EDUKASI KESEHATAN MANAJEMEN STRES BAGI KELUARGA PASIEN KAMIS ,23 APRIL 2026 RUANG ICU RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
TEAM:
Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
CI Pendidikan : Ns. Yeni Yarnita , M. Kep., Sp. Kep.
CI Lahan : Ns. Efi Nelfia, S. Kep.
Alya Novira
Hendrikson Hamido
Olga Fitriani Nazri Putri
Rani Masyarah
MK PKP KMB Maret - 17 Mei 2026
Mahasiswa keperawatan UMRI angkatan tahun 2023
TEAM PRESEPTORSHIP:
Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep
WIWIK NORLITA, A.Kep,S.Kep.,M.Kes
Ns. SILVIA ELKI PUTRI, S.Kep,M.Kep, Sp.Kep,K
Ns. YENI YARNITA, S.Kep,M.Kep,Sp.MB
Ns. PRATIWI GASRIL, S.Kep,M.Kep,Sp.Kep.K
Ns. JULI WIDIYANTO, S.Kep,M.Kes
Dr. Ns. MASWARNI, S.Kep,M.Kes
Dr. Ns. TRI SIWI KN, S.Kep,M.Kes
CHAIRIL, S.Kep.,SKM,M.KL
PMB 2026
GELOMBANG 1: 6 November 2025 - 28 Februari 2026
GELOMBANG 2: 2 Maret - 4 juli 2026
GELOMBANG 3: 6 Juli - 5 September 2026
Keperawatan Umri unggul 
Ayo kuliah di keperawatan Umri
Keperawatan Umri terbaik 
Universitas Muhammadiyah Riau https://daftar.umri.ac.id/
Pendaftaran Offline : Senin-Sabtu jam 08.00-16.00 wib
Kampus Utama UMRI, Jl. Tuanku Tambusai , Pekanbaru, Riau
”Spritual, Mobility, Accountable, Responsive, Togetherness (SMART)”
DOKUMEN
Pokok bahasan : Manajemen Stres Bagi Keluarga Paien Ruang
ICU
Sasaran : Keluarga Pasien di Ruang ICU
Hari/Tanggal : Kamis, 23 April 2026
Jam : 09.00 s/d 09.45 WIB
Tempat : Ruang Tunggu ICU
Waktu : 45 menit
A. Latar Belakang
Perawatan pasien di ruang Intensive Care Unit (ICU) merupakan kondisi
kritis yang tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga memberikan tekanan
psikologis yang signifikan bagi keluarga. Lingkungan ICU yang penuh dengan
teknologi canggih, kondisi pasien yang tidak stabil, serta ketidakpastian
prognosis seringkali memicu respon emosional berupa kecemasan, ketakutan,
bahkan stres berat pada anggota keluarga (Davidson et al., 2017). Stres yang
dialami keluarga dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengambil
keputusan medis serta berinteraksi dengan tenaga kesehatan.Keluarga pasien
ICU sering mengalami kondisi yang dikenal sebagai family stress syndrome atau
post-intensive care syndrome-family (PICS-F), yang meliputi kecemasan,
depresi, dan gangguan stres pascatrauma. Penelitian menunjukkan bahwa lebih
dari 50% anggota keluarga pasien ICU mengalami tingkat stres yang tinggi
selama masa perawatan (Azoulay et al., 2020). Hal ini disebabkan oleh
kurangnya informasi, komunikasi yang tidak efektif dengan tenaga kesehatan,
serta keterbatasan akses terhadap pasien. lingkungan ICU yang cenderung asing
dan penuh tekanan dapat memperburuk kondisi emosional keluarga.
Keterbatasan waktu kunjungan, aturan yang ketat, serta minimnya keterlibatan
keluarga dalam proses perawatan pasien seringkali membuat keluarga merasa
terisolasi dan tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang dihadapi. Hal ini
dapat menurunkan kemampuan coping keluarga dalam menghadapi stres serta
mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan terkait perawatan pasien.
.
Manajemen stres menjadi penting untuk membantu keluarga dalam
menghadapi situasi tersebut. Intervensi seperti edukasi kesehatan, komunikasi
terapeutik, dukungan emosional, serta keterlibatan keluarga dalam perawatan
pasien terbukti dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan coping
keluarga (Kentish-Barnes et al., 2018). Pendekatan family-centered care di ICU
juga menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis
keluarga.
Perawat memiliki peran penting dalam mengidentifikasi tingkat stres
keluarga dan memberikan intervensi yang tepat. Dengan manajemen stres yang
baik, keluarga tidak hanya mampu menghadapi kondisi kritis pasien dengan
lebih adaptif, tetapi juga dapat berperan aktif dalam proses perawatan dan
pengambilan keputusan. Penting untuk mengembangkan strategi manajemen
stres yang komprehensif bagi keluarga pasien ICU sebagai bagian dari
pelayanan keperawatan yang holistik. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang
memiliki intensitas interaksi paling tinggi dengan pasien dan keluarga memiliki
peran strategis dalam mengidentifikasi tingkat stres yang dialami keluarga serta
memberikan intervensi yang sesuai. Perawat tidak hanya berperan dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, tetapi juga sebagai edukator,
konselor, dan advokat bagi keluarga. Dengan penerapan manajemen stres yang
efektif, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis keluarga,
memperkuat dukungan terhadap pasien, serta meningkatkan kualitas pelayanan
di ruang ICU secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan
mengembangkan strategi manajemen stres yang komprehensif bagi keluarga
pasien ICU sebagai bagian integral dari praktik keperawatan profesional.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta mampu
meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan keluarga dalam
mengenali serta mengelola stres yang dialami selama anggota keluarganya
menjalani perawatan intensif, sehingga keluarga mampu mengembangkan
mekanisme coping yang adaptif, mempertahankan kondisi psikologis yang
stabil, serta berperan secara aktif dan positif dalam mendukung proses
perawatan dan pengambilan keputusan terkait kondisi pasien.
2. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang pengertian stres,
penyebab, serta dampak stres yang dialami selama anggota keluarga
dirawat di ruang ICU.
2. Membantu keluarga mengenali tanda dan gejala stres, baik secara fisik,
emosional, maupun perilaku.
3. Memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai pentingnya
manajemen stres dalam menjaga kesehatan psikologis dan kemampuan
mengambil keputusan.
4. Mendorong keluarga untuk membangun komunikasi yang efektif
dengan tenaga kesehatan terkait kondisi pasien.
5. Membantu keluarga memanfaatkan sumber dukungan sosial dan
spiritual sebagai bagian dari strategi coping.
6. Mengevaluasi pemahaman keluarga setelah diberikan penyuluhan
terkait manajemen stres.
4. Pelaksanaan Kegiatan
a. Topik: Manajemen Stres Bagi Keluarga Pasien di Ruang ICU
b. Sasaran : Sasaran penyuluhan adalah Keluarga Pasien di Ruang
ICU
c. Metode: Penyampaian Materi
d. Media dan Alat: Leaflet
e. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Kamis,23 April 2026
Jam : 09.00 s/d 09.45
Tempat : Ruang Tunggu ICU
h. Evaluasi
Kriteria hasil sebagai berikut :
a. Evaluasi Struktur
1.Kegiatan penyuluhan terlaksana sesuai waktu
2.Peserta penyuluhan dapat hadir sesuai rencana
b. Evaluasi Proses
1. Peserta berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan
2. Selama penyuluhan berlangsung, semua peserta dapat
mengikuti dengan penuh perhatian
c. Evaluasi Akhir
Diharapkan peserta mampu menyimpulkan kembali
pembahasan tentang Manajemen Stres
MATERI PENYULUHAN
Manajemen Stres Bagi Keluarga Pasien di Ruang ICU
A. Pengertian Stres
Stres merupakan suatu respon fisiologis dan psikologis yang muncul
ketika individu menghadapi tuntutan atau tekanan yang dianggap melebihi
kemampuan adaptasi yang dimilikinya. Respon ini melibatkan interaksi
kompleks antara sistem saraf, hormon, dan kondisi emosional, yang bertujuan
untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (homeostasis). Stres tidak selalu
bersifat negatif, karena dalam tingkat tertentu dapat memotivasi individu
untuk beradaptasi dan menghadapi tantangan. Namun, apabila stres
berlangsung dalam waktu lama atau tidak terkelola dengan baik, maka dapat
berdampak buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental individu (Lazarus
& Folkman, 1984; Schneiderman et al., 2005).
Secara psikologis, stres juga dipandang sebagai hasil dari proses penilaian
kognitif (cognitive appraisal) individu terhadap suatu situasi yang dianggap
mengancam atau menekan. Ketika individu menilai bahwa sumber daya yang
dimiliki tidak cukup untuk mengatasi tuntutan tersebut, maka akan muncul
respon stres yang ditandai dengan kecemasan, ketegangan, dan perubahan
perilaku. Dalam konteks kesehatan, khususnya pada keluarga pasien di ruang
ICU, stres seringkali dipicu oleh ketidakpastian kondisi pasien, keterbatasan
informasi, serta tekanan emosional yang tinggi, sehingga memerlukan
intervensi manajemen stres yang tepat untuk mencegah dampak psikologis
yang lebih berat (Cohen et al., 2007; McEwen, 2007).
B. Penyebab Stres pada Keluarga Pasien ICU
Beberapa faktor yang menyebabkan stres antara lain:
1. Kondisi pasien yang kritis dan tidak stabil
2. Ketidakpastian prognosis (kesembuhan pasien)
3. Kurangnya informasi tentang kondisi pasien
4. Lingkungan ICU yang penuh alat medis dan aturan ketat
5. Keterbatasan waktu kunjungan
6. Beban ekonomi dan tanggung jawab keluarga
7. Perubahan peran dalam keluarga
C. Tanda dan Gejala Stres
a. Fisik: Sakit kepala, Jantung berdebar, Gangguan tidur, Mudah lelah
b. Psikologis: Cemas, takut, sedih, Mudah marah, Sulit berkonsentrasi
c. Perilaku: Menarik diri, Menangis berlebihan, Sulit mengambil Keputusan
D. Dampak Stres
Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat memberikan dampak
signifikan terhadap kesehatan fisik individu. Secara fisiologis, stres memicu
aktivasi sistem saraf simpatis dan peningkatan hormon stres seperti kortisol yang,
jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat menyebabkan gangguan kesehatan
seperti hipertensi, penurunan sistem imun, gangguan tidur, serta peningkatan
risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan
stres kronis berhubungan dengan meningkatnya kejadian gangguan metabolik dan
penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan, karena tubuh berada dalam kondisi
siaga terus-menerus (chronic stress response) (Mariotti, 2021; Yaribeygi et al.,
2020).
Selain dampak fisik stres juga berdampak besar terhadap kesehatan
psikologis dan sosial individu. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan
gangguan mental seperti kecemasan, depresi, kelelahan emosional (burnout), serta
menurunkan kualitas hidup. Individu yang mengalami stres tinggi cenderung
mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, serta menjaga
hubungan sosial yang sehat. Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa stres
yang tidak dikelola dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan meningkatkan risiko
gangguan psikologis jangka panjang, terutama pada individu yang berada dalam
situasi tekanan tinggi seperti keluarga pasien di ruang ICU (Salari et al., 2020;
Santomauro et al., 2021).
E. Pentingnya Manajemen Stres
Manajemen stres merupakan upaya yang sangat penting dalam menjaga
keseimbangan kesehatan fisik dan mental individu, terutama dalam menghadapi
tekanan yang berkepanjangan. Pengelolaan stres yang efektif dapat membantu
menurunkan aktivasi berlebih pada sistem saraf simpatis dan kadar hormon stres
seperti kortisol, sehingga mencegah terjadinya gangguan kesehatan seperti
hipertensi, gangguan tidur, serta penurunan sistem imun. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa penerapan strategi manajemen stres yang tepat, seperti
teknik relaksasi, mindfulness, dan dukungan sosial, berkontribusi dalam
meningkatkan kesejahteraan individu serta menurunkan risiko penyakit kronis
yang berkaitan dengan stres (Yaribeygi et al., 2020; Pascoe et al., 2021).
Manajemen stres juga memiliki peran penting dalam meningkatkan
kesehatan psikologis dan kualitas hidup individu. Kemampuan dalam mengelola
stres memungkinkan seseorang untuk berpikir lebih jernih, mengontrol emosi,
serta mengambil keputusan secara rasional dalam situasi yang penuh tekanan.
Studi terbaru menunjukkan bahwa individu yang memiliki kemampuan coping
yang baik cenderung memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah
serta mampu beradaptasi lebih efektif terhadap perubahan atau kondisi sulit,
termasuk pada keluarga pasien di ruang ICU (Salari et al., 2020; Labrague,
2021).
F. Cara Mengelola Stres (Teknik Manajemen Stres)
a. Teknik Relaksasi Napas Dalam
Tarik napas perlahan melalui hidung (4 detik)
Tahan 2–3 detik
Hembuskan perlahan melalui mulut
Ulangi 5–10 kali
b. Berpikir Positif
Fokus pada hal yang bisa dikendalikan
Hindari pikiran negatif berlebihan
c. Komunikasi Efektif
Bertanya kepada tenaga kesehatan tentang kondisi pasien
Menyampaikan perasaan dan kekhawatiran
d. Dukungan Sosial
Berbagi cerita dengan keluarga atau teman
Tidak menghadapi masalah sendirian
e. Pendekatan Spiritual
Berdoa sesuai keyakinan
Mendekatkan diri kepada Tuhan
f. Istirahat yang Cukup
Mengatur waktu istirahat
Tidak memaksakan diri terus-menerus berada di rumah sakit
DAFTAR PUSTAKA
Azoulay, E., et al. (2020). Symptoms of anxiety, depression, and peritraumatic
dissociation in critical care clinicians. American Journal of Respiratory
and Critical Care Medicine, 202(10), 1388–1398.
Davidson, J. E., et al. (2017). Guidelines for family-centered care in the ICU.
Critical Care Medicine, 45(1), 103–128.
Kentish-Barnes, N., et al. (2018). Effect of a condolence letter on grief symptoms
among relatives of patients who died in the ICU. New England Journal
of Medicine, 378(6), 549–558.
No comments:
Post a Comment