Showing posts with label NOVEL. Show all posts
Showing posts with label NOVEL. Show all posts

Friday, January 1, 2021

TA'ADUD AL-ZAWAJAH (NOVEL PENA NISA)

TA'ADUD AL-ZAWAJAH 

(NOVEL PENA NISA)

"Cerita Kisah Kasihku di Kampus"

Desember 1995...waktu itulah aku memutuskan untuk menjalin kasih dengan si A...dan saat itu tidak akan pernah aku lupakan.

Kami satu angkatan tapi berbeda jurusan.

Si A tipe orang yang humoris...orangnya supel ..pandai bergaul dengan siapa saja...enak diajak ngobrol dan dimintai pendapat..sedikit cerewet..menurutku, tapi juga bisa serius dan tegas dalam situasi tertentu. Pada awalnya mungkin itu yang membuat aku mengaguminya...karena kepribadiannya dan kepintarannya...kalau dari segi wajah...bisa dikatakan dia biasa saja..tidak jelek dan tidak juga tampan. Bukan untuk menyombongkan diri...padahal saat itu ada kakak tingkat yang menyukaiku...yang bila dibandingkan dengan si A...jauh lebih tampan dan kaya...tapi aku tidak melihat dari segi fisik ataupun materi.

Si A adalah mahasiswa yang mandiri...dia kuliah dengan biaya sendiri...kiriman dari orangtuanya tidak mencukupi...tapi dia tahu itu dan tidak mempermasalahkannya..

Dia sangat aktif di kampus...dia ikut di 2 organisasi kampus..HMI  dan KOPMA. Tapi jenjang karirnya lebih baik di KOPMA (Koperasi Mahasiswa). Dia diangkat jadi pengurus di bidang Usaha...kemudian menjadi Pengawas dan terakhir menjadi Manager Kopma. 

Pada waktu itu...Kopma kampus kami termasuk salah satu Kopma yg terbaik di kota Y...yang memiliki berbagai bidang usaha dan memiliki 30 orang karyawan.

Di kampus banyak yang mengenalnya karena dia memang termasuk salah satu aktifis kampus...bahkan dia juga sering diminta untuk menjadi pembicara di kampus lain apabila ada kegiatan seminar...bahkan sering mengikuti kegiatan diluar kota Y.

Dengan kesibukannya itu sedikit membuat aku susah bertemu dengannya...kalau aku yang tidak menghampirinya mungkin susah aku untuk bertemu dengannya...tapi aku menyadari itu. Aku bukan tipe perempuan yang egois...yang selalu menuntut dia untuk selalu ada didekatku.

Aku tidak pernah menghalangi kegiatannya dikampus...apapun yang dilakukannya ...aku selalu mendukungnya. Cuma 1 yang menjadi kekurangannya saat itu...kuliahnya sedikit terganggu...memang untuk mata kuliah nilainya bagus...tapi ketika akan membuat skripsi...jadi terganggu, karena kesibukannya d kampus dia tidak bisa membagi waktunya...skripsi sempat tertunda dan itu yang membuat dia menjadi lambat menyelesaikan S1-nya...kalau tidak ada teguran dari kampus untuk menyelesaikan skripsinya...bahwa dia akan di DO...mungkin dia tidak akan menyelesaikan skripsinya. Tapi alhamdulillah...dengan teguran itu membuat dia harus menyelesaikan skripsinya.

Hubunganku dengan si A tidak pernah aku ceritakan dengan orangtuaku...karena aku berfikir...belum saatnya untuk memberitahukannya dan karena kami tidak tinggal di kota yang sama...jadi menurutku... orangtuaku tidak perlu tahu.

Suatu hari aku sakit.. yang membuat aku harus di operasi dan tentu saja kabar itu harus disampaikan ke orangtuaku. Sebelum mereka sampai di kota Y, dialah yang sibuk mengurus segala administrasi d rumah sakit. Dia dan teman dekatkulah secara bergantian menemaniku d Rumah Sakit. Setelah 3 hari aku dirawat barulah orangtuaku datang. Aku memperkenalkan teman-temanku termasuk dia...tapi aku tidak mengatakan bahwa si A adalah pacarku...dan dia tidak marah...dia mengerti... karena ada rasa takut untuk mengatakannya kepada orangtuaku..aku takut mereka tidak menyukainya.

Satu minggu aku dirawat...selama itu pula dia menemaniku di Rumah sakit..padahal orangtuaku juga ada disitu. 

Orangtuaku sedikit curiga dengannya...tapi mereka tidak menanyakan langsung pada diriku...dan aku merasa kedua orangtuaku tidak begitu menyukainya...tapi aku cuek aja. Akhirnya aku dizinkan pulang dan kembali ke kost. Orangtuaku tidak bisa lama- lama meninggalkan pekerjaannya karena mendapat cuti hanya beberapa hari dan akhirnya mereka kembali ke rumah. Aku pikir orangtuaku tidak mempertanyakan tentang si A...tapi ternyata salah. Orangtuaku sudah mencari informasi tentang si A kepada adikku yg juga kuliah dikota yang sama. Entah apa yang disampaikan adikku tentangnya. Aku ditelpon dan  mendapatkan teguran  dari orangtuaku untuk tidak berhubungan dengan si A...aku tidak boleh pacaran dengannya ataupun dengan yang lainnya. Sedih juga mendengarnya...aku terdiam...tidak membantah. Hal itu aku sampaikan kepadanya...dan dia sedih juga mendengarnya. Aku membuat keputusan untuk mengatakan pada adikku dan orangtuaku bahwa kami sudah putus dan aku tidak pacaran lagi ...karena mereka kan tidak tinggal di kota yang sama denganku dan mereka tidak bisa melihat. Akhirnya aku  membohongi kedua orangtuaku dan mereka percaya... jadinya aku pacaran diam- diam.

Beberapa tahun berlalu hubunganku dengan si A tetap berjalan dengan baik. Disaat sudah mau semester akhir...ternyata orangtuaku mempunyai rencana untuk menjodohkan aku dengan seseorang. Aku kaget mendengarnya. Laki- laki itu adalah keponakan dari teman sekantor ayahku...tentu saja aku tidak mengenalnya...dia tinggal di kota P...sudah bekerja dan kehidupannya sudah berkecukupan. Tapi aku menolaknya dengan berbagai alasan...akhirnya orangtuaku mau mengerti.

Tapi keinginan orangtuaku untuk mencarikan jodohku tidak berhenti begitu saja. Mereka berusaha untuk menjodohkanku  dengan seseorang yang memang aku kenal. Inisialnya E...dia jg sudah bekerja. aku memang sudah mengenalnya sejak lama bahkan aku sudah menganggapnya seperti abang sendiri. Aku tidak mau dan menolak perjodohan itu...dan itu sempat membuat orangtua ku...marah...tapi aku hanya diam...tidak melakukan perdebatan dengan orangtuaku.

Untuk yang ke 3 kalinya...orangtuaku masih saja berusaha untuk mencarikan jodoh untukku. Dia adalah anak dari teman ayahku juga. Tapi laki-laki itu belum bekerja dan masih kuliah di PascaSarjana (S2). Dia berasal dari keluarga yang berada dan orangtua memang ingin mencarikan jodoh untuk anaknya walaupun belum bekerja dan mereka menyanggupi untuk membiayai hidup anaknya selama belum mendapat pekerjaan. Sekali lagi aku menolaknya...dan tentu saja orangtuaku marah.

Orangtuaku marah...mereka bingung harus berbuat apalagi pada diriku. Mereka sempat bertanya padaku..."apa yang kau cari lagi"...kami sudah mencarikan jodoh yang baik untuk mu...untuk masa depanmu...supaya kau hidup berkecukupan. Ternyata saat itu mereka memandangnya hanya dari materinya saja. 

Aku langsung jujur pada mereka dan mengatakan bahwa aku masih berhubungan dengan si A.. aku mencintainya dan aku ingin dialah yang akan menjadi suamiku.

Orangtuaku marah...mereka mengatakan padaku Waktu terus berjalan...aku selalu berusaha untuk meyakinkan orangtuaku tentang pilihanku...dan akhirnya mereka menyetujuinya ..mungkin karena melihat aku sudah yakin dengannya...dan  mengingat umurku saat itu sudah menginjak 27 tahun. 

Aku sangat bahagia...mereka menyutjui hubunganku dan menyetujui pernikahan aku dengannya. Tak ada kata yang dapat aku ucapkan selain rasa syukur dan  terima kasihku pada kedua orangtuaku karena sudah merestui hubungan kami dan menikahkan kami...."apa yang kau harapkan dari nya...masih kuliah...belum punya pekerjaan...belum jelas nasibnya..". Ada perdebatan sedikit dengan orangtuaku. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku tidak melihat seseorang dari hartanya ataupun kekayaan orangtuanya. Aku meyakinkan orangtuaku bahwa si A adalah orang yang baik...dia tipe orang yang pekerja keras..bertanggungjawab..dan agama juga bagus. Kalau urusan rezeki...itu Allah swt yang ngatur...yang penting kita mau berusaha. Aku berusaha untuk meyakinkan mereka tentang pilihanku sendiri. Tidak ada jawaban saat itu...tapi aku tidak memaksa...biarlah mereka berfikir dulu.

Akhirnya di bulan mei 2002 ...acara ijab - kabul pun berlangssung dan dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang cukup meriah. Hari itu...adalah hari yang sangat membahagiakan bagi diriku dan dia...ternyata Allah swt mendengar doaku ...untuk mempersatukan kami... menjadikan dia sebagai suamiku...seseorang yang akan selalu bersamaku menjalani hari-hari dalam kehidupanku. Terimakasih ya Allah atas segala nikmat yang telah engkau berikan padaku...., kehidupan rumahtangga aku dan dia pun  akan dimulai.

Tuesday, December 29, 2020

TA'ADUD AL-ZAWAJAH (NOVEL PENA NISA)

TA'ADUD AL-ZAWAJAH 

(NOVEL PENA NISA)

"Pertemuan Dengan Suamiku."

Waktu itu thn 1994...Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota Y. Di semester ke 2...salah satu organisasi extra di kampus menerima anggota baru ..dan aku ikut  mendaftar..disitulah aku mengenal dirinya...seorang laki-laki yang berinisial "A". Kami sama-sama mendaftar dan kebetulan kami juga berasal dari daerah yang sama...itulah yang membuat aku bisa dekat dengannya. 

Tapi ada yang menarik juga dari kedekatan itu...ternyata dia disuruh seseorang  yang  menyukaiku...untuk menyampaikan perasaannya...bisa dibilang..."dia jadi mak comblang"...tapi aku menolaknya dengan baik..bahwa aku tidak mempunyai perasaan apapun dengan laki-laki itu yang berinisial "H".

Pada awalnya...aku mempunyai prinsip...tidak mau pacaran...karena aku sudah mendengar bahwa tidak ada pacaran dalam islam. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku...karena saat itu aku menyukai seseorang yg berinisial " F"...yang juga sama-sama mendaftar di organisasi tersebut. Akhirnya pertemanan pun terjadi antara aku..si A dan si F.

Kami diterima menjadi anggota organisasi tersebut...yaitu KOPMA. Disetiap kegiatan kami selalu bersama...aku sudah menganggap si A...sebagai sahabat...tempat aku bercerita dan meminta pendapat. Disaat itulah aku mengatakan pada si A...bahwa aku menyukai si F...dan aku memintanya untuk jadi mak comblang...untuk menyampaikan perasaanku pada si F...dan dia menyetujuinya.

Waktu terus berjalan...dengan banyaknya kegiatan di Kopma membuat kami selalu bersama. Didalam setiap kegiatan...si A selalu berusaha untuk membuat aku dekat dengan si F...karena memang itu tujuannya. Tapi apa yang aku harapkan tidak ada kepastian...si A sudah berusaha untuk mengatan bahwa aku menyukainya...tapi tidak ada jawaban yang pasti...si F hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku hanya sebatas teman...agak sedikit kecewa aku mendengarnya.

Waktu terus berjalan...kebersamaanku dengan si A terus berjalan...dan semakin dekat. Lama kelamaan...aku merasa nyaman bersamanya. Pernah suatu hari si A ...mengatakan apakah mau dilanjutkan mencomblangi aku dengan si F...tapi aku menolaknya...aku sudah menganggap si F hanya sebagai teman..kemudian si A mengatakan ...kalau memang tidak mau sm F...terus sama si H juga nggak mau...terus maunya sama siapa...??..dia usil...mencoba untuk menggodaku. Entah keberanian darimana ...aku menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh si A..., apakah kau (si A) masih mempunyai perasaan suka padaku...apakah kau mau persahabatan kita lebih dari itu...aku juga mulai menyukaimu lebih dari seorang sahabat

Dia terkejut...atas apa yang aku ucapkan...rasanya dia  tidak percaya...karena dulu aku pernah menolaknya. Sekali lagi...dia meyakinkan...apakah ucapan itu benar atau tidak.., dan aku meyakinkan bahwa itu benar adanya...aku mulai menyukainya...dan aku merasa nyaman berada didekatnya.. akhirnya dia pun menerimanya...dan akhirnya "kami jadian"...bisa dibilang kami  pacaran.

Aku melanggar janjiku sendiri... untuk tidak pacaran...tapi itulah kenyataannya. Aku berharap dia bukan hanya sebagai pacarku saja tetapi dialah yg kelak akan menjadi suamiku...dan akhirnya niatku menjadi kenyataan...si A...pacarku dan menjadi suamiku...sampai saat ini.


Sunday, December 27, 2020

TA'ADUD AL-ZAWAJAH (NOVEL PENA NISA)

TA'ADUD AL-ZAWAJAH 

(PENA NISA)

Aku hanyalah seorang perempuan biasa seorang  istri dan ibu dari 4 orang anak. pada awalnya kehidupan rumah tanggaku sangat bahagia karena aku menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai. Tak pernah sedikit pun terbayangkan dalam pikiranku bahwa suamiku akan mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan...aku tidak pernah melarang suamiku untuk berteman dengan siapapun baik laki-laki ataupun perempuan.  Tapi...ternyata..kepercayaan yang aku berikan sepenuhnya pada suamiku dikhianati...dia menyukai seorang wanita yang sudah ku anggap sebagai teman...( memang wanita itu dulu adalah orang yang pernah dia sukai disaat masih tingkat SMA).

Wanita itu seorang janda anak 2 laki-laki dan perempuan ...suaminya meninggal tahun 2012...disitulah awal pertemuan suamiku dan dia...saat kami pergi takziah kerumah orangtanya. saat itulah pertamakalinya aku berkenalan dengannya dan keluarganya terutama dengan ibunya dan adeknya. hubungan pun berlanjut..sdh seperti keluarga dan aku tidak pernah merasa curiga sedikitpun dengan suamiku.

Suatu hari ditahun 2016..suamiku mengatakan bahwa dia menyukai perempuan itu dan ingin menikahinya...bagai disambar petir..aku mendengarnya...dan aku menangis. tak bisa berkata apa-apa..hanya berkata dalam hati...apa salahku...Ya Allah...apakah ini nyata...suamiku ingin menikah. Sempat kami bertengkar dan berdebat..tapi tidak ada penyelesaian. aku hanya bisa diam...dan memikirkan apa yang harus aku lakukan . waktu berlalu...aku tidak memberitahukan masalah ini kepada siapapun...aku menyimpannya sendiri dan aku berusaha untuk memperbaiki diriku...agar suamiku tidak melanjutkan niatnya. 

Waktu berlalu...ternyata suamiku tidak berubah dengan niatnya...dia akan tetap menikah...dengan alasan karena ingin menolong seorang janda. aku tidak bisa berkata apa-apa lagi..aku menyuruh suamiku untuk memnyampaikan niatnya kepada orangtuaku dan orangtuanya...dan itu dilakukannya. semuanya terkejut dan perdebatan pun terjadi...semuanya marah dan memberikan nasehat kepada suamiku bahwa poligami itu tidak mudah...tanggungjawabnya besar...harus siap secara materi maupun non materi..bahkan ibuku dan mertuaku sampai bertanya...apa salah istrimu sampai mau menikah lagi..kalaupun istrimu punya salah...kasih kesempatan dia untuk memperbaikinya...bukan dengan cara menikah lagi. tapi suamiku tidak perduli ..bahkan dia mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan istriku..tapi ini sudah keputusannya..tidak ada yang bisa menghalanginya untuk menikah... termasuk diriku.., 

Aku sudah pasrah dan akhirnya mengizinkan suamiku untuk menikah...tapi kenapa saat itu tidak terucapkan dari mulutku untuk minta berpisah atau menceraikan diriku...sedikit pun tidak. Aku takut...takut untuk menjadi janda...anakku masih kecil saat itu...mereka masih dalam masa pertumbuhan..mereka masih membutuhkan sosok ayah.. membutuhkan biaya untuk sekolah...dan masih banyak ketakutan-ketakutan yang aku pikirkan sendiri..karena aku hanya seorang ibu rumahtangga yang tidak bekerja. akhirnya pernikahan itu terjadi ..Agustus 2017 suamiku menikah siri beberapa bulan kemudian akhirnya suamiku menikah resmi dikantor KUA. Banyak yang marah dengan keputusanku...banyak yang menganggap aku perempuan yang bodoh...entahlah...aku tidak perduli...yangg penting saat yg aku pikirkan hanyalah kebahagiaan anak-anakku...bukan kebahagianku. Aku hanya berharap suamiku bisa berlaku adil pada diriku.. tetap sayang dan bertanggungjawab pada anak-anaknya.

 

Workshop Penulisan Buku: Dari Ide Kreatif hingga Menjadi Buku Ber-ISBN bersama UMRI Press Rabu, 17 Juni 2026

Workshop Penulisan Buku: Dari Ide Kreatif hingga Menjadi Buku Ber-ISBN bersama UMRI Press Rabu, 17 Juni 2026 UMRI Press Bekali Dosen Menulis...