(DOSEN:Ns. ISNANIAR,S.Kep,M.Kep)
SEMESTER GANJIL 20201 TAHUN 2020/2021
SARAN-KRITIKAN DAN MASUKAN UNTUK DOSEN Ns. ISNANIAR,S.Kep,M.Kep
(DOSEN:Ns. ISNANIAR,S.Kep,M.Kep)
SEMESTER GANJIL 20201 TAHUN 2020/2021
SARAN-KRITIKAN DAN MASUKAN UNTUK DOSEN Ns. ISNANIAR,S.Kep,M.Kep
(PENA: Drs. MARIN ARIF, RAHMAT DAN ISNANIAR)
Secara keseluruhan materi yang akan kita bahas meliputi empat sub-pokok bahasan, yaitu :
1. Cara-cara memandikan jenazah
2. Cara-cara mengkafani jenazah
3. Cara-cara menyalatkan jenazah
4. Cara-cara menguburkan jenazah
Dengan pokok bahasan ini, diharapkan kita dapat memahami dan melaksanakan cara-cara memandikan, mengafani, menyalatkan serta menguburkan jenazah, dengan baik dan benar, yakni sesuai dengan contoh yang diberikan Rasulullah SAW.
(PENA: Drs. MARIN ARIF, RAHMAT DAN ISNANIAR)
Sakit merupakan gejala natural, yang semua orang akan mengalaminya, karena penderitaan sakit merupakan implikasi dari ketidak seimbangan mekanisme kerja fisik, akibat salah satu organnya terkena gangguan, baik karena serangan virus yang merusak sistem kerjanya, atau karena sebab-sebab lain yang membuat kerjanya tidak normal, sehingga mengganggu sistem kerja tubuh secara keseluruhan.
Dilihat dari satu segi, sakit merupakan musibah yang menimpa penderita. Akan tetapi disisi lain, sakit merupakan suatu momentum yang akan kembali menyadarkan kita akan kematian, menyadarkan setiap insan untuk selalu berada lebih dekat dengan Tuhan, ingat akan dosa-dosa yang telah dilakukannya sewaktu sehat dan segar, dan ketika dia jaya dalam hidupnya.
Dalam kesempatan seperti itu pulalah setiap penderita kemudian menyesali segala kesalahan yang telah dilaluinya, sehingga sakit menjadi sarana yang dapat membangkitkan kesadaran setiap orang untuk secara natural/alami dia kembali kepada Allah SWT atau bertaubat.
Oleh sebab itu, jika seseorang muslim menderita sakit maka hendakah dia bersedia memenuhi beberