Thursday, July 28, 2022
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
Monday, July 25, 2022
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
1. HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KONDISI TEKANAN DARAH PADA LANSIA : LITERATURE REVIEW
Arilla Fikry Hidayat1, Reni Zulfitri2, Gamya Tri Utami3
JMH Jurnal Medika Hutama Vol 03 No 02, Januari 2022 http://jurnalmedikahutama.com
Tujuan: penelitian ini untuk melihat gambaran kualitas tidur, kondisi tekanan darah dan hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah dari artikel yang telah di dapatkan oleh peneliti. Metode: Penelitian ini menggunakan desain literature review. Hasil: Hasil yang didapatkan dari 7 artikel, 4 artikel didapatkan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang buruk dan terjadinya peningkatan tekanan darah pada lansia yang merujuk ke hipertensi, sedangkan 1 artikel didapatkan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang buruk dan lansia yang memiliki tekanan darah hipertensi lebih banyak dibandingkan dengan lansia yang memiliki tekanan darah normal, tetapi tidak terdapatnya hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada artikel ini. 2 artikel lainnya menyimpulkan bahwa durasi tidur pendek atau panjang dan kemungkinan peningkatan hipertensi bervariasi berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur dan tekanan darah sistolik secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang waktu tidurnya sebelum pukul 21:00 dibandingkan dengan yang waktu tidurnya adalah 21:00 atau lebih lambat. Kesimpulan: Sebagian artikel menyatakan ada hubungan kualitas tidur dengan kondisi tekanan darah pada lansia dan 1 artikel menyebutkan bahwa kualitas tidur tidak berpengaruh terhadap tekanan darah pada lansia.
2. Asuhan Keperawatan Keluarga pada Kasus Post Stroke dengan Masalah Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik di Desa Bluluk Kabupaten Lamongan
Endah Sri Wijayanti
Content Available at: http://jurnal.umla.ac.id JURNAL SURYA
Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan
Background : Stroke is brain damage due to blood supply to the brain, often occurs Suddenly within 24 hours without realizing it, such as rupture of blaood vessels in the brain and lack og blood supplay in the brain. Prevalence by sex male 11,0%(10,5-11,5 per mile) 355,726 cases, female sex 10,9(10,4-11,4 per mile) 358,056 cases. The proportion of stroke control to health care facilities in the population aged 15 years with routine Esat Java stroke prevalence 40,0% sometimes 39,5 not re-checking 20,5% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018) Methods: This research method uses a case study. Data were collected by means of interviews, aobservations, and documentation studies. Results: The results of the case study indicate a gap in the assessment of nursing care. Nursing diagnoses according to thew IDHS lead to the main priority, namely Mobility Support (D> 0045), priority nursing actions according to SIKI Mobilization Support (I. 05173), with outcomes according to SLKI Physical moboility (L. 05042), evaluation of the main priority diagnoses, namely mobility disorders partially resolved by home visits for 6 days. Conclusions : Combination of active and passive Range of Movement technique interventions such as doing wrist range of motion exercises consisting of flexion, which is moving the palm of the hand to the inside of theforearm, extension, which is moving the fingers, hand and forearm are in the same one.
3. PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI MOTORIK BAGI LANSIA DENGAN PENYAKIT PARKINSON: STUDI LITERATUR
Zalfa Kamila Rafifah*, Wulan Sari*, Sitti Noer Shabrrina*, Siti Meira Putri Satriyani Kusuma Ningrum*, Sifa Safira*, Anung Ahadi Pradana*
Volume 12, Nomor 02, November 2021 Hal. 220 - 231
Journal Ners Community
Penyakit Parkinson (PD) adalah gangguan sistem saraf pusat yang melibatkan neuron dopaminergic dapat mempengaruhi gerakan, sering disertai tremor. Penderita PD yang mayoritas lansia sering mengalami gangguan motorik seperti bradikinesia, hipokinesia, tremor, ketidakstabilan postural dan kekakuan. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui efektivitas teknologi sebagai alat monitor aktivitas saat penderita Parkinson tinggal sendiri dirumah yang bisa dipantau oleh tenaga kesehatan maupun keluarga. Metode yang digunakan yaitu kajian literature dengan pendekatan sederhana terhadap 10 artikel terkait teknologi pemanfaatan teknologi bagi lansia penderita Parkinson dalam periode 2011-2021. Hasil dari study literature adalah teknologi sangat bermanfaat untuk diterapkan bagi lansia dengan penyakit Parkinson. Dari 10 literatur yang ditemukan menyatakan bahwa dengan adanya teknologi dapat mempermudah tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan bagi lansia penderita Parkinson. Teknologi juga bermanfaat pada penderita Parkinson karena mampu melatih kemandirian pasien dengan cara melakukan aktivitas secara mandiri. Diharapkan jumlah jurnal penelitian terkait penggunaan teknologi pada pasien lansia penderita Parkinson diperbanyak agar dapat mempermudah dalam pencarian informasi terpercaya serta sebagai bukti adanya manfaat penggunaan teknologi.
4. Studi Fenomenologi : Pengalaman Perubahan Fungsi Seksual Pada Klien Dengan Cedera Medula Spinalis
Harun Al Rasid1, Masfuri2, I Made Kariasa3
JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi) Vol. 3 No. 1 (2019)
Volume. 3 Nomor. 1 Periode: Januari – Juni 2019; hal. 16-27
p-ISSN : 2580-1112; e-ISSN : 2655-6669 Copyrighr @2019
Penulis memiliki hak cipta atas artikel ini
journal homepage: https://ejournal.akperfatmawati.ac.id
Cedera Medula Spinalis (CMS) mengakibatkan deficit neurologis yang mempengaruhi seksualitas. Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan yang kompleks dan oleh sebagian besar klien dianggap tabu (taboo) untukdi diskusikan terutama di Indonesia. Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan seseorang dan oleh sebagian besar klien dianggap tabu (taboo) untuk didiskusikan terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran makna dari pengalaman perubahan fungsi seksual pada klien dengan cedera medulla spinalis. Desain penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada enam partisipan. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan catatan lapangan. Analisa data menggunakan metode Collaizi. Penelitian ini menghasilkan enam buah tema yaitu 1) kesedihan akibat kelemahan/perubahan fisik, 2) perubahan fungsi seksual, 3) respon psikologis terhadap perubahan fungsi seksual, 4) cara mengekspresikan fungsi seksual, 5) harapan untuk memenuhi kebutuhan seksual dan 6) harapan terhadap pelayanan keperawatan di rumah sakit dalam mengatasi masalah kebutuhan seksual. Hasil penelitian diatas dapat dijadikan dasar penelitian lebih lanjut.
5. Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor
1Nelasari Situmeang, 2 Sulindawaty
Riset dan E-Jurnal Manajemen Informatika Komputer Volume 4, Number 1, Oktober 2019
http://doi.org/10.33395/remik.v4i1.10224
e-ISSN : 2541-1330 p-ISSN : 2541-1332
Penyakit saraf pusat adalah sekelompok gangguan neurologis yang memengaruhi struktur atau fungsi otak atau sumsum tulang belakang, yang secara kolektif membentuk sistem saraf pusat. Masyarakat pada umumnya masih banyak merupakan orang awam yang kurang memahami kesehatan saraf, sehingga banyak dari mereka mengabaikan gejala yang dialami dan mungkin merupakan gejala penyakit saraf pusat. Hal ini mungkin dikarenakan mahalnya biaya konsultasi, dan belum lagi dokter yang sulit ditemui karena faktur waktu. Didalam berbagai bidang pemanfaatan teknologi telah berkembang pesat, salah satunya adalah dalam bidang kesehatan, teknologi yang dimaanfaatkan salah satunya adalah sistem pakar. Sistem pakar adalah program komputer yang mempresentasikan dan melakukan penalaran dengan pengetahuan beberapa pakar untuk memecahkan masalah-masalah atau memberikan solusi. Perkembangan teknologi seperti sistem pakar ini tentunya juga didukung oleh metode dalam melakukan diagnosa, seperti Metode Certainty Factor. Untuk membuatkan sistem pakar yang dapat membantu masyarakat dalam konsultasi tentan penyakit saraf pusat yang dialami maka dirancang Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Saraf Pusat Manusia Dengan Metode Certainty Factor.
6. PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI TERHADAP TINGKAT INSOMNIA LANSIA
Novita Damayanti1 , Titis Hadiati2
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Volume 8, Nomor 4, Oktober 2019 Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico
ISSN Online : 2540-8844
Latar Belakang: Semakin bertambahnya usia seorang individu dapat mempengaruh pola pikir yang mengakibatkan individu tersebut mengalami gangguan tidur/ insomnia. Insomnia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada orang-orang dengan usia lanjut (lansia). Terapi untuk mengatasi insomnia pada lansia terdiri dari terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat insomnia adalah dengan menggunakan aromaterapi. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi terhadap tingkat insomnia pada lansia. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan pre and post test without control. Sampel berjumlah 30 orang lansia yang berada di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading, Semarang. Pengukuran tingkat insomnia diukur menggunakan kuesioner KSPBJ-IRS. Data dianalisis dengan menggunakan program komputer. Hasil: Pada penelitian di dapatkan perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah penelitian yaitu p=0,001. Kesimpulan: Terapi non farmakologi aromaterapi dapat digunakan untuk menurunkan derajat insomnia pada lansia.
7. Pengaruh Kekurangan Nutrisi Terhadap Perkembangan Sistem Saraf Anak
Gianfranco S. Papotot,1 Ronald Rompies,2 Praevilia M. Salendu2
pISSN 2085-9481 eISSN 2597-999X Jurnal Biomedik. 2021;13(3):266-273
Terakreditasi Nasional: SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan
DOI: https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31830
KemenRistekdikti RI no. 28/E/KPT/2019
Available from:https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/index
Di negara berkembang kekurangan gizi memberikan kontribusi terhadap tingginya rata-rata angka kematian. Usia anak-anak, jarak kelahiran sebelumnya, status pendidikan ibu, status kekayaan, dan wilayah merupakan faktor yang secara independen terkait dengan status gizi anak-anak. Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi perkembangan saraf anak. Pertumbuhan fisik, fungsi kognitif otak, fungsi fisiologis dan perubahan respon imun bisa terganggu karena kurangnya gizi di usia dini. Di negara berkembang anak di bawah 5 tahun memiliki prevalensi sekitar 27% kekurangan gizi. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi pada perkembangan sistem saraf anak. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literatur diambil dari tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu undernutrition AND neurological disorders AND children. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi dan ekslusi, didapatkan 10 literatur yag terdiri dari sepuluh penelitian cross-sectional study. Hasil penelitian menunjukan 10 literatur meneliti hubungan dan pengaruh kekurangan nutrisi terhadap perkembangan sistem saraf anak. Sebagai simpulan, kekurangan nutrisi dan kelainan sistem saraf pada anak memiliki hubungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Anak yang mengalami kekurangan nutrisi memiliki pengaruh pada perkembangan sistem saraf dan terbanyak pada kelainan motorik dan kognitif.
8. MENGATASI INSOMNIA DENGAN TERAPI RELAKSASI
Setiyo Purwanto
Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. I, NO. 2, DESEMBER 2008, Hal 141-148
Sleep disturbance frequently experienced insomnia is a sleep disorder that has features difficult start to sleep, woke up in the middle of the night and wake up with a condition that is not fresh. The cause of insomnia is associated with psychological disorders, biological or environmental factors. One therapy to cope with sleep disorders are insomnia with relaxation. basic principles of relaxation is relaxation of the muscles of the body, during sleep the mind and muscles to stimulate each other. Relaxation of muscles relax causing reduced cortical activity in the cortex would allow the muscles more relaxed. Once the stimulation of the mind down so someone will feel drowsy and fell asleep.
9. Penerapan Metode Certainty Factor Pada Diagnosa Penyakit Saraf Tulang Belakang
Adi Sucipto1 , Yusra Fernando2 , Rohmat Indra Borman3 , Nisa Mahmuda4
JURNAL ILMIAH FIFO P-ISSN 2085-4315 / E-ISSN 2502-8332
Dalam menganalisa sebuah informasi dimungkinkan seorang pakar mengungkapkan informasi berupa pernyataan yang tidak pasti seperti mungkin, kemungkinan besar dan hampir pasti. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengatasi ketidak pastian adalah metode certainty factor. Certainty factor merupakan metode yang mendefinisikan ukuran kepastian terhadap fakta atau aturan untuk menggambarkan keyakinan seorang pakar terhadap masalah yang sedang dihadapi. Untuk membantu dan mempermudah masyarakat dalam mendiagnosa penyakit saraf tulang belakang dapat menerapkan metode certainty factor pada sistem pakar. Saraf bagian tulang belakang merupakan organ yang penting bagi manusia. Terbatas dan tidak meratanya dokter spesialis saraf tulang belakang di Indonesia mengakibatkan masyarakat kesulitan dalam mendiagnosa penyakit tersebut. Sistem pakar dapat membantu untuk diagnosa penyakit, dimana sistem ini untuk merekonstruksi keahlian dan penalaran kemampuan seorang pakar. Pada penelitian ini, certainty factor diimplementasikan pada aplikasi diagnosa penyakit saraf tulang belakang. Sistem diujicobakan pada sejumlah masukan, hasil pengujian didapatkan memberikan hasil sesuai dengan perhitungan manual. Hasil pengujian dengan uji coba pada sejumlah masukan yang dilakukan didapatkan bahwa pengujian memberikan hasil sesuai dengan perhitungan manual. Sedangkan pengujian akurasi kesesuaian dari data testing yang didapatkan oleh pakar dengan output sistempakar didapatkan hasil output yang sesuai sebanyak sebesar 90%.
10. KARAKTERISTIK PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2016
Izzati Shoba Maryam 1 , Ida Ayu Sri Wijayanti 2 , Kumara Tini 2
Callosum Neurology Journal, Volume 1, Nomor 3: 91-96, 2018
ISSN 2614-0276 | E-ISSN 2614-0284
Latar Belakang: Jumlah kasus epilepsi di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 8,2 per 1.000 penduduk dan insiden 50 per 100.000 penduduk. Tujuan: Mengetahui karakteristik klinis pasien epilepsi di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah periode bulan Januari hingga Desember 2016. Metode Penelitian: Penelitian deskriptif observasional menggunakan data rekam medis pasien epilepsi yang berobat di Poliklinik Saraf RSUP Sanglah bulan Januari hingga Desember 2016. Hasil: Sebanyak 70 pasien epilepsi memiliki rerata usia 35 tahun dengan laki-laki sebanyak 55,7%. Rerata usia awitan bangkitan 29 tahun. Profil terapi sebanyak 77,1% pasien menggunakan monoterapi dan 72,9% berobat kurang dari dua tahun. Fenitoin merupakan obat antiepilepsi (OAE) utama dalam monoterapi maupun sebagai kombinasi dengan OAE lain. Simpulan: Kasus epilepsi didominasi oleh pasien laki- laki dengan rerata usia 35 tahun dengan awitan bangkitan pada dekade kedua. Bangkitan umum merupakan gejala paling banyak ditemukan dengan fenitoin sebagai OAE utama.
11. IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT GANGGUAN SARAF ISKEMIK PADA MANUSIAMENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR
Darjat Saripurna1, Nurcahyo Budi Nugroho2, Faisal Taufik3, Elfitriani4, Widiarti Rista Maya5
Journal of Science and Social Research ISSN 2615 – 4307 (Print)
Feb 2022, V (1): 143 – 150 ISSN 2615 – 3262 (Online)
Available online at http://jurnal.goretanpena.com/index.php/JSSR
Gangguan saraf iskemik merupakan salah satu penyakit saraf yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke otak sehingga kebutuhan darah didalam otak tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat disebabkan beberapa penyakit komplikasi diantara nya hipertensi. Secara umum gangguan saraf iskemik ini dapat berisifat ringan, sedang dan akut. Kurangnya informasi tentang penyebab dan gejala terkait penyakit ini membuat masyarakat sulit melakukan pencegahan serta lambatnya proses penanganan penyakit gangguan saraf iskemik membuat angka kematian terhadap penyakit ini semakin meningkan. Melihat situasi yang terjadi maka dirancang sebuah Sistem Pakar yang mampu menerapkan metode Certainty Factor untuk mendiagnosa jenis penyakit gangguan saraf iskemik berdasarkan gejala-gejala klinis yang dirasakan oleh pasien, proses penerapan nya dengan terlebih dahulu mengumpulkan basis pengetahuan, kemudiann melakukan penelusurah inferensi Forward Chaining terhadap rule-rule yang ada dan selanjutnya melakukan proses perhitungan metode Certainty Factor untuk mengetahui nilai probabilitas dan jenis penyakit Gangguan Saraf Iskemik. Dengan adanya Sistem Pakar ini diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat maupun dokter untuk berinteraksi dan dalam pengambil kesimpulan penyakit gangguan saraf iskemik dan sebagai diagnosa awal.
12. ALZHEIMER DAN GEJALA SISTEM SARAF (NEUROLOGIS) AKIBAT PESTISIDA
Sulistyani Prabu Aji*1, Sapja Anantanyu2
Public Health and Safety International Journal April 2022 | Vol. 2 | No. 1
E-ISSN : 2715-5854 DOI: 10.55642
Alzheimer merupakan suatu jenis disease neurodegeneratif ditandai dengan munculnya suatu penurunan fungsi kognitif, fungsi ingat menurun, dan sindrom demensia. Jumlah penderita penyakit Alzheimer akan terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai 1.894.000 kasus pada tahun 2030 dan berlanjut hingga 3.980.000 kasus di tahun 2050. Jenis penulisan metode pada artikel ini berupa tinjauan naratif. Hasil dan output dari penulisan ini yaitu data dan output dari sumber referensi-referensi di berbagai database. Selanjutnya akan dilakukan analisis dan disintesis secara deskriptif agar dapat memudahkan pembaca artikel ini.
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
1. The Effectiveness of Lavender Aromatherapy on Blood Pressure among Elderly with Essential Hypertension
Dwi Yunita Rahmadhani*
The Journal of Palembang Nursing Studies https://jpns-journal.com/index.php/jpns
Background: Hypertension is a condition in which the systolic blood pressure is more than 120 mmHg, and the diastolic pressure is more than 80 mmHg. Lavender aromatherapy is a way to cure sickness which uses essential oil. Purpose: The purpose of this study is to analyse the effect of lavender aromatherapy on the changes in blood pressure in the Elderly with essential hypertension Methods: This study used a pra-experiment pretest and posttest design where the measurement of blood pressure is done twice before the lavender aromatherapy is given (pretest) and after the lavender aromatherapy is given (posttest). The population of this study is the patients with essential hypertension in the work area of one of the Public Health Centers in Jambi, Indonesia in 2018 which is 627 patients. Meanwhile, the sample used in this study is Purposive Sampling. The method used in this study is univariate and bivariate data analysis using T-Test. Results: Statistical test result shows that there was a significant effect of giving lavender aromatherapy on changes in blood pressure of patients with essential hypertension with p < 0.05; systole (p = 0.001) and diastole (p < 0.001). Conclusions: The use of alternative lavender aromatherapy as a therapy used to lower blood pressure in patients with essential hypertension. It is suggested to researchers who are interested to examine this topic of the effect of lavender aromatherapy on blood pressure in patients with essential hypertension to do further research in the same scope with a different variable.
2. MINI-MENTAL STATE EXAMINATION UNTUK MENGKAJI FUNGSI KOGNITIF LANSIA
Dafinta Widia Komala1 , Dwi Novitasari2* , Rosi Kurnia Sugiharti3 , Sidik Awaludin4
Jurnal Keperawatan Malang Volume 6, No. 2, Desember 2021 Available Online at https://jurnal.stikespantiwaluya.ac.id/
Latar belakang: Seiring bertambahnya usia akan menyebabkan penurunan fungsi sistem tubuh, salah satunya penurunan fungsi kognitif. Terganggunya fungsi kognitif pada lansia dapat berupa gangguan berbahasa, kehilangan memori jangka pendek maupun panjang, juga disorientasi waktu dan tempat. Berdasarkan hasil pra survei yang dilakukan di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang didapatkan bahwa jumlah lansia sebanyak 35 lansia dan sebanyak 18 lansia menderita demensia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif berdasarkan karakteristik rentang usia dan jenis kelamin lansia di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang menggunakan instrument Mini Mental State Examination. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Terdapat 33 lansia sebagai responden. Analisa data menggunakan uji deskriptif statistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan fungsi kognitif pada lansia di Rojin Home Itoman Teinsagu No Ie Jepang rentang usia 75-90 tahun sebagian besar mengalami penurunan fungsi kognitif sedang yaitu sebanyak 15 (45,5%) lansia. Responden berjenis kelamin perempuan memiliki fungsi kognitif sedang sebanyak 12 (36,4%) lansia. Proses menua akan menyebabkan perubahan komposisi di system persyarafan khususnya di otak, dimana terjadi degenerasi neuron dan oligodendrosit yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kognitif pada lansia. Kesimpulan: Penurunan fungsi kognitif lansia menyebabkan lansia tergantung pada orang lain. Caregivertermasuk perawat perlu mengkaji penurunan kognitif lansia menggunakan MMSE agar lansia segera mendapat penanganan yang tepat dan membantu pemenuhan kebutuhannya.
3. HUBUNGAN PELAKSANAAN RANGE OF MOTION DENGAN RISIKO DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE
Insana Maria
Jurnal Keperawatan Suaka Insan | Volume 5 Edisi I, Juni 2020
Latar Belakang : Stroke merupakan pembunuh nomor 3 setelah penyakit jantung dan kanker, stroke biasanya ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak pada salah satu sisi anggota tubuh, penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita stroke salah satunya yaitu Range Of Motion. Terapi Range Of Motion merupakan salah satu terapi yang membantu memulihkan keadaan penderita stroke yang mengalami kelumpuhan, serta dilakukannya Range Of Motion agar tidak terjadinya risiko dekubitus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pelaksanaan Range Of Motion dengan Risiko Dekubitus Pada Pasien Stroke. Metode : Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain penelitian korelasi, penelitian dilaksanakan di Ruang Saraf Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura jumlah populasi pasien stroke sebanyak 168 orang dan sampel sebanyak 118 orang dengan teknik sampling Consecutive Sampling, Instrumen berupa kuesioner dan teknik analisis data menggunakan uji Spearman’s. Hasil : Hasil dari penelitian ini dengan menggunakan uji Spearman’s diperoleh nilai p = 0,000 yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada hubungan antara pelaksanaan range of motion dengan risiko dekubitus pada pasien stroke di ruang saraf RSUD Ratu Zalecha Martapura. Kesimpulan: ada hubungan (significant) antara pelaksanaan range of motion dengan risiko dekubitus pada pasien stroke di ruang saraf RSUD Ratu Zalecha Martapura 2018 dan diharapkan penelitian ini mengoptimalkan latihan rentang gerak pada pasien stroke, karena dengan melaksanakan Range Of Motion dengan baik maka pasien dapat bergerak secara aktif maupun pasif agar terhindar dari risiko dekubitus.
4. Hubungan Activity Of Daily Living (ADL) Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia
Rita Damayanti 1, Erna Irawan 2, Mery Tania 3, Rita Rahmawati 4, Umi Khasanah 5
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. 8 No. 2 September 2020
Laju perkembangan penduduk dunia termasuk Indonesia saat ini sedang menuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah serta proporsi penduduk lansia. Proses penuaan yang dialami lansia tidak hanya berpengaruh terhadap segi kehidupan tetapi juga akan diikuti dengan kemunduran fisik dan juga mental. Kemunduran tersebut dapat berdampak pada terjadinya depresi pada lanjut usia. Depresi merupakan masalah mental yang paling banyak ditemui pada lansia dengan prevalensi depresi pada lansia didunia sekitar 8 - 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan activity of daily living (ADL) dengan tingkat depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dan termasuk dalam penelitian korelasional dengan rancangan Cross Sectional. Teknik sampel yang digunakan adalah teknik Non Probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berjumlah 60 lansia. Pengumpulan data dengan kuesioner barthel index untuk mengukur kemampuan ADL lansia yang masih dapat dilakukan dan geriatric depression scale (GDS) untuk mengukur tingkat depresi pada lansia. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji Rank Spearman. Analisis bivariat menggambarkan bahwa tingkat activity of daily living lansia mandiri (56,7%), tingkat depresi lansia yang tidak mengalami depresi (43,3%). Uji statistik menunjukkan ada hubungan activity of daily living dengan tingkat depresi pada lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung dengan nilai p-value (0,000) <0,05 Ha diterima searah dengan tingkat korelasi cukup sedang (0,442). Ada hubungan activity of daily living dengan tingkat depresi di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Kabupaten Bandung, diharapkan pihak panti dapat mempertahankan activity of daily living (ADL) agar tingkat depresi pada lansia tidak meningkat.
5. PENGARUH PEMBERIAN SENAM KEGEL UNTUK MENURUNKAN DERAJAT INKONTINENSIA URIN PADA LANSIA Nova Relida Samosir, SST.FT., M.Fis 1) Yulia Tetra Ilona 2)
Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF) Volume 2 nomor 01, Februari 2019
Latar Belakang. Inkontinensia urin oleh international continence society (ICS) mendefinisikan sebagai suatu kondisi dimana keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan yang menjadi masalah sosial atau hegienis pada lansia dan dapat dibuktikan secara objektif. Tujuan. Penelitian ini ditujukan kepada pasien kondisi inkontinensia urin untuk meningkatkan otot dasar panggul. Intervensi fisioterapi yang dapat diberikan pada penderita inkontinensia urin dalam mengatasi penurunan fungsi pada otot dasar panggul dapat dilakukan dengan berbagai tindakan diantaranya dengan pemberian teknik senam kegel. Metode Penelitian. Penelitian yang dilakukan merupakan case study dengan desain penelitian pre and post test. Hasil. Hasil penelitian pada sampel I didapat perubahan perbaikan peningkatan otot dasar panggul digambarkan dengan perubahan skala RUIS pada T0 nilai skor 15 dan pada T12 didapatkan skor 10. Pada sampel II didapat perubahan perbaikan pada T0 nilai skor 13 dan pada T12 didapatkan skor 10. Kemudian pada sampel III didapat perubahan perbaikan. Pada T0 nilai skor 15 dan pada T12 didapatkan skor 9.
6. PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KEKUATAN OTOT DAN KUALITAS TIDUR LANJUT USIA
Abdul Muhith1) , Teguh Herlambang2), Atika Fatmawati3), Dyah Siwi Hety4), I Wayan Surya Merta5)
Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .8, No.2, 2020, hal 306-314 Tersedia online di https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care ISSN 2527-8487 (online) ISSN 2089-4503 (cetak)
Perubahan aspek fisiologis pada lansia dapat menyebabkan adanya perubahan pada sistem persarafan yaitu gangguan terhadap kualitas tidur sedangkan perubahan pada sistem muskuloskeletal yaitu terjadinya penurunan kekuatan otot. Terapi Relaksasi Otot Progresif merupakan terapi yang dapat meningkatkan kualitas tidur dan kekuatan otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kekuatan otot dan kualitas tidur lanjut usia.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasy experiment design dengan rancangan pretest and posttest nonequivalent control group. Populasi dalam penelitian ini semua lanjut usia sebanyak 40 lanjut usia. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling yang kemudian dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 20 responden dan kelompokkontrol sebanyak 20 responden.Alatukur yang digunakanadalahkuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Indeks) untuk kualitas tidur dan lembar observasi MMT (Manual Muscle Testing) untuk kekuatan otot. Data dianalisis menggunakan uji Paired T-test dan uji Independent T-test. Berdasarkan uji Paired T-test didapatkan hasil p value = 0,000 (p<0,05) untuk kekuatan otot dan p value = 0,000 (p<0,05) untuk kualitas tidur yang menunjukan adanya perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada uji Independent T-test diperoleh hasil p value = 0,000 (p<0,05)yang menunjukan ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kekuatan otot dan kualitas tidur lanjut usia. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu metode alternatif bagi lanjut usia untuk meningkatkan kekuatan otot dan kualitas tidur, sehingga perawat yang bekerja di tatanan pelayanan khusus lansia mengintegrasikan terapi ini ke dalam asuhan keperawatan.
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
EVIDENCE BASED KMB 1 SISTEM PERSYARAFAN. Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
1. Efektifitas Senam Terhadap Sensitivitas Kaki Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Wilayah Kerja Puskesmas Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang.
Candra Nur1, Hasrul2*, Muhammad Tahir3
Jurnal Inonasi Pengabdian Masyarakat, 01 (1), 2021, 1-7.
https://stikesmu-sidrap.e-journal.id/JIPengMas
Senam kaki merupakan latihan yang dilakukan untuk melancarkan peredaran darah, memperkuat otot kecil dan mecegah terjadinya luka pada kaki. Senam kaki diabetes dapat digunakan sebagai latihan kaki, hal tersebut dipercaya untuk mengelola pasien yang mengalami Diabetes Mellitus, sehingga pasien Diabetes Mellitus yang telah melakukan latihan kaki merasa nyaman, mengurangi nyeri, mengurangi kerusakan saraf dan mengontrol gula darah serta meningkatkan sirkulasi darah pada kaki serta memperbaiki gejala-gejala neuropati perifer seperti kesemutan dan kebas. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa yang didampingi oleh dosen. Senam kaki diberikan sebanyak 3x dalam seminggu yang dilakukan selama 4 minggu. Adapun cara mengevaluasi sensitivitas kaki sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan lembar observasi. Metode pelaksanaan yaitu dengan cara memberikan perlakuan pada kelompok intervensi dengan teknik senam kaki. Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa senam kaki efektif meningkatkan sensitivitas kaki pada pasien diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang.
2. Gambaran kebiasan merokok dengan gejala kesemutan di jari-jari ekstremitas pada masyarakat Jabodetabek
Yesisca1, Sari Mariyati Dewi Nataprawira2,*
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3, No. 2, 414-423, April 2021
Merokok adalah salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Tingginya jumlah perokok terutama di Jakarta dan sekitarnya dapat menyebabkan meningkatnya angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah di daerah tersebut. Pada rokok terdapat zat yang dapat menyebabkan terjadinya penebalan dan kekakuan dinding pembuluh darah atau yang disebut arteriosklerosis. Bila kondisi ini berlanjut dan didukung dengan proses metabolik yang tidak baik maka dapat memicu terjadinya atherosklerosis dan penyumbat pembuluh darah. Kesemutan atau kebas yang terjadi pada jari-jari tangan atau kaki, merupakan gejala awal terjadinya atherosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok (lama dan jumlah) dan adanya gejala kesemutan atau kebas pada jari tangan dan atau kaki. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif cross-sectional dan consecutive non-random sampling dalam merekrut responden. Data dari 60 responden dengan rentang usia 18-69 tahun, dikumpulkan menggunakan google form. Gejala kesemutan mayoritas didapatkan pada kelompok dengan riwayat merokok lebih dari 20 tahun dengan jumlah rokok termasuk dalam kategorik sedang. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin banyak dan lamanya riwayat merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah yang ditandai dengan munculnya gejala kesemutan atau kebas.
3. HUBUNGAN USIA, JENIS KELAMIN DAN LAMA MENDERITA DIABETES DENGAN KEJADIAN NEUROPATI PERIFER DIABETIK
Mildawati, Noor Diani, Abdurrahman Wahid
journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing ISSN : 2580-0078 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2019)
Diabetes melitus terus-menerus mengalami peningkatan jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi. Komplikasi yang paling sering yaitu neuropati yang menyebabkan kesemutan, nyeri, mati rasa, atau kelemahan pada kaki dan tangan yang dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin dan lama menderita diabetes.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia,cjenis kelamin,cdanclama menderitacdiabetes denganckejadian neuropaticperifer diabetik.uPenelitian korelasional menggunakan pendekatan cross sectional, pengambilan sampel menggunakan teknik convinience sampling berjumlah 83 orang. Instrumen yang digunakan yaitu kuesionercMichigan NeuropathycScreening Instrumentc(MNSI). Analisis data menggunakan chi-square. Hasil penelitian terdapatchubungan antarafusia denganfkejadian neuropatiiperiferfdiabeticf(p value 0,001, α=0,05). Adaihubungan antaraijenis1kelamin1dengan1kejadian neuropati1perifer1diabetik1(p value 0,043, α=0,05) dan Ada hubungan antara lama menderita diabetes dengan kejadian neuropati perifer diabetic (p value 0,001 α=0,05). Disarankan penderita diabetes melakukan deteksi dini dalam pencegahan terjadinya komplikasi neuropati sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Carpal Tunnel Syndrome pada Pengendara Ojek
Fanny S. Farhan*, Aisyah A. Kamrasyid*
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr.Soetomo Vol.4 No.2 Oktober2018 : 84-97
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah masalah kesehatan yang diakibatkan oleh penekanan atau terjepitnya saraf medianus yang melewati terowongan karpal pada ekstremitas atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keluhan tersebut pada pengendara ojek di Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Responden adalah seluruh tukang ojek yang ditemuin selama kurun waktu penelitian di Kecamatan Kramat Jati berjumlah 96 orang. Instrument penelitian berupa kuesioner dan pemeriksaan tinnel test pada araf medianus. Berdasarkan analisis chi square, terdapat hubungan bermakna antara postur pergelangan tangan dengan keluhan CTS (p<0.05), faktor usia dengan keluhan CTS (p<0.05) dan indeks massa tubuh dengan keluhan CTS (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui tukang ojek yang mengalami keluhan Carpal Tunnel Syndrome sebanyak 72 responden (75%). Faktor yang dominan menyebabkan timbulnya keluhan CTS adalah postur pergelangan tangan, faktor usia dan indeks massa tubuh.
5. ANALISIS EFEK SENAM KAKI TERHADAP SENSITIFITAS KAKI PADA PASIEN DIABETES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ALAI PADANG
Putri Dafriani1, Siti Aisyah Nur 2, Meldafia Idaman3 ,Welly Martawati4
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 10 Nomor 2 | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id
Neuropati atau gangguan neurologis disebabkan oleh hiperglikemia.Ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf perifer.Itu membuat pasien diabetes tidak bisa merasakan panas, sakit dan kesemutan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan kaki terhadap sensitivitas kaki pada pasien diabetes di Puskesmas Alai Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah quasi-eksperimental, one postest postest group. Sampel adalah 16 pasien diabetes di Puskesmas Alai. Data diproses dengan komputerisasi dengan analisis univariat menggunakan statistik deskriptif dan analisis bivariat dengan menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil analisis univariat menunjukkan sensitivitas kaki rata-rata sebelum latihan kaki 1,56 dan setelah itu 2,44. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh dengan p = 0,000 (p≤0,05). Berdasarkan hasil, penelitian ini membuktikan efek latihan kaki pada pasien diabetes.Disarankan untuk memfasilitasi latihan kaki pada pasien diabetes oleh perawat di Puskesmas Alai.
6. HUBUNGAN DURASI, FREKUENSI, GERAKAN REPETITIF DAN POSTUR PERGELANGAN TANGAN DENGAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA VIOLINIS CHAMBERSTRING ORKESTRA
Fadhila Agung Farahdhiya1*, Siswi Jayanti2, Ekawati2
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal) Volume 8, Nomor 5, September 2020
ISSN: 2715-5617 / e-ISSN: 2356-3346 http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is symptomatic compression neuropathy of the median nerve at the level of the wrist, which characterized by pain, tingling and numbess in the distribution of the median nerve (thumb, index finger, middle finger and the radial side of the ring finger). The violinist position demands rotation of the neck and shoulders, removal of both arms and maximum supination of the left arm which can caused inflammation of the muscles in the shoulders, arms and wrists at risk of Carpal Tunnel Syndrome (CTS). The purpose of this research was to analyze the association between duration, frequency, repetitive motion and wrist posture with Carpal Tunnel Syndrome on Chamberstring Orchestra Violinist. This research was a quantitative research with cross sectional study approach. This research using Phalen’s Test and Tinel’s Sign to find out incidence of Carpal Tunnel Syndrome (CTS), BCTQ Questionnaires Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire) to describe subjective symptoms, and Rapid Upper Limb Assessment (RULA) to measure wrist posture. The population and sample in this research were 15 violinist. Based on statistical tests using Fisher Exact, there was an association between repetitive motion in the right (p value = 0,009) and left (p value = 0,011) hand with Carpal Tunnel Syndrome (CTS). While normal duration (p value = 0,505), worked from home duration (p value = 1,000), normal frequency (p value = 0,229), worked from home frequency (p value = 0,081), right hand wrist posture (p value = 0,229) and left hand wrist posture (p value = 1,000) had no association with Carpal Tunnel Syndrome (CTS). The violinists should stretch the wrists before and after playing also improve the violin playing technique.
7. GAMBARAN KELUHAN (CARPAL TUNNEL SYNDROME) PADA KARYAWAN URUSAN PELAYANAN MEDIS RUMAH SAKIT ROBERT WOLTER MONGISIDI MANADO
Revanly S. Kaligis*, Paul A.T. Kawatu*, Fima L.F.G. Langi*
Jurnal KESMAS, Vol. 9, No 7, Desember 2020
Keluhan musculoskeletal merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang paling umum diderita oleh pekerja. Salah satu jenis Musculoskeletal disorder adalah gangguan pergelangan tangan. Gangguan pergelangan tangan merupakan gangguan umum yang berhubungan dengan pekerjaan yang disebabkan gerakan berulang dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran gangguan pergelangan tangan secara umum berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan oleh karyawan Uryanmed di Rumah Robert Wolter Mongisidi Manado. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperlukan gambaran bahwa gejala/keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan yang paling banyak dialami responden yaitu rasa kesemutan dan mati rasa yang tidak hilang setelah menggerak-gerakan tangan (90.6%). Keluhan subjektif yang paling sedikit dialami responden ialah parastesia/kesemutan, rasa sakit dan mati rasa (6.3%). Disampung itu, karyawan urusan pelayanan medis di Rumah Sakit Robert Wolter Monginsidi Manado yang memiliki masa kerja < 10 tahun lebih banyak mengalami keluhan subjektif gangguan pergelangan tangan daripada karyawan yang memiliki masa kerja ≥10 tahun. Karyawan yang memiliki jam kerja ≥7 jam/hari lebih banyak mengalami gangguan pergelangan tangan berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan, dibandingkan dengan karyawan yang memiliki jam kerja yang sama namun tidak mengalami keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan. Bagi pekerja yang mengalami keluhan gangguan pergelangan tangan sebaiknya mempunyai inisiatif untuk memeriksakan keluhan di Poli rumah sakit agar keluhan mereka segera ditindak-lanjuti.
8. UPAYA PENCEGAHAN RESIKO PENURUNAN PERFUSI JARINGAN PERIFER MELALUI PIJAT REFLEKSI KAKI PADA ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI
Dela Goesalosna1, Yuli Widyastuti2, M. Hafiddudin3
PROFESI (Profesi Islam) Media Publikasi Penelitian; 2019 Vol. 15.01
Website:ejournal.stikespku.ac.id
Hipertensi merupakan tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 10 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada hipertensi terjadi vasokontriksi dan gangguan sirkulasi kemudian masuk dalam otak dan di dalam otak terjadi peningkatan pembuluh darah. Peningkatan resistensi perifer dan volume darah merupakan dua penyebab utama terjadinya hipertensi. Hal ini terjadi akibat penurunan elastisitas pembuluh darah yang kemudian berdampak pada perfusi atau suplai darah ke jaringan atau organ tubuh. Salah satu tindakan keperawatan yang dilakukan untuik mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yaitu dengan melatih pijat refleksi kaki yang bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah didalam tubuh, mengurangi rasa sakit dan kelelahan, dan mencegah berbagai penyakit. Rangsangan pijat refleksi pada kaki akan memancarkan gelombang-gelombang relaksasi ke seluruh tubuh. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh penulis di RS PKU Muhammadiyah Delanggu pada bulan April 2019 didapatkan pasien hipertensi. Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada Ny I, Ny S, dan Tn T dengan tindakan pijat refleksi kaki untuk mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan perifer. Rencana studi kasus yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional dengan proses asuhan keperawatan. Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari masalah ketidakefektifan perfusi jaringan perifer klien teratasi yang ditandai dengan ketiga pasien mampu mengungkapkan rasa nyaman di kaki, pegal-pegal berkurang, kesemutan tidak ada. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan kasus ini antara lain: Alat tulis, Format asuhan keperawatan, Buku panduan asuhan keperawatan NANDA NIC-NOC, Alat cek kadar gula darah, Lembar observasi pemijatan refleksi kaki, Jadwal studi kasus, Nursing kit, Media : Leaflet, Lembar balik, SOP cara pijat refleksi kaki.
9. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBUTUHAN ASUPAN VITAMIN B12 PENDERITA DMT2 YANG MENGKONSUMSI METFORMIN
Islah Wahyuni1* , Busyra Hanim2
Jurnal Kesehatan Medika Saintika
Volume 11 nomor 2 (Desember 2020) | https://jurnal.syedzasaintika.ac.id
DOI: http://dx.doi.org/10.30633/jkms.v11i1.619
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Desember 2020 |Vol 11 Nomor 2
e-ISSN : 2540-961 p-ISSN : 2087-8508
Diabetes dikenal sebagai Silent Killer, merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2013-2018 diketahui adanya peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus pada usia >15 tahun, dan pada tahun 2020 penderita diabetes diestimasikan terus meningkat di Indonesia. Metformin adalah salah satu obat antidiabetik yang paling banyak digunakan, hampir semua pedoman diseluruh dunia merekomendasikan metformin sebagai pengobatan lini pertama untuk pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2. Penggunaan metformin yang lama, dosis yang tinggi akan berdampak pada penurunan kadar vitamin B12 didalam darah dan akan mengakibatkan terjadinya keluhan seperti anemia, neuropati, kram kesemutan, mudah lelah, capek dan lain-lain. Tujuan penelitian mengidentifikasi Faktor yang memmpengaruhi kebutuhan Asupan Vitamin B12 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Sampel penelitian 100 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 pada 20 Mei – 29 Juli 2020. Hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan Umur dengan asupan vitamin B12 p value (0,078), tidak ada hubungan Jenis Kelamin dengan asupan vitamin B12 p value (0,796), tidak ada hubungan IMT dengan asupan vitamin B12 p value (0,867), Ada hubungan Lama Penggunaan metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,048), Ada hubungan Dosis Metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,047). Diharapkan Penderita DMT2 selalu meningkatkan dan menjaga asupan vitamin B12.
10. HUBUNGAN PAPARAN PESTISIDA DENGAN KEJADIAN GANGGUAN KEPEKAAN KULIT PADA PETANI DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN NGABLAK KABUPAEN MAGELANG
Tasya Hamidah, Sulistiyani, Suhartono
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 6, Oktober 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm
The existence of pesticides is now very important for farmers because pesticides are easy to use and have high killing power against pests. However, if used excessively can endanger the health of farmers, one of which is to experience a sense of sensitivity to the threshold of the skin. The occurrence of pesticide contamination through the skin is the most common contamination. The results of a preliminary study showed that 5 out of 10 farmers experienced complaints of tingling, itching and numbness. The purpose of this study was to describe and analyze the factors associated with skin sensitivity disorders on farmers in Sumberejo Village, Ngablak Sub-District Magelang District. This type of study was analytic observational with cross sectional approach. Population in this study were 110 farmers. The sample of this study was taken by purposive sampling and the sample size were 43 farmers. Chi Square test results showed that the variabel working period (p value = 0.029), the use of PPE (p = 0.04), and personal hygiene (p value = 0.001) associated with skin sensitivity disorders in farmers. While the variabel working duration (p value = 0.410), number of types of pesticides (p = 0.274), and spraying frequency (p value = 0,453) were not associated with skin sensitivity disorders. There were 24 farmers who skin sensitivity disorder. The conclusion of this study is that the working period, PPE, personal hygiene, and cholinesterase are factors related to skin sensitivity disorders that need to be improved in terms of the use of complete PPE by farmers when spraying.
PENGAJIAN FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UMRI JUMAT 24 JULI 2026
PENGAJIAN FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UMRI JUMAT 24 JULI 2026 Kajian Tematik Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) FMIPAKes UMRI FMIPAKes UMR...
-
Kuesioner Pola Hidup Sehat (HPLP-II) https://images.app.goo.gl/A1ygoHSwnEEtLYJ98 Keterangan: 1 = tidak pernah, 2 = terkadang, 3 = s...
-
TRY OUT AIPNEMA ANGKATAN 2021 27 - 28 juli 2024 AIPNEMA merupakan asosiasi institusi pendidikan tinggi dibawah pembinaan majelis Dikti Lit...
-
KTI MAHASISWA ANGKATAN TAHUN 2023 NOVEMBER 2025 - OKTOBER 2026 SIDANG HASIL KTI MAHASISWA ANGKATAN TAHUN 2023 SIDANG JUMAT 3 JULI 2027 HAI...


