialang Buah Tahun 2021
Indra Hizkia P 1, Tresa Ernika Anglina Sitorus 2
HUMANTECH
JURNAL ILMIAH MULTI DISIPLIN INDONESIA
VOL 2 SPECIAL ISSUE 2 2022
E-ISSN : 2809-1612, P-ISSN : 2809-1620

Stroke merupakan gejala yang terjadi akibat gangguan sirkulasi darah di otak. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke setiap tahun. Stroke merupakan penyakit yang sangat rentan dialami lansia. Tujuan : Untuk mengetahui pengetahuan lansia penderita stroke berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan di puskesmas sialang buah tahun 2021. Metode :menggunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 220 lansia penderita stroke dan jumlah responden sebanyak 69 orang dengan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner gambaran pengetahuan lansia penderita stroke berdasarkan karakteristik. Hasil penelitian :sebagian besar pengetahuan cukup dengan jumlah responden 40 orang (58,0 %). Kesimpulan Pengetahuan lansia penderita stroke berdasarkan karakteristik di Puskesmas Sialang Buah Tahun 2021 adalah sebagian besar adalah cukup, dipengaruhi oleh factor usia dan pendidikan. Disarankan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada lansia tentang penyakit stroke, karena banyak yang memiliki pengetahuan cukup tentang stroke.

7. Pendampingan Lansia dalam Pelayanan Keperawatan Mandiri Dengan Masalah Nyeri Kronik
Syaifurrahman Hidayat1), Mujib Hannan2)
Jurnal Abdiraja ISSN : 2621-9379 (Online) Volume 5, Nomor 1, Maret 2022

Penurunan fungsi biologis dalam proses menua mengakibatkan kerusakan jaringan organ tubuh pada lansia sehingga menyebabkan lansia mudah terkenan penyakit, diantaranya nyeri kronik, Manajemen nyeri pada lansia dengan osteoartristis dimasyarakat Sebagian besar menggunakan obat Pereda nyeri, dan jarang menggunakan terapi non farmakologis, padahal penggunaan manajemen nyeri non farmakologis mempunyai resiko efek samping obat yg lebih kecil. Solusi yang perlu di lakunan yaitu Pendampingan Lansai Dalam Pelayanan Keperawatan Mandiri Dengan Masalah Nyeri Kronik. Metode pelaksanannya dengan melakukan penyuluhan kesehatan pada keluarga lansia, pendampingan penatalaksanaan nyeri kronik secara mandiri, Membatu Menyusun program posyandu lansia tentang penatalaksanaan nyeri kronik dan melakukan pelatihan bagi kader kesehatan lansia. Hasil pelaksanaan pendampingan pada lansia dilakukan dalam empat kegiatan diantaranya penyuluhan kesehatan pada lansia dan keluarga lansia, pendampingan penatalaksanaan nyeri kronik secara mandiri, pengoptimalan program posyandu lansia tentang penatalaksanaan nyeri dan pelatihan bagi kader kesehatan lansia. Pendampingan lansia dalam pelayanan keperawatan mandiri sebagai bagian upaya pengembangan SDM dalam meningkatkan penanganan masalah yang terjadi pada lansia salah satunya nyeri kronik pada lansia yaitu dengan pelayanan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan dirumah, sehingga menjadi bagian dari upaya promotive dan preventif.

8. Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor
1Nelasari Situmeang, 2 Sulindawaty
Riset dan E-Jurnal Manajemen Informatika Komputer Volume 4, Number 1, Oktober 2019
http://doi.org/10.33395/remik.v4i1.10224 e-ISSN : 2541-1330 p-ISSN : 2541-1332

Penyakit saraf pusat adalah sekelompok gangguan neurologis yang memengaruhi struktur atau fungsi otak atau sumsum tulang belakang, yang secara kolektif membentuk sistem saraf pusat. Masyarakat pada umumnya masih banyak merupakan orang awam yang kurang memahami kesehatan saraf, sehingga banyak dari mereka mengabaikan gejala yang dialami dan mungkin merupakan gejala penyakit saraf pusat. Hal ini mungkin dikarenakan mahalnya biaya konsultasi, dan belum lagi dokter yang sulit ditemui karena faktur waktu. Didalam berbagai bidang pemanfaatan teknologi telah berkembang pesat, salah satunya adalah dalam bidang kesehatan, teknologi yang dimaanfaatkan salah satunya adalah sistem pakar. Sistem pakar adalah program komputer yang mempresentasikan dan melakukan penalaran dengan pengetahuan beberapa pakar untuk memecahkan masalah-masalah atau memberikan solusi. Perkembangan teknologi seperti sistem pakar ini tentunya juga didukung oleh metode dalam melakukan diagnosa, seperti Metode Certainty Factor. Untuk membuatkan sistem pakar yang dapat membantu masyarakat dalam konsultasi tentan penyakit saraf pusat yang dialami maka dirancang Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor.

9. Pengaruh Relaksasi Otot Progresif terhadap Insomnia pada Lansia di PSTW Budhi Dharma Bekasi 2014
Lina Indrawati1 , Denny Andriyati2
ISSN Cetak 2303-1433 ISSN Online: 2579-7301

One of the efforts made by the elderly to inprove their welfare is to meet basic needs. One of the basic needs is the need for sleep and rest. However, approximately 60% of elderly people experience insomnia or sleep disorders. Progressive relaxation is a systematic physical relaxation from head until foot which is followed suggestion and visualization to increase relaxed condition and which is used to solve sleep disturbance. The aim of research is analyze the effect of progressive muscle relaxation on insomnia in the elderly at Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma Bekasi 2014. The Methode of research used quasi experinment with one group pre-post test design without control, recruiting samples by purposive sampling, there were 33 respondents. Datas analyze used Paired Samples T-Test. Based on paired samples T-Test with confidence interval 95% (16,142=2,03951;0,000=0,05). That there was a significant effect of progressive muscle relaxation on insomnia in the elderly at Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma Bekasi.

10. UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L). Urb) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans
Fadhillah Azzahra, drg. Maulida Hayati, M.Kes
Jurnal B-Dent, Vol 5, No.1, Juni 2018 : 9 - 19

Karies gigi merupakan penyakit infeksi pada jaringan keras gigi. Streptococcus mutans merupakan bakteri yang berperan penting dalam proses terjadinya karies gigi. Pegagan memiliki banyak manfaat untuk tubuh, diantaranya mengatasi demam, antibakteri, antialergi, dan stimulan sistem saraf pusat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L) Urb.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium secara in vitro, sampel penelitian adalah bakteri Streptococcus mutans yang
diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, dan 80% serta kontrol positif menggunakan klorheksidin. Analisis data menggunakan uji One Way Anova. Hasil penelitian diperoleh nilai fhitung > ftabel yaitu 456,318>2,62 dan p=0,000<0,05. dari penelitian ini didapat bahwa ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L) Urb.) efektif menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi ekstrak 10%,20%,40%,60%, 80%. Simpulan penelitian ini adalah terdapat aktivitas antibakteri ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L). Urb) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.

11. Pengaruh Kebisingan Terhadap Tekanan Darah dan Nadi pada Pekerja Pabrik Kayu PT. Muroco Jember 
Wahyu Ikhwan Nanda Mukhlish1, Yohanes Sudarmanto2, Muhammad Hasan3 
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 17 (2), 2018, 112 - 118 DOI : 10.14710/jkli.17.2.112-118

Latar belakang: Kebisingan merupakan bunyi yang memiliki intensitas di atas batas normal dan dapat mengganggu kesehatan pada orang yang terpapar. Paparan kebisingan terjadi dalam proses produksi pada industri pabrik kayu, sehingga pekerja menjadi pihak utama yang terdampak. Dampak yang terjadi utamanya pada sistem kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebisingan terhadap tekanan darah dan denyut nadi pada pekerja pabrik kayu PT. Muroco Jember. Metode: Penelitian ini berjenis analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Responden penelitian berjumlah 24 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Pengukuran kebisingan menggunakan alat sound level meter. Pengumpulan data karakteristik pekerja menggunakan kuesioner. Responden penelitian diukur sebelum dan setelah bekerja, dengan menggunakan sphygmomanometer air raksa untuk tekanan darah dan penghitungan manual denyut nadi pada arteri brachialis. Analisis data menggunakan uji komparasi paired t-test pada level signifikansi 5%. Hasil: Intensitas kebisingan dari 4 sektor kerja menunjukkan hasil yang beragam. Intensitas kebisingan terendah pada sektor produksi A yaitu 82,9 dB(A), sedangkan tertinggi pada sektor sawmill B yaitu 98,1 dB(A). Sebagian besar responden (66,7%) berusia 29-40 tahun dengan masa kerja responden (62,5%) kurang dari 2 tahun. Sebanyak 91,7% responden tidak memakai APT pada saat bekerja. Berdasarkan uji komparasi paired t-test, didapatkan pengaruh paparan kebisingan akut antara sebelum dan setelah bekerja terhadap tekanan darah sistolik (p= <0,001), diastolik (p=0,049), dan denyut nadi (p=0,020). Simpulan: Terdapat peningkatan yang signifikan terhadap tekanan darah sistolik, diastolik, denyut nadi antara sebelum dan setelah bekerja dalam paparan kebisingan akut pada pekerja pabrik kayu PT. Muroco Jember. Diperlukan penelitian dengan mengendalikan variabel lain yang mengganggu untuk kesempurnaan penelitian selanjutnya.

12. Pengaruh Kekurangan Nutrisi Terhadap Perkembangan Sistem Saraf Anak
Gianfranco S. Papotot,1 Ronald Rompies,2 Praevilia M. Salendu2
pISSN 2085-9481 eISSN 2597-999X Jurnal Biomedik. 2021;13(3):266-273
Terakreditasi Nasional: SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan 
DOI: https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31830
KemenRistekdikti RI no. 28/E/KPT/2019 
Available from:https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/index

Di negara berkembang kekurangan gizi memberikan kontribusi terhadap tingginya rata-rata angka kematian. Usia anak-anak, jarak kelahiran sebelumnya, status pendidikan ibu, status kekayaan, dan wilayah merupakan faktor yang secara independen terkait dengan status gizi anak-anak. Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi perkembangan saraf anak. Pertumbuhan fisik, fungsi kognitif otak, fungsi fisiologis dan perubahan respon imun bisa terganggu karena kurangnya gizi di usia dini. Di negara berkembang anak di bawah 5 tahun memiliki prevalensi sekitar 27% kekurangan gizi. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi pada perkembangan sistem saraf anak. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literatur diambil dari tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu undernutrition AND
neurological disorders AND children. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi dan ekslusi, didapatkan 10 literatur yag terdiri dari sepuluh penelitian cross-sectional study. Hasil penelitian menunjukan 10 literatur meneliti hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi terhadap perkembangan sistem saraf anak. Sebagai simpulan, kekurangan nutrisi dan kelainan sistem saraf pada anak memiliki hubungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Anak yang mengalami kekurangan nutrisi memiliki pengaruh pada perkembangan sistem saraf dan terbanyak pada kelainan motorik dan kognitif.

13. Hubungan antara Gangguan Pola Tidur dengan  Keseimbangan Sistem Saraf Otonom pada Usia Dewasa Muda
Raden Mohamad Fachrur Rozy1 , Nurvita Risdiana1
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
http://journal.umy.ac.id/index.php/mm
Vol 19 No 1 Hal 1-6 Januari 2019

Gangguan pola tidur yang buruk berdampak negatif pada kesehatan yaitu ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Ketidakseimbangan sistem saraf otonom akan berdampak pada rendahnya nilai Heart Rate Variability (HRV). Rendahnya nilai HRV akan berdampak pada mortalitas dan morbiditas. Heart Rate Variability terdiri atas time domain dan frekuensi domain. Standard Deviation of All N-N Intervals
(SDNN) merupakan bagian dari HRV yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi keseimbangan sistem saraf otonom. Usia dewasa muda rentan mengalami gangguan pola tidur, sehingga pada usia tersebut berisiko terjadi ketidakseimbangan SDNN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dengan keseimbangan saraf otonom pada dewasa muda. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimen dengan desain Cross sectional. Uji statistik menggunakan Spearman Rho. Sampel penelitian 31 orang dewasa muda dengan teknik purposive sampling. Data untuk gangguan pola tidur diambil menggunakan kuesioner, sedangkan pengukuran SDNN menggunakan Electrocardiogram (EKG). Didapatkan hasil 64,5% pola tidur pada dewasa muda dalam kategori baik, 35,5% pola tidur mahasiswa dalam kategori cukup, 87,1% mahasiswa memiliki SDNN yang sangat baik dan 9,7% mahasiswa memiliki SDNN tinggi. Hasil uji statistik menggunakan Spearmen Rho diperoleh nilai p= 0,11 (p > 0,05). Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara gangguan pola tidur dengan kesimbangan saraf otonom. 

14. CENTRAL VERTIGO
Sela Pricilia1 , Shahdevi Nandar Kurniawan2
Pricilia S, JPHV 2020;2 DOI: 10.21776/ub.jphv.2021.002.02.4

Central vertigo is a symptom characterized by a feeling of changes in body position or environment as a result of diseases originating from the central nervous system. Central vertigo is caused by a disease that extend from vestibular nuclei in medulla oblongata to ocular motor nuclei and integration system in mesencephalon to vestibulocerebellum, thalamus and vestibular cortex in temporoparietal and the neuronal pathway which mediate VOR (vestibulo-ocular reflex). The diseases can be vestibular migrain, TIA (Transient Ischemic Attack), Vertebrobasilar ischemic stroke, multiple sclerosis, tumor in cerebelopontine angle and congenital malformation like Dandy Walker Syndrome. Central vertigo can be diagnosed by performing several special tests. This examination can also distinguish central vertigo from its differential diagnosis, namely peripheral vertigo. Management of central vertigo can be in the form of acute attack management and specific management according to the cause.

15. Evaluasi Kualitas Hidup Pasien Parkinson Berdasarkan terapi berbasis levodopa
Yasinda Oktariza1,2, Lia Amalia1 , Sobaryati3 , Media Y. Kurniawati4
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, Desember 2019 Tersedia online pada:
Vol. 8 No. 4, hlm 246–255 http://ijcp.or.id
ISSN: 2252–6218 DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.246

Levodopa telah menjadi pilihan utama dalam pengobatan penyakit Parkinson selama lebih dari 40 tahun. Pemberian levodopa sering dikombinasi dengan obat lain untuk meningkatkan bioavailabilitas maupun efektivitasnya. Namun, di sisi lain, penggunaan levodopa dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping berupa komplikasi motorik yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan terapi levodopa dan kombinasi terhadap kualitas hidup serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien Parkinson rawat jalan di Poliklinik Saraf RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, dan RSAU Dr. Salamun Bandung pada periode Juli–Desember 2018. Pengukuran kualitas hidup dilakukan terhadap 33 subjek penelitian yang menerima terapi kombinasi dengan levodopa menggunakan kuesioner The 39-item Parkinson’s Disease Questionnaire (PDQ-39) versi bahasa Indonesia. Analisis dilakukan dengan membandingkan rata-rata skor total PDQ-39 antarkelompok pada masing-masing variabel. Perbandingan nilai skor total PDQ-39 dianalisis dengan uji T tidak berpasangan dan uji one way ANOVA untuk melihat adanya perbedaan skor PDQ-39 antarkelompok variabel. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat perbedaan rata-rata skor total PDQ-39 antarkelompok terapi kombinasi dengan levodopa (p=0,262). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang secara independen berkorelasi dengan kualitas hidup adalah aktivitas olahraga (r=0,233), tingkat keparahan penyakit (r=0,464), dan komplikasi motorik (r=0,329). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup pasien Parkinson tidak dipengaruhi oleh jenis pengobatan, namun dipengaruhi secara independen oleh aktivitas olahraga, tingkat keparahan penyakit, dan komplikasi motorik.

16. FAKTOR FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA KEJADIAN EPILEPSI INTRAKTABEL ANAK DI RSUP DR KARIADI SEMARANG
Nuh Gusta Ady Yolanda1 , Tun Paksi Sareharto 2 , Hermawan Istiadi 3
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 8, Nomor 1, Januari 2019
Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844

Epilepsi adalah salah satu kelainan neurologi kronik yang ditandai dengan gejala khas yaitu kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik neuron otak secara berlebihan dan paroksismal. Salah satu pengobatan epilepsi adalah OAE. Pada keadaan dimana telah mengonsumsi 2 atau lebih jenis OAE secara teratur dan adekuat selama 18 bulan namun tidak menunjukkan penurunan frekuensi dan durasi kejang, hal ini disebut dengan epilepsi intraktabel. Pengetahuan mengenai faktor yang berpengaruh pada kejadian epilepsi intraktabel anak penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan pasien agar lebih komprehensif dan adekuat. Tujuan : Mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi kejadian epilepsi intraktabel pada pasien anak dengan epilepsy Metode : Penelitian observasional analitik dengan desaim cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 38 pasien epilepsi yang menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Bahan penelitian diambil dengan kuesioner oleh orangtua pasien dan rekam medik, data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil : Dari 38 subjek penelitian, angka kejadian epilepsi intraktabel adalah 13 subjek (34,2%). Pada analisis bivariat didapat faktor risiko yang berhubungan adalah etiologi (p=0,017) dan abnormalitas neurologi (p=0,002). Pada analisis multivariat didapatkan faktor abnormalitas neurologi (OR 37,67 IK95% 1,27-1111,04) sebagai faktor risiko yang signifikan. Simpulan : Angka kejadian epilepsi intraktabel anak sebesar 34,2% dan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian epilepsi intraktabel anak adalah abnormalitas neurologi. 

Monday, July 25, 2022

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

 EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep


1. HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KONDISI TEKANAN DARAH PADA LANSIA : LITERATURE REVIEW

Arilla Fikry Hidayat1, Reni Zulfitri2, Gamya Tri Utami3

JMH Jurnal Medika Hutama Vol 03 No 02, Januari 2022 http://jurnalmedikahutama.com

Tujuan: penelitian ini untuk melihat gambaran kualitas tidur, kondisi tekanan darah dan hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah dari artikel yang telah di dapatkan oleh peneliti. Metode: Penelitian ini menggunakan desain literature review. Hasil: Hasil yang didapatkan dari 7 artikel, 4 artikel didapatkan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang buruk dan terjadinya peningkatan tekanan darah pada lansia yang merujuk ke hipertensi, sedangkan 1 artikel didapatkan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang buruk dan lansia yang memiliki tekanan darah hipertensi lebih banyak dibandingkan dengan lansia yang memiliki tekanan darah normal, tetapi tidak terdapatnya hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada artikel ini. 2 artikel lainnya menyimpulkan bahwa durasi tidur pendek atau panjang dan kemungkinan peningkatan hipertensi bervariasi berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur dan tekanan darah sistolik secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang waktu tidurnya sebelum pukul 21:00 dibandingkan dengan yang waktu tidurnya adalah 21:00 atau lebih lambat. Kesimpulan: Sebagian artikel menyatakan ada hubungan kualitas tidur dengan kondisi tekanan darah pada lansia dan 1 artikel menyebutkan bahwa kualitas tidur tidak berpengaruh terhadap tekanan darah pada lansia.

2. Asuhan Keperawatan Keluarga pada Kasus Post Stroke dengan Masalah Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik di Desa Bluluk Kabupaten Lamongan

Endah Sri Wijayanti

Content Available at: http://jurnal.umla.ac.id JURNAL SURYA

Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan

Background : Stroke is brain damage due to blood supply to the brain, often occurs Suddenly within 24 hours without realizing it, such as rupture of blaood vessels in the brain and lack og blood supplay in the brain. Prevalence by sex male 11,0%(10,5-11,5 per mile) 355,726 cases, female sex 10,9(10,4-11,4 per mile) 358,056 cases. The proportion of stroke control to health care facilities in the population aged 15 years with routine Esat Java stroke prevalence 40,0% sometimes 39,5 not re-checking 20,5% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018) Methods: This research method uses a case study. Data were collected by means of interviews, aobservations, and documentation studies. Results: The results of the case study indicate a gap in the assessment of nursing care. Nursing diagnoses according to thew IDHS lead to the main priority, namely Mobility Support (D> 0045), priority nursing actions according to SIKI Mobilization Support (I. 05173), with outcomes according to SLKI Physical moboility (L. 05042), evaluation of the main priority diagnoses, namely mobility disorders partially resolved by home visits for 6 days. Conclusions : Combination of active and passive Range of Movement technique interventions such as doing wrist range of motion exercises consisting of flexion, which is moving the palm of the hand to the inside of theforearm, extension, which is moving the fingers, hand and forearm are in the same one. 

3. PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI MOTORIK BAGI LANSIA DENGAN PENYAKIT PARKINSON: STUDI LITERATUR

Zalfa Kamila Rafifah*, Wulan Sari*, Sitti Noer Shabrrina*, Siti Meira Putri Satriyani Kusuma Ningrum*, Sifa Safira*, Anung Ahadi Pradana*

Volume 12, Nomor 02, November 2021 Hal. 220 - 231 

Journal Ners Community

Penyakit Parkinson (PD) adalah gangguan sistem saraf pusat yang melibatkan neuron dopaminergic dapat mempengaruhi gerakan, sering disertai tremor. Penderita PD yang mayoritas lansia sering mengalami gangguan motorik seperti bradikinesia, hipokinesia, tremor, ketidakstabilan postural dan kekakuan. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui efektivitas teknologi sebagai alat monitor aktivitas saat penderita Parkinson tinggal sendiri dirumah yang bisa dipantau oleh tenaga kesehatan maupun keluarga. Metode yang digunakan yaitu kajian literature dengan pendekatan sederhana terhadap 10 artikel terkait teknologi pemanfaatan teknologi bagi lansia penderita Parkinson dalam periode 2011-2021. Hasil dari study literature adalah teknologi sangat bermanfaat untuk diterapkan bagi lansia dengan penyakit Parkinson. Dari 10 literatur yang ditemukan menyatakan bahwa dengan adanya teknologi dapat mempermudah tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan bagi lansia penderita Parkinson. Teknologi juga bermanfaat pada penderita Parkinson karena mampu melatih kemandirian pasien dengan cara melakukan aktivitas secara mandiri. Diharapkan jumlah jurnal penelitian terkait penggunaan teknologi pada pasien lansia penderita Parkinson diperbanyak agar dapat mempermudah dalam pencarian informasi terpercaya serta sebagai bukti adanya manfaat penggunaan teknologi. 

