EDUKASI KESEHATAN PERAWATAN PASIEN DENGAN ANEMIA, JAGA DARAH DAN JAGA KESEHATAN KAMIS 23 APRIL 2026 DI RUANGAN KENANGA 2 RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU.
Pokok bahasan : Perawatan Penderita Anemia
Sasaran : Pasien dan Keluarga
Hari/Tanggal : Kamis, 23
April 2026
Jam : 15.00 s/d 15.40 WIB
Tempat : Kenanga II Waktu Penyuluhan : 40 menit
A. Latar Belakang
Anemia merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian global hingga saat
ini. Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di
bawah nilai normal, sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke
jaringan tubuh menjadi terganggu. Kekurangan oksigen ini dapat mempengaruhi
fungsi organ tubuh dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari
kelelahan ringan hingga komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik.
Secara
global, anemia masih memiliki angka kejadian yang tinggi. World Health
Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 1,62 miliar penduduk dunia
mengalami anemia, yang setara dengan sekitar 24,8% populasi global. Kelompok
yang paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan wanita usia reproduktif.
Anemia defisiensi besi merupakan jenis yang paling umum terjadi, yang
disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi, gangguan penyerapan, maupun
kehilangan darah kronis.
Di Indonesia, anemia juga menjadi
masalah kesehatan yang cukup serius. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas), prevalensi anemia masih cukup tinggi, terutama pada remaja putri
dan ibu hamil. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola makan
yang kurang bergizi, rendahnya konsumsi zat besi, infeksi, serta kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan anemia.
Pada pasien yang menjalani
perawatan di rumah sakit, anemia sering ditemukan baik sebagai diagnosis utama
maupun sebagai penyakit penyerta. Keberadaan anemia pada pasien rawat inap
dapat memperburuk kondisi klinis, menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat
proses penyembuhan luka, serta meningkatkan risiko komplikasi. Selain itu,
anemia juga dapat menyebabkan pasien merasa lemah, pusing, sesak napas, dan
menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Penatalaksanaan anemia tidak
hanya bergantung pada terapi medis seperti pemberian suplemen zat besi atau
transfusi darah, tetapi juga memerlukan peran aktif pasien dan keluarga dalam
perawatan sehari-hari. Perawatan tersebut meliputi pemenuhan nutrisi yang
adekuat, kepatuhan dalam mengonsumsi obat, pengaturan aktivitas, serta
pemantauan tanda dan gejala anemia. Namun, pada kenyataannya masih banyak
pasien dan keluarga yang belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai cara
perawatan anemia yang tepat.
Kurangnya pengetahuan ini dapat
menyebabkan rendahnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan dan pola hidup
sehat, sehingga memperburuk kondisi anemia dan memperlambat proses penyembuhan.
Oleh karena itu, edukasi kesehatan melalui kegiatan penyuluhan menjadi salah
satu intervensi penting yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, khususnya
perawat, untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga .
Penyuluhan
kesehatan tentang perawatan penderita anemia di ruang perawatan, seperti di
Ruang Kenanga II, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan
perilaku pasien serta keluarga dalam mengelola anemia. Dengan meningkatnya
pemahaman tersebut, diharapkan pasien mampu melakukan perawatan secara mandiri,
mempercepat proses penyembuhan, serta mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut.
B.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu
memahami dan mengerti tentang pentingnya mengatasi anemia.
2.
Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan
kesehatan tentang anemia diharapkan peserta dapat:
a. Mengetahui pengertian anemia
b.
Mengetahui penyebab terjadinya
anemia
c. Mengetahui tanda dan gejala anemia
d. Mengetahui akibat dari anemia
e. Mengetahui cara mencegah terjadinya anemia
C.
Pelaksanaan Kegiatan
1
Topik : Anemia
2
Sasaran : Pasien
dan Keluarga
3
Metode : Ceramah dan Diskusi
4
Media : Leaflet
5
Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Kamis, 23 April 2026
1.
Evaluasi
Kriteria hasil sebagai berikut :
a. Evaluasi Struktur
-
Kegiatan penyuluhan terlaksana sesuai waktu
-
Peserta penyuluhan dapat hadir sesuai rencana
b.
Evaluasi Proses
-
Peserta berperan aktif
dalam kegiatan penyuluhan
- Selama penyuluhan berlangsung, semua peserta
dapat mengikuti dengan penuh
perhatian
c. Evaluasi Akhir
Diharapkan peserta
mampu menyimpulkan kembali
pembahasan tentang Anemia.
MATERI PENYULUHAN
Edukasi Pentingnya
Perawatan Pada Pasien Anemia
A.
Pengertian Anemia
Anemia merupakan kondisi ketika terjadi penurunan hemoglobin (Hb) dan/atau jumlah sel darah merah dari normal sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis seseorang (Chaparro & Suchdev, 2019). Biasanya terjadi penurunan kadar Hb kurang dari 12,0 g/dL pada wanita dan kurang dari 13,0 g/dL pada pria.
A. Penyebab Anemia
Proses terjadinya anemia sangat bervariasi, tergantung pada
penyebab utamanya. Salah satu faktor utama yang menyebabkan anemia di antaranya
ialah:
1. Kekurangan
nutrisi dan penyerapan
nutrisi yang tidak cukup .
2. Kekurangan zat besi ( karena kehilangan darah, gangguan
penyerapan, dan terjadinya peningkatan
kebutuhan metabolisme tubuh
(Halterman & Segel,
2020).
3. Infeksi seperti malaria, tuberkulosis, HIV, dan infeksi
parasit.(infeksi dapat mengakibatkan penyerapan zat besi terganggu
atau bisa menyebabkan
hilangnya nutrisi sehingga dapat
menyebabkan anemia ) (WHO, 2023).
B. Tanda dan Gejala Anemia
a. Perasaan Mudah lelah, lemah, letih, lesu,
lunlai (5 L)
b. Sering Mengantuk
c. Pandangan berkunang-kunang dari posisi
jongkok ke posisi berdiri/ perubahan posisi
d. Pucat pada wajah, telapak tangan, kuku, dan
selaput dalam kelopak mata serta bibir
e. Sering Pusing/sakit kepala.
C. Cara Perawatan Pasien Dengan Anemia
Perawatan pasien dengan anemia adalah sebgai berikut:
1. Memenuhi Kebutuhan
Nutrisi
Nutrisi kunci yang harus dipenuhi adalah:
a) Zat Besi: Ini bahan
utama bikin hemoglobin
Makanan: Daging merah, hati ayam/sapi, bayam, daun kelor, kacang merah,
tahu, tempe dengan minum bareng vitamin C biar penyerapan besi naik 3x lipat.
Contoh: habis makan hati ayam, minum jus jambu/jeruk. Dan hindari minum teh,
kopi, susu diminum barengan sama makanan tinggi besi karena ngalangin
penyerapan.
b) Vitamin B12: Buat
matengin sel darah merah
Makanan: Telur, susu, keju, daging, ikan, hati. Khusus vegan wajib
suplemen karena B12 cuma ada di hewani.
c) Asam Folat / B9: Sama,
buat produksi sel darah merah
Makanan: Sayur hijau gelap,
jeruk, alpukat, kacang-kacangan, brokoli
d) Vitamin C: Bukan
pembuat darah, tapi "mak comblang" biar besi gampang diserap
Makanan: Jambu biji, jeruk, stroberi, tomat, paprika
e) Protein: Bahan dasar
sel darah merah
Makanan: Ikan, ayam, telur, tempe, tahu, kacang-kacangan
2. Mencegah Risiko Infeksi
Sekunder
a) Menjaga kebersihan
· Cuci tangan: Wajib
sebelum makan, setelah dari toilet, setelah pegang uang/hewan. Pakai sabun 20
detik.
· Makanan: Masak sampai
matang sempurna. Hindari lalapan mentah, sushi, telur setengah matang, susu
non-pasteurisasi. Cuci buah pakai air mengalir
· Lingkungan: Rumah harus
bersih, ventilasi bagus. Hindari tempat rame/debu/asap rokok kalau Hb masih
rendah banget.
b) Menjaga Daya Tahan
Tubuh
· Istirahat cukup: 7-9
jam/hari. Anemia bikin gampang capek, jangan dipaksa.
· Hindari kontak sakit:
Jangan deket-deket sama orang yang batuk pilek. Kalau ada yang sakit di rumah,
pakai masker.
· Luka kecil jangan sepele: Luka gores langsung
cuci pakai sabun + antiseptik. Tutup plester. Infeksi bisa masuk dari situ.
· Vaksinasi: Tanya dokter
apakah perlu vaksin flu tahunan atau vaksin pneumonia, terutama kalau anemia
kronis.
· Pantau tanda bahaya
infeksi
· Langsung ke dokter
kalau: demam >38°C, menggigil, batuk berdahak kuning/hijau, diare >3x
sehari, luka bernanah, sariawan parah. Jangan tunggu parah karena imun pasien
anemia telat "ngangkat".
· Jaga Kebersihan mulut :
sariawan gampang terjadi pas anemia. Sikat gigi pelan pakai sikat lembut, kumur
air garam hangat 2x sehari. Infeksi mulut = gerbang kuman ke tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.(2014). Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pusdatin Kemenkes RI
Susanti, D. (2013). Pemeriksaan Basil
Tahan Asam (BTA) Pada Sputum Penderita Batuk≥ 2 Minggu Di Poliklinik Penyakit
Dalam BLU RSUP. Prof. Dr. RD Kandou Manado. e-CliniC, 1(1).
World Health Organization. (2014).
International standards for tuberculosis care 3rd edition. Diakses dari: https://www.who.int/tb/publications/standards-tb-care-2014/en/
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. (2011). Pedoman Penanggulangan Nasional TBC.
Fitriani, E. (2013). Faktor Risiko Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru (Studi Kasus di Puskesmas
Ketanggungan Kabupaten Brebes Tahun 2012). Unnes Journal of Public Health, 2(1)
Altigani, A. M. (2016). Assessment of
knowledge, attitude and practice of Health providers regarding respiratory
hygiene and cough etiquette in
critical areas at Ribat Teaching Hospital
in Khartoum, Sudan,
2016 (Doctoral dissertation, The National Ribat University)
Marissa, N., & Nur, A. (2014).
Gambaran Infeksi Mycobacterium Tuberculosis pada Anggota Rumah Tangga Pasien TB
Paru (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh
Besar). Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 24(2), 89-94
Asiah, I., Suyanto, S., & Munir, S.
M. (2013). Gambaran Perilaku Pasien Tb Paru terhadap Upaya Pencegahan
Penyebaran Penyakit Tb Paru pada Pasien yang Berobat di Poli Paru RSUD Arifin
Achmad Provinsi Riau (Doctoral dissertation, Riau University)
Barry,
T., Manning, S., Lee, M. S., Eggleton, R., Hampton, S., Kaur, J., &
Wilson, N. (2011).
Respiratory hygiene practices by the public during the 2009 influenza pandemic: an observational study.
Influenza and other
respiratory viruses, 5(5), 317-320.http://doi.org/10.1111/j.
Triani, E., Ajmala, I. E., Yuliyani, E.
A., Setyorini, R. H., & Handito, D. (2021). Edukasi Dan Praktik Etika Batuk
Yang Benar Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Pada Siswa Sekolah Dasar
di Pesisir Pantai. Jurnal Pepadu, 2(2), 194-198.