PENGAJIAN FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UMRI JUMAT 24 JULI 2026
Kajian Tematik Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) FMIPAKes UMRI
FMIPAKes UMRI mengundang seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan untuk menghadiri Kajian Tematik Al Islam dan Kemuhammadiyahan dengan tema:
“Ideologi Muhammadiyah (Pengantar, MKCHM, dan Mukodimah Anggaran Dasar & PHIWM)''.
👤 Narasumber: Prof. Dr. Afrizal Nur. M.IS
🗓️ Jumat, 24 Juli 2026 (10 Shafar 1448 H)
⏰ Pukul 10.00 – 11.30 WIB
📍 RB 07
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kegiatan ini menambah pemahaman dan keberkahan bagi kita semua.
CATATAN:
Prof. Dr. Afrizal Nur, S.Th.I,M.IS
IDIOLOGI PADA MATAN KEYAKINAN DAN CITA CITA HIDUP MUHAMMADIYAH
- tidak ada kesempurnaan pada manusia tanpa izin dari allah, yang bisa membuat kita sombong dan arogan pada diri kita
- tauhid dan idiologi itu berbeda, jadi jangan jadikan idiologi sebagai tauhid.
- untuk mencapai hamba yang bertauhid, maka diperlukan rumusan dan gagasan dalam bentuk idiologi
- AD/ART Muhammadiyah, ada kalimat kemajuan yang kemudian menjadi berkemajuan, sebagai kata kunci bermuhammadiyah
- semangat tajdid (pemunian dan modernisasi/dinamisasi) dengan pendekatan bayani, irfani dan
- yang betul betul asli adalah aqidah dan ibadah mahdhah (rakaat shalat wajib)
- ada ilmuan fisika: melakukan bunuh diri, karena merasa untuk apa lagi hidup di dunia ini, si genius ilmuan memiliki anak yang keterbelakangan mental dan intelektual. karena kekeringan spiritual
- QS. AL Alaq : iqra' sangat dipakai dalam keilmuan di FMIPA dan Kesehatan
- apapun yang kita lakukan akan bernilai ibadah jika dilakukan dengan membaca basmalah
- banyak ayat ayat dalam alquran tentang sains dari pada ilmu hukum, lebih dari 781 ayat ilmu pengetahuan
- yang saat ini kita lakukan civitas akademika FMIPA dan kesehatan adalah berkemajuan, dengan ikut kemajuan dalam kurikulum saat ini OBE
- Melihat : basyaro, nazir, roa. siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan/kekuatan / kekuasaan, jika tak mampu ubahlah dengan lisan/teguran, kalau tidak bisa maka ubahlah dengan hati/mendiamkan tapi merupakan selemah lemahnya iman.
- PERAN ILMU KEMBALI MELIHAT BAGAIMANA LUARBIASANYA CIPTAAN ALLAH DI BUMI
- JANGAN LELAH UNTUK SELALU MELIHAT LAGI, (LAKUKAN RISET UNTUK CIPTAAN ALLAH SWT YANG KITA LIHAT)
- kata kata dalam lafadz alquran tidak sembarangan untuk menggunakannya mana yang lebih kuat penggunaannya maka pakai dalil yang ada dalam alquran - hadits, harus pakai sanad , untuk memahami kata per kata dalam alquran
- sahabat rasulullah juga ada juga yang belum memahami kata per kata dalam alquran, jadi harus memahami sanad kalam allah, banyak kata tapi satu makna, atau sebaliknya satu kata banyak makna
- saya bersedia untuk bekolaborasi dalam artikel jurnal dan terbuka dengan dosen lainnya FMIPA dan Kesehatan dengan keilmuan tafsir alquran
- dosen FMIPA Kes bisa menjelaskan debu terintegrasi dengan alquran, jangan hanya mendapatkan nobel di dunia tapi juga harus dapat nobel di akhirat
- ada beberapa kajian integrasi alquran dan sains dalam scholar pembicara
Dalam konteks studi Islam, Sanad Kalam Allah merujuk pada jalur transmisi atau silsilah penyampaian firman Allah (Al-Qur'an) dari Allah SWT hingga sampai kepada umat manusia saat ini.
Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami konsep ini secara ringkas dan terstruktur:
1. Jalur Utama Transmisi (Sanad Tertinggi)
Al-Qur'an ditransmisikan melalui jalur suci yang tidak terputus:
- Allah SWT: Sumber pertama dan pemilik kalam (firman).
- Malaikat Jibril: Malaikat keercayaan yang mendengar langsung dari Allah.
- Nabi Muhammad SAW: Menerima wahyu dari Jibril untuk disampaikan kepada manusia.
- Para Sahabat: Mendengar, menghafal, dan menuliskan wahyu langsung dari Nabi.
- Tabi'in & Tabi'ut Tabi'in: Generasi penerus yang menjaga keaslian bacaan.
- Para Imam Qira'at: Ulama yang membukukan metode bacaan (seperti Imam Asim, Nafi, dll).
- Para Guru & Murid: Silsilah ulama Al-Qur'an yang bersambung hingga hari ini.
2. Arti Penting Sanad dalam Al-Qur'an
- Menjaga Otentisitas: Memastikan tidak ada perubahan satu huruf pun sejak zaman Nabi.
- Validasi Bacaan (Tajwid): Menjamin cara pengucapan (makhraj dan sifat huruf) sesuai contoh Nabi.
- Ijazah: Pengakuan resmi dari seorang guru bahwa bacaan muridnya telah sah dan bersambung ke Rasulullah.
3. Dua Jenis Transmisi Utama
- Sanad Riwayah: Silsilah yang berfokus pada ketepatan lafaz, bacaan, dan hafalan secara lisan (talaqqi).
- Sanad Dirayah: Silsilah yang berfokus pada pemahaman makna, tafsir, dan hukum di dalamnya.
QS. AL- MULK: AYAT 3-4
الَّذِىۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰى فِىۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَۙ هَلۡ تَرٰى مِنۡ فُطُوۡرٍ
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?
ثُمَّ ارۡجِعِ الۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ يَنۡقَلِبۡ اِلَيۡكَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيۡرٌ
Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.
hadits:
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم
Berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, Nabi SAW membagi cara mengatasi kemungkaran menjadi tiga:
- Dengan tangan (kekuasaan): Bagi yang memiliki wewenang atau kemampuan fisik.
- Dengan lisan: Melalui nasihat atau perkataan yang baik.
- Dengan hati: Membenci perbuatan tersebut, yang merupakan selemah-lemahnya iman.
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (Surat Al-Hasyr Ayat 19)
Pernyataan bahwa melupakan Allah membuat manusia lupa diri bersumber dari Surat Al-Hasyr Ayat 19, di mana Allah SWT berfirman agar umat Islam tidak menjadi orang-orang yang melupakan-Nya sehingga mereka dilupakan dari diri mereka sendiri. [1, 2]
Penjelasan Makna
- Lupa kepada Allah: Meninggalkan perintah-Nya, tidak beribadah, dan lalai dari mengingat Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari. [1]
Pelajaran Penting
- Hilang kesadaran diri: Orang yang jauh dari agama tidak lagi mengenali siapa dirinya yang sebenarnya sebagai hamba yang lemah dan butuh kepada Allah.
- Kehilangan orientasi: Melupakan akhirat dan hanya mengejar dunia yang fana.
- Pentingnya muhasabah: Mengingat Allah mengembalikan kesadaran kita untuk terus menyiapkan bekal amal saleh terbaik. [1]
No comments:
Post a Comment