4. Studi Fenomenologi : Pengalaman Perubahan Fungsi Seksual Pada Klien Dengan Cedera Medula Spinalis

Harun Al Rasid1, Masfuri2, I Made Kariasa3

JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi) Vol. 3 No. 1 (2019)

Volume. 3 Nomor. 1 Periode: Januari – Juni 2019; hal. 16-27

p-ISSN : 2580-1112; e-ISSN : 2655-6669 Copyrighr @2019

Penulis memiliki hak cipta atas artikel ini 

journal homepage: https://ejournal.akperfatmawati.ac.id

Cedera Medula Spinalis (CMS) mengakibatkan deficit neurologis yang mempengaruhi seksualitas. Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan yang kompleks dan oleh sebagian besar klien dianggap tabu (taboo) untukdi diskusikan terutama di Indonesia. Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan seseorang dan oleh sebagian besar klien dianggap tabu (taboo) untuk didiskusikan terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran makna dari pengalaman perubahan fungsi seksual pada klien dengan cedera medulla spinalis. Desain penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada enam partisipan. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan catatan lapangan. Analisa data menggunakan metode Collaizi. Penelitian ini menghasilkan enam buah tema yaitu 1) kesedihan akibat kelemahan/perubahan fisik, 2) perubahan fungsi seksual, 3) respon psikologis terhadap perubahan fungsi seksual, 4) cara mengekspresikan fungsi seksual, 5) harapan untuk memenuhi kebutuhan seksual dan 6) harapan terhadap pelayanan keperawatan di rumah sakit dalam mengatasi masalah kebutuhan seksual. Hasil penelitian diatas dapat dijadikan dasar penelitian lebih lanjut. 

5. Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor

1Nelasari Situmeang, 2 Sulindawaty 

Riset dan E-Jurnal Manajemen Informatika Komputer Volume 4, Number 1, Oktober 2019

http://doi.org/10.33395/remik.v4i1.10224

e-ISSN : 2541-1330 p-ISSN : 2541-1332

Penyakit saraf pusat adalah sekelompok gangguan neurologis yang memengaruhi struktur atau fungsi otak atau sumsum tulang belakang, yang secara kolektif membentuk sistem saraf pusat. Masyarakat pada umumnya masih banyak merupakan orang awam yang kurang memahami kesehatan saraf, sehingga banyak dari mereka mengabaikan gejala yang dialami dan mungkin merupakan gejala penyakit saraf pusat. Hal ini mungkin dikarenakan mahalnya biaya konsultasi, dan belum lagi dokter yang sulit ditemui karena faktur waktu. Didalam berbagai bidang pemanfaatan teknologi telah berkembang pesat, salah satunya adalah dalam bidang kesehatan, teknologi yang dimaanfaatkan salah satunya adalah sistem pakar. Sistem pakar adalah program komputer yang mempresentasikan dan melakukan penalaran dengan pengetahuan beberapa pakar untuk memecahkan masalah-masalah atau memberikan solusi. Perkembangan teknologi seperti sistem pakar ini tentunya juga didukung oleh metode dalam melakukan diagnosa, seperti Metode Certainty Factor. Untuk membuatkan sistem pakar yang dapat membantu masyarakat dalam konsultasi tentan penyakit saraf pusat yang dialami maka dirancang Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor.

6. PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI TERHADAP TINGKAT INSOMNIA LANSIA

Novita Damayanti1 , Titis Hadiati2

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO

Volume 8, Nomor 4, Oktober 2019 Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico

ISSN Online : 2540-8844

Latar Belakang: Semakin bertambahnya usia seorang individu dapat mempengaruh pola pikir yang mengakibatkan individu tersebut mengalami gangguan tidur/ insomnia. Insomnia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada orang-orang dengan usia lanjut (lansia). Terapi untuk mengatasi insomnia pada lansia terdiri dari terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat insomnia adalah dengan menggunakan aromaterapi. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi terhadap tingkat insomnia pada lansia. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan pre and post test without control. Sampel berjumlah 30 orang lansia yang berada di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading, Semarang. Pengukuran tingkat insomnia diukur menggunakan kuesioner KSPBJ-IRS. Data dianalisis dengan menggunakan program komputer. Hasil: Pada penelitian di dapatkan perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah penelitian yaitu p=0,001. Kesimpulan: Terapi non farmakologi aromaterapi dapat digunakan untuk menurunkan derajat insomnia pada lansia. 

7. Pengaruh Kekurangan Nutrisi Terhadap Perkembangan Sistem Saraf Anak

Gianfranco S. Papotot,1 Ronald Rompies,2 Praevilia M. Salendu2

pISSN 2085-9481 eISSN 2597-999X Jurnal Biomedik. 2021;13(3):266-273

Terakreditasi Nasional: SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan 

DOI: https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31830

KemenRistekdikti RI no. 28/E/KPT/2019 

Available from:https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/index

Di negara berkembang kekurangan gizi memberikan kontribusi terhadap tingginya rata-rata angka kematian. Usia anak-anak, jarak kelahiran sebelumnya, status pendidikan ibu, status kekayaan, dan wilayah merupakan faktor yang secara independen terkait dengan status gizi anak-anak. Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi perkembangan saraf anak. Pertumbuhan fisik, fungsi kognitif otak, fungsi fisiologis dan perubahan respon imun bisa terganggu karena kurangnya gizi di usia dini. Di negara berkembang anak di bawah 5 tahun memiliki prevalensi sekitar 27% kekurangan gizi. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi pada perkembangan sistem saraf anak. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literatur diambil dari tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu undernutrition AND neurological disorders AND children. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi dan ekslusi, didapatkan 10 literatur yag terdiri dari sepuluh penelitian cross-sectional study. Hasil penelitian menunjukan 10 literatur meneliti hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi terhadap perkembangan sistem saraf anak. Sebagai simpulan, kekurangan nutrisi dan kelainan sistem saraf pada anak memiliki hubungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Anak yang mengalami kekurangan nutrisi memiliki pengaruh pada perkembangan sistem saraf dan terbanyak pada kelainan motorik dan kognitif.

8. MENGATASI INSOMNIA DENGAN TERAPI RELAKSASI

Setiyo Purwanto

Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. I, NO. 2, DESEMBER 2008, Hal 141-148

Sleep disturbance frequently experienced insomnia is a sleep disorder that has features difficult start to sleep, woke up in the middle of the night and wake up with a condition that is not fresh. The cause of insomnia is associated with psychological disorders, biological or environmental factors. One therapy to cope with sleep disorders are insomnia with relaxation. basic principles of relaxation is relaxation of the muscles of the body, during sleep the mind and muscles to stimulate each other. Relaxation of muscles relax causing reduced cortical activity in the cortex would allow the muscles more relaxed. Once the stimulation of the mind down so someone will feel drowsy and fell asleep.

9. Penerapan Metode Certainty Factor Pada Diagnosa Penyakit Saraf Tulang Belakang

Adi Sucipto1 , Yusra Fernando2 , Rohmat Indra Borman3 , Nisa Mahmuda4

JURNAL ILMIAH FIFO P-ISSN 2085-4315 / E-ISSN 2502-8332

Dalam menganalisa sebuah informasi dimungkinkan seorang pakar mengungkapkan informasi berupa pernyataan yang tidak pasti seperti mungkin, kemungkinan besar dan hampir pasti. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengatasi ketidak pastian adalah metode certainty factor. Certainty factor merupakan metode yang mendefinisikan ukuran kepastian terhadap fakta atau aturan untuk menggambarkan keyakinan seorang pakar terhadap masalah yang sedang dihadapi. Untuk membantu dan mempermudah masyarakat dalam mendiagnosa penyakit saraf tulang belakang dapat menerapkan metode certainty factor pada sistem pakar. Saraf bagian tulang belakang merupakan organ yang penting bagi manusia. Terbatas dan tidak meratanya dokter spesialis saraf tulang belakang di Indonesia mengakibatkan masyarakat kesulitan dalam mendiagnosa penyakit tersebut. Sistem pakar dapat membantu untuk diagnosa penyakit, dimana sistem ini untuk merekonstruksi keahlian dan penalaran kemampuan seorang pakar. Pada penelitian ini, certainty factor diimplementasikan pada aplikasi diagnosa penyakit saraf tulang belakang. Sistem diujicobakan pada sejumlah masukan, hasil pengujian didapatkan memberikan hasil sesuai dengan perhitungan manual. Hasil pengujian dengan uji coba pada sejumlah masukan yang dilakukan didapatkan bahwa pengujian memberikan hasil sesuai dengan perhitungan manual. Sedangkan pengujian akurasi kesesuaian dari data testing yang didapatkan oleh pakar dengan output sistempakar didapatkan hasil output yang sesuai sebanyak sebesar 90%.

10. KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2016

Izzati Shoba Maryam , Ida Ayu Sri Wijayanti , Kumara Tini 2

Callosum Neurology Journal, Volume 1, Nomor 3: 91-96, 2018

ISSN 2614-0276 | E-ISSN 2614-0284

Latar Belakang: Jumlah kasus epilepsi di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 8,2 per 1.000 penduduk dan insiden 50 per 100.000 penduduk. Tujuan: Mengetahui karakteristik klinis pasien epilepsi di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah periode bulan Januari hingga Desember 2016. Metode Penelitian: Penelitian deskriptif observasional menggunakan data rekam medis pasien epilepsi yang berobat di Poliklinik Saraf RSUP Sanglah bulan Januari hingga Desember 2016. Hasil: Sebanyak 70 pasien epilepsi memiliki rerata usia 35 tahun dengan laki-laki sebanyak 55,7%. Rerata usia awitan bangkitan 29 tahun. Profil terapi sebanyak 77,1% pasien menggunakan monoterapi dan 72,9% berobat kurang dari dua tahun. Fenitoin merupakan obat antiepilepsi (OAE) utama dalam monoterapi maupun sebagai kombinasi dengan OAE lain. Simpulan: Kasus epilepsi didominasi oleh pasien laki- laki dengan rerata usia 35 tahun dengan awitan bangkitan pada dekade kedua. Bangkitan umum merupakan gejala paling banyak ditemukan dengan fenitoin sebagai OAE utama.

11. IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT GANGGUAN SARAF ISKEMIK PADA MANUSIAMENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Darjat Saripurna1, Nurcahyo Budi Nugroho2, Faisal Taufik3, Elfitriani4, Widiarti Rista Maya5

Journal of Science and Social Research ISSN 2615 – 4307 (Print)

Feb 2022, V (1): 143 – 150 ISSN 2615 – 3262 (Online)

Available online at http://jurnal.goretanpena.com/index.php/JSSR

Gangguan saraf iskemik merupakan salah satu penyakit saraf yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke otak sehingga kebutuhan darah didalam otak tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat disebabkan beberapa penyakit komplikasi diantara nya hipertensi. Secara umum gangguan saraf iskemik ini dapat berisifat ringan, sedang dan akut. Kurangnya informasi tentang penyebab dan gejala terkait penyakit ini membuat masyarakat sulit melakukan pencegahan serta lambatnya proses penanganan penyakit gangguan saraf iskemik membuat angka kematian terhadap penyakit ini semakin meningkan. Melihat situasi yang terjadi maka dirancang sebuah Sistem Pakar yang mampu menerapkan metode Certainty Factor untuk mendiagnosa jenis penyakit gangguan saraf iskemik berdasarkan gejala-gejala klinis yang dirasakan oleh pasien, proses penerapan nya dengan terlebih dahulu mengumpulkan basis pengetahuan, kemudiann melakukan penelusurah inferensi Forward Chaining terhadap rule-rule yang ada dan selanjutnya melakukan proses perhitungan metode Certainty Factor untuk mengetahui nilai probabilitas dan jenis penyakit Gangguan Saraf Iskemik. Dengan adanya Sistem Pakar ini diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat maupun dokter untuk berinteraksi dan dalam pengambil kesimpulan penyakit gangguan saraf iskemik dan sebagai diagnosa awal.

12. ALZHEIMER DAN GEJALA SISTEM SARAF (NEUROLOGIS) AKIBAT PESTISIDA

Sulistyani Prabu Aji*1, Sapja Anantanyu2

Public Health and Safety International Journal April 2022 | Vol. 2 | No. 1

E-ISSN : 2715-5854 DOI: 10.55642

Alzheimer merupakan suatu jenis disease neurodegeneratif ditandai dengan munculnya suatu penurunan fungsi kognitif, fungsi ingat menurun, dan sindrom demensia. Jumlah penderita penyakit Alzheimer akan terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai 1.894.000 kasus pada tahun 2030 dan berlanjut hingga 3.980.000 kasus di tahun 2050. Jenis penulisan metode pada artikel ini berupa tinjauan naratif. Hasil dan output dari penulisan ini yaitu data dan output dari sumber referensi-referensi di berbagai database. Selanjutnya akan dilakukan analisis dan disintesis secara deskriptif agar dapat memudahkan pembaca artikel ini.

EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

 EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep



1. The Effectiveness of Lavender Aromatherapy on Blood Pressure among Elderly with Essential Hypertension

Dwi Yunita Rahmadhani*

The Journal of Palembang Nursing Studies https://jpns-journal.com/index.php/jpns

Background: Hypertension is a condition in which the systolic blood pressure is more than 120 mmHg, and the diastolic pressure is more than 80 mmHg. Lavender aromatherapy is a way to cure sickness which uses essential oil. Purpose: The purpose of this study is to analyse the effect of lavender aromatherapy on the changes in blood pressure in the Elderly with essential hypertension Methods: This study used a pra-experiment pretest and posttest design where the measurement of blood pressure is done twice before the lavender aromatherapy is given (pretest) and after the lavender aromatherapy is given (posttest). The population of this study is the patients with essential hypertension in the work area of one of the Public Health Centers in Jambi, Indonesia in 2018 which is 627 patients. Meanwhile, the sample used in this study is Purposive Sampling. The method used in this study is univariate and bivariate data analysis using T-Test. Results: Statistical test result shows that there was a significant effect of giving lavender aromatherapy on changes in blood pressure of patients with essential hypertension with p < 0.05; systole (p = 0.001) and diastole (p < 0.001). Conclusions: The use of alternative lavender aromatherapy as a therapy used to lower blood pressure in patients with essential hypertension. It is suggested to researchers who are interested to examine this topic of the effect of lavender aromatherapy on blood pressure in patients with essential hypertension to do further research in the same scope with a different variable.

2. MINI-MENTAL STATE EXAMINATION UNTUK MENGKAJI FUNGSI KOGNITIF LANSIA

Dafinta Widia Komala1 , Dwi Novitasari2* , Rosi Kurnia Sugiharti3 , Sidik Awaludin4

Jurnal Keperawatan Malang Volume 6, No. 2, Desember 2021 Available Online at https://jurnal.stikespantiwaluya.ac.id/

Latar belakang: Seiring bertambahnya usia akan menyebabkan penurunan fungsi sistem tubuh, salah satunya penurunan fungsi kognitif. Terganggunya fungsi kognitif pada lansia dapat berupa gangguan berbahasa, kehilangan memori jangka pendek maupun panjang, juga disorientasi waktu dan tempat. Berdasarkan hasil pra survei yang dilakukan di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang didapatkan bahwa jumlah lansia sebanyak 35 lansia dan sebanyak 18 lansia menderita demensia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif berdasarkan karakteristik rentang usia dan jenis kelamin lansia di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang menggunakan instrument Mini Mental State Examination. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Terdapat 33 lansia sebagai responden. Analisa data menggunakan uji deskriptif statistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan fungsi kognitif pada lansia di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang rentang usia 75-90 tahun sebagian besar mengalami penurunan fungsi kognitif sedang yaitu sebanyak 15 (45,5%) lansia. Responden berjenis kelamin perempuan memiliki fungsi kognitif sedang sebanyak 12 (36,4%) lansia. Proses menua akan menyebabkan perubahan komposisi di system persyarafan khususnya di otak, dimana terjadi degenerasi neuron dan oligodendrosit yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kognitif pada lansia. Kesimpulan: Penurunan fungsi kognitif lansia menyebabkan lansia tergantung pada orang lain. Caregivertermasuk perawat perlu mengkaji penurunan kognitif lansia menggunakan MMSE agar lansia segera mendapat penanganan yang tepat dan membantu pemenuhan kebutuhannya.

3. HUBUNGAN PELAKSANAAN RANGE OF MOTION DENGAN RISIKO DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE

Insana Maria

Jurnal Keperawatan Suaka Insan | Volume 5 Edisi I, Juni 2020

Latar Belakang : Stroke merupakan pembunuh nomor 3 setelah penyakit jantung dan kanker, stroke biasanya ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak pada salah satu sisi anggota tubuh, penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita stroke salah satunya yaitu Range Of Motion. Terapi Range Of Motion merupakan salah satu terapi yang membantu memulihkan keadaan penderita stroke yang mengalami kelumpuhan, serta dilakukannya Range Of Motion agar tidak terjadinya risiko dekubitus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pelaksanaan Range Of Motion dengan Risiko Dekubitus Pada Pasien Stroke. Metode : Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain penelitian korelasi, penelitian dilaksanakan di Ruang Saraf Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura jumlah populasi pasien stroke sebanyak 168 orang dan sampel sebanyak 118 orang dengan teknik sampling Consecutive Sampling, Instrumen berupa kuesioner dan teknik analisis data menggunakan uji Spearman’s. Hasil : Hasil dari penelitian ini dengan menggunakan uji Spearman’s diperoleh nilai p = 0,000 yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada hubungan antara pelaksanaan range of motion dengan risiko dekubitus pada pasien stroke di ruang saraf RSUD Ratu Zalecha Martapura. Kesimpulan: ada hubungan (significant) antara pelaksanaan range of motion dengan risiko dekubitus pada pasien stroke di ruang saraf RSUD Ratu Zalecha Martapura 2018 dan diharapkan penelitian ini mengoptimalkan latihan rentang gerak pada pasien stroke, karena dengan melaksanakan Range Of Motion dengan baik maka pasien dapat bergerak secara aktif maupun pasif agar terhindar dari risiko dekubitus.

4. Hubungan Activity Of Daily Living (ADL) Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia

Rita Damayanti 1, Erna Irawan 2, Mery Tania 3, Rita Rahmawati 4, Umi Khasanah 5

Jurnal Keperawatan BSI, Vol. 8 No. 2 September 2020

Laju perkembangan penduduk dunia termasuk Indonesia saat ini sedang menuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah serta proporsi penduduk lansia. Proses penuaan yang dialami lansia tidak hanya berpengaruh terhadap segi kehidupan tetapi juga akan diikuti dengan kemunduran fisik dan juga mental. Kemunduran tersebut dapat berdampak pada terjadinya depresi pada lanjut usia. Depresi merupakan masalah mental yang paling banyak ditemui pada lansia dengan prevalensi depresi pada lansia didunia sekitar 8 - 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan activity of daily living (ADL) dengan tingkat depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dan termasuk dalam penelitian korelasional dengan rancangan Cross Sectional. Teknik sampel yang digunakan adalah teknik Non Probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berjumlah 60 lansia. Pengumpulan data dengan kuesioner barthel index untuk mengukur kemampuan ADL lansia yang masih dapat dilakukan dan geriatric depression scale (GDS) untuk mengukur tingkat depresi pada lansia. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji Rank Spearman. Analisis bivariat menggambarkan bahwa tingkat activity of daily living lansia mandiri (56,7%), tingkat depresi lansia yang tidak mengalami depresi (43,3%). Uji statistik menunjukkan ada hubungan activity of daily living dengan tingkat depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung dengan nilai p-value (0,000) <0,05 Ha diterima searah dengan tingkat korelasi cukup sedang (0,442). Ada hubungan activity of daily living dengan tingkat depresi di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung, diharapkan pihak panti dapat mempertahankan activity of daily living (ADL) agar tingkat depresi pada lansia tidak meningkat.

5. PENGARUH PEMBERIAN SENAM KEGEL UNTUK MENURUNKAN DERAJAT INKONTINENSIA URIN PADA LANSIA Nova Relida Samosir, SST.FT., M.Fis 1) Yulia Tetra Ilona 2)

Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF) Volume 2 nomor 01, Februari 2019

Latar Belakang. Inkontinensia urin oleh international continence society (ICS) mendefinisikan sebagai suatu kondisi dimana keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan yang menjadi masalah sosial atau hegienis pada lansia dan dapat dibuktikan secara objektif. Tujuan. Penelitian ini ditujukan kepada pasien kondisi inkontinensia urin untuk meningkatkan otot dasar panggul. Intervensi fisioterapi yang dapat diberikan pada penderita inkontinensia urin dalam mengatasi penurunan fungsi pada otot dasar panggul dapat dilakukan dengan berbagai tindakan diantaranya dengan pemberian teknik senam kegel. Metode Penelitian. Penelitian yang dilakukan merupakan case study dengan desain penelitian pre and post test. Hasil. Hasil penelitian pada sampel I didapat perubahan perbaikan peningkatan otot dasar panggul digambarkan dengan perubahan skala RUIS pada T0 nilai skor 15 dan pada T12 didapatkan skor 10. Pada sampel II didapat perubahan perbaikan pada T0 nilai skor 13 dan pada T12 didapatkan skor 10. Kemudian pada sampel III didapat perubahan perbaikan. Pada T0 nilai skor 15 dan pada T12 didapatkan skor 9.

6. PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KEKUATAN OTOT DAN KUALITAS TIDUR LANJUT USIA

Abdul Muhith1) , Teguh Herlambang2), Atika Fatmawati3), Dyah Siwi Hety4), I Wayan Surya Merta5)

Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .8, No.2, 2020, hal 306-314 Tersedia online di https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care ISSN 2527-8487 (online) ISSN 2089-4503 (cetak)

Perubahan aspek fisiologis pada lansia dapat menyebabkan adanya perubahan pada sistem persarafan yaitu gangguan terhadap kualitas tidur sedangkan perubahan pada sistem muskuloskeletal yaitu terjadinya penurunan kekuatan otot. Terapi Relaksasi Otot Progresif merupakan terapi yang dapat meningkatkan kualitas tidur dan kekuatan otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kekuatan otot dan kualitas tidur lanjut usia.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasy experiment design dengan rancangan pretest and posttest nonequivalent control group. Populasi dalam penelitian ini semua lanjut usia sebanyak 40 lanjut usia. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling yang kemudian dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 20 responden dan kelompokkontrol sebanyak 20 responden.Alatukur yang digunakanadalahkuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Indeks) untuk kualitas tidur dan lembar observasi MMT (Manual Muscle Testing) untuk kekuatan otot. Data dianalisis menggunakan uji Paired T-test dan uji Independent T-test. Berdasarkan uji Paired T-test didapatkan hasil p value = 0,000 (p<0,05) untuk kekuatan otot dan p value = 0,000 (p<0,05) untuk kualitas tidur yang menunjukan adanya perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada uji Independent T-test diperoleh hasil p value = 0,000 (p<0,05)yang menunjukan ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kekuatan otot dan kualitas tidur lanjut usia. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu metode alternatif bagi lanjut usia untuk meningkatkan kekuatan otot dan kualitas tidur, sehingga perawat yang bekerja di tatanan pelayanan khusus lansia mengintegrasikan terapi ini ke dalam asuhan keperawatan.


EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

 EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep



1. Efektifitas Senam Terhadap Sensitivitas Kaki Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Wilayah Kerja Puskesmas Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang. 

Candra Nur1, Hasrul2*, Muhammad Tahir3

Jurnal Inonasi Pengabdian Masyarakat, 01 (1), 2021, 1-7. 

https://stikesmu-sidrap.e-journal.id/JIPengMas

Senam kaki merupakan latihan yang dilakukan untuk melancarkan peredaran darah, memperkuat otot kecil dan mecegah terjadinya luka pada kaki. Senam kaki diabetes dapat digunakan sebagai latihan kaki, hal tersebut dipercaya untuk mengelola pasien yang mengalami Diabetes Mellitus, sehingga pasien Diabetes Mellitus yang telah melakukan latihan kaki merasa nyaman, mengurangi nyeri, mengurangi kerusakan saraf dan mengontrol gula darah serta meningkatkan sirkulasi darah pada kaki serta memperbaiki gejala-gejala neuropati perifer seperti kesemutan dan kebas. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa yang didampingi oleh dosen. Senam kaki diberikan sebanyak 3x dalam seminggu yang dilakukan selama 4 minggu. Adapun cara mengevaluasi sensitivitas kaki sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan lembar observasi. Metode pelaksanaan yaitu dengan cara memberikan perlakuan pada kelompok intervensi dengan teknik senam kaki. Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa senam kaki efektif meningkatkan sensitivitas kaki pada pasien diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang.

2.  Gambaran kebiasan merokok dengan gejala kesemutan di jari-jari ekstremitas pada masyarakat Jabodetabek

Yesisca1, Sari Mariyati Dewi Nataprawira2,*

Tarumanagara Medical Journal Vol. 3, No. 2, 414-423, April 2021

Merokok adalah salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Tingginya jumlah perokok terutama di Jakarta dan sekitarnya dapat menyebabkan meningkatnya angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah di daerah tersebut. Pada rokok terdapat zat yang dapat menyebabkan terjadinya penebalan dan kekakuan dinding pembuluh darah atau yang disebut arteriosklerosis. Bila kondisi ini berlanjut dan didukung dengan proses metabolik yang tidak baik maka dapat memicu terjadinya atherosklerosis dan penyumbat pembuluh darah. Kesemutan atau kebas yang terjadi pada jari-jari tangan atau kaki, merupakan gejala awal terjadinya atherosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok (lama dan jumlah) dan adanya gejala kesemutan atau kebas pada jari tangan dan atau kaki. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif cross-sectional dan consecutive non-random sampling dalam merekrut responden. Data dari 60 responden dengan rentang usia 18-69 tahun, dikumpulkan menggunakan google form. Gejala kesemutan mayoritas didapatkan pada kelompok dengan riwayat merokok lebih dari 20 tahun dengan jumlah rokok termasuk dalam kategorik sedang. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin banyak dan lamanya riwayat merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah yang ditandai dengan munculnya gejala kesemutan atau kebas.

3. HUBUNGAN USIA, JENIS KELAMIN DAN LAMA MENDERITA DIABETES DENGAN KEJADIAN NEUROPATI PERIFER DIABETIK

Mildawati, Noor Diani, Abdurrahman Wahid

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing ISSN : 2580-0078 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2019) 

Diabetes melitus terus-menerus mengalami peningkatan jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi. Komplikasi yang paling sering yaitu neuropati yang menyebabkan kesemutan, nyeri, mati rasa, atau kelemahan pada kaki dan tangan yang dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin dan lama menderita diabetes.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia,cjenis kelamin,cdanclama menderitacdiabetes denganckejadian neuropaticperifer diabetik.uPenelitian korelasional menggunakan pendekatan cross sectional, pengambilan sampel menggunakan teknik convinience sampling berjumlah 83 orang. Instrumen yang digunakan yaitu kuesionercMichigan NeuropathycScreening Instrumentc(MNSI). Analisis data menggunakan chi-square. Hasil penelitian terdapatchubungan antarafusia denganfkejadian neuropatiiperiferfdiabeticf(p value 0,001, α=0,05). Adaihubungan antaraijenis1kelamin1dengan1kejadian neuropati1perifer1diabetik1(p value 0,043, α=0,05) dan Ada hubungan antara lama menderita diabetes dengan kejadian neuropati perifer diabetic (p value 0,001 α=0,05). Disarankan penderita diabetes melakukan deteksi dini dalam pencegahan terjadinya komplikasi neuropati sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Carpal Tunnel Syndrome pada Pengendara Ojek

Fanny S. Farhan*, Aisyah A. Kamrasyid*

Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr.Soetomo Vol.4 No.2 Oktober2018 : 84-97

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah masalah kesehatan yang diakibatkan oleh penekanan atau terjepitnya saraf medianus yang melewati terowongan karpal pada ekstremitas atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keluhan tersebut pada pengendara ojek di Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Responden adalah seluruh tukang ojek yang ditemuin selama kurun waktu penelitian di Kecamatan Kramat Jati berjumlah 96 orang. Instrument penelitian berupa kuesioner dan pemeriksaan tinnel test pada araf medianus. Berdasarkan analisis chi square, terdapat hubungan bermakna antara postur pergelangan tangan dengan keluhan CTS (p<0.05), faktor usia dengan keluhan CTS (p<0.05) dan indeks massa tubuh dengan keluhan CTS (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui tukang ojek yang mengalami keluhan Carpal Tunnel Syndrome sebanyak 72 responden (75%). Faktor yang dominan menyebabkan timbulnya keluhan CTS adalah postur pergelangan tangan, faktor usia dan indeks massa tubuh. 

5. ANALISIS EFEK SENAM KAKI TERHADAP SENSITIFITAS KAKI PADA PASIEN DIABETES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ALAI PADANG

Putri Dafriani1, Siti Aisyah Nur 2, Meldafia Idaman3 ,Welly Martawati4

Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 10 Nomor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

Neuropati atau gangguan neurologis disebabkan oleh hiperglikemia.Ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf perifer.Itu membuat pasien diabetes tidak bisa merasakan panas, sakit dan kesemutan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan kaki terhadap sensitivitas kaki pada pasien diabetes di Puskesmas Alai Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah quasi-eksperimental, one postest postest group. Sampel adalah 16 pasien diabetes di Puskesmas Alai. Data diproses dengan komputerisasi dengan analisis univariat menggunakan statistik deskriptif dan analisis bivariat dengan menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil analisis univariat menunjukkan sensitivitas kaki rata-rata sebelum latihan kaki 1,56 dan setelah itu 2,44. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh dengan p = 0,000 (p≤0,05). Berdasarkan hasil, penelitian ini membuktikan efek latihan kaki pada pasien diabetes.Disarankan untuk memfasilitasi latihan kaki pada pasien diabetes oleh perawat di Puskesmas Alai.

6. HUBUNGAN DURASI, FREKUENSI, GERAKAN REPETITIF DAN POSTUR PERGELANGAN TANGAN DENGAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA VIOLINIS CHAMBERSTRING ORKESTRA

Fadhila Agung Farahdhiya1*, Siswi Jayanti2, Ekawati2

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal) Volume 8, Nomor 5, September 2020

ISSN: 2715-5617 / e-ISSN: 2356-3346 http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is symptomatic compression neuropathy of the median nerve at the level of the wrist, which characterized by pain, tingling and numbess in the distribution of the median nerve (thumb, index finger, middle finger and the radial side of the ring finger). The violinist position demands rotation of the neck and shoulders, removal of both arms and maximum supination of the left arm which can caused inflammation of the muscles in the shoulders, arms and wrists at risk of Carpal Tunnel Syndrome (CTS). The purpose of this research was to analyze the association between duration, frequency, repetitive motion and wrist posture with Carpal Tunnel Syndrome on Chamberstring Orchestra Violinist. This research was a quantitative research with cross sectional study approach. This research using Phalen’s Test and Tinel’s Sign to find out incidence of Carpal Tunnel Syndrome (CTS), BCTQ Questionnaires Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire) to describe subjective symptoms, and Rapid Upper Limb Assessment (RULA) to measure wrist posture. The population and sample in this research were 15 violinist. Based on statistical tests using Fisher Exact, there was an association between repetitive motion in the right (p value = 0,009) and left (p value = 0,011) hand with Carpal Tunnel Syndrome (CTS). While normal duration (p value = 0,505), worked from home duration (p value = 1,000), normal frequency (p value = 0,229), worked from home frequency (p value = 0,081), right hand wrist posture (p value = 0,229) and left hand wrist posture (p value = 1,000) had no association with Carpal Tunnel Syndrome (CTS). The violinists should stretch the wrists before and after playing also improve the violin playing technique.

7. GAMBARAN KELUHAN (CARPAL TUNNEL SYNDROME) PADA KARYAWAN URUSAN PELAYANAN MEDIS RUMAH SAKIT ROBERT WOLTER MONGISIDI MANADO

Revanly S. Kaligis*, Paul A.T. Kawatu*, Fima L.F.G. Langi*

Jurnal KESMAS, Vol. 9, No 7, Desember 2020

Keluhan musculoskeletal merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang paling umum diderita oleh pekerja. Salah satu jenis Musculoskeletal disorder adalah gangguan pergelangan tangan. Gangguan pergelangan tangan merupakan gangguan umum yang berhubungan dengan pekerjaan yang disebabkan gerakan berulang dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran gangguan pergelangan tangan secara umum berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan oleh karyawan Uryanmed di Rumah Robert Wolter Mongisidi Manado. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperlukan gambaran bahwa gejala/keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan yang paling banyak dialami responden yaitu rasa kesemutan dan mati rasa yang tidak hilang setelah menggerak-gerakan tangan (90.6%). Keluhan subjektif yang paling sedikit dialami responden ialah parastesia/kesemutan, rasa sakit dan mati rasa (6.3%). Disampung itu, karyawan urusan pelayanan medis di Rumah Sakit Robert Wolter Monginsidi Manado yang memiliki masa kerja < 10 tahun lebih banyak mengalami keluhan subjektif gangguan pergelangan tangan daripada karyawan yang memiliki masa kerja ≥10 tahun. Karyawan yang memiliki jam kerja ≥7 jam/hari lebih banyak mengalami gangguan pergelangan tangan berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan, dibandingkan dengan karyawan yang memiliki jam kerja yang sama namun tidak mengalami keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan. Bagi pekerja yang mengalami keluhan gangguan pergelangan tangan sebaiknya mempunyai inisiatif untuk memeriksakan keluhan di Poli rumah sakit agar keluhan mereka segera ditindak-lanjuti.

8. UPAYA PENCEGAHAN RESIKO PENURUNAN PERFUSI JARINGAN PERIFER MELALUI PIJAT REFLEKSI KAKI PADA ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI 

Dela Goesalosna1, Yuli Widyastuti2, M. Hafiddudin3

PROFESI (Profesi Islam) Media Publikasi Penelitian; 2019 Vol. 15.01 

Website:ejournal.stikespku.ac.id

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 10 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada hipertensi terjadi vasokontriksi dan gangguan sirkulasi kemudian masuk dalam otak dan di dalam otak terjadi peningkatan pembuluh darah. Peningkatan resistensi perifer dan volume darah merupakan dua penyebab utama terjadinya hipertensi. Hal ini terjadi akibat penurunan elastisitas pembuluh darah yang kemudian berdampak pada perfusi atau suplai darah ke jaringan atau organ tubuh. Salah satu tindakan keperawatan yang dilakukan untuik mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yaitu dengan melatih pijat refleksi kaki yang bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah didalam tubuh, mengurangi rasa sakit dan kelelahan, dan mencegah berbagai penyakit. Rangsangan pijat refleksi pada kaki akan memancarkan gelombang-gelombang relaksasi ke seluruh tubuh. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh penulis di RS PKU Muhammadiyah Delanggu pada bulan April 2019 didapatkan pasien hipertensi. Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada Ny I, Ny S, dan Tn T dengan tindakan pijat refleksi kaki untuk mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan perifer. Rencana studi kasus yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional dengan proses asuhan keperawatan. Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari masalah ketidakefektifan perfusi jaringan perifer klien teratasi yang ditandai dengan ketiga pasien mampu mengungkapkan rasa nyaman di kaki, pegal-pegal berkurang, kesemutan tidak ada. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan kasus ini antara lain: Alat tulis, Format asuhan keperawatan, Buku panduan asuhan keperawatan NANDA NIC-NOC, Alat cek kadar gula darah, Lembar observasi pemijatan refleksi kaki, Jadwal studi kasus, Nursing kit, Media : Leaflet, Lembar balik, SOP cara pijat refleksi kaki. 

9. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBUTUHAN ASUPAN VITAMIN B12 PENDERITA DMT2 YANG MENGKONSUMSI METFORMIN

Islah Wahyuni1* , Busyra Hanim2

Jurnal Kesehatan Medika Saintika 

Volume 11 nomor 2 (Desember 2020) | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id

DOI: http://dx.doi.org/10.30633/jkms.v11i1.619

Jurnal Kesehatan Medika Saintika Desember 2020 |Vol 11 Nomor 2

e-ISSN : 2540-961 p-ISSN : 2087-8508

Diabetes dikenal sebagai Silent Killer, merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2013-2018 diketahui adanya peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus pada usia >15 tahun, dan pada tahun 2020 penderita diabetes diestimasikan terus meningkat di Indonesia. Metformin adalah salah satu obat antidiabetik yang paling banyak digunakan, hampir semua pedoman diseluruh dunia merekomendasikan metformin sebagai pengobatan lini pertama untuk pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2. Penggunaan metformin yang lama, dosis yang tinggi akan berdampak pada penurunan kadar vitamin B12 didalam darah dan akan mengakibatkan terjadinya keluhan seperti anemia, neuropati, kram kesemutan, mudah lelah, capek dan lain-lain. Tujuan penelitian mengidentifikasi Faktor yang memmpengaruhi kebutuhan Asupan Vitamin B12 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Sampel penelitian 100 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 pada 20 Mei – 29 Juli 2020. Hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan Umur dengan asupan vitamin B12 p value (0,078), tidak ada hubungan Jenis Kelamin dengan asupan vitamin B12 p value (0,796), tidak ada hubungan IMT dengan asupan vitamin B12 p value (0,867), Ada hubungan Lama Penggunaan metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,048), Ada hubungan Dosis Metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,047). Diharapkan Penderita DMT2 selalu meningkatkan dan menjaga asupan vitamin B12.

10. HUBUNGAN PAPARAN PESTISIDA DENGAN KEJADIAN GANGGUAN KEPEKAAN KULIT PADA PETANI DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN NGABLAK KABUPAEN MAGELANG

Tasya Hamidah, Sulistiyani, Suhartono

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 6, Nomor 6, Oktober 2018 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

The existence of pesticides is now very important for farmers because pesticides are easy to use and have high killing power against pests. However, if used excessively can endanger the health of farmers, one of which is to experience a sense of sensitivity to the threshold of the skin. The occurrence of pesticide contamination through the skin is the most common contamination. The results of a preliminary study showed that 5 out of 10 farmers experienced complaints of tingling, itching and numbness. The purpose of this study was to describe and analyze the factors associated with skin sensitivity disorders on farmers in Sumberejo Village, Ngablak Sub-District Magelang District. This type of study was analytic observational with cross sectional approach. Population in this study were 110 farmers. The sample of this study was taken by purposive sampling and the sample size were 43 farmers. Chi Square test results showed that the variabel working period (p value = 0.029), the use of PPE (p = 0.04), and personal hygiene (p value = 0.001) associated with skin sensitivity disorders in farmers. While the variabel working duration (p value = 0.410), number of types of pesticides (p = 0.274), and spraying frequency (p value = 0,453) were not associated with skin sensitivity disorders. There were 24 farmers who skin sensitivity disorder. The conclusion of this study is that the working period, PPE, personal hygiene, and cholinesterase are factors related to skin sensitivity disorders that need to be improved in terms of the use of complete PPE by farmers when spraying.

PENGAJIAN FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UMRI JUMAT 24 JULI 2026

 PENGAJIAN FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UMRI JUMAT 24 JULI 2026 Kajian Tematik Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) FMIPAKes UMRI FMIPAKes UMR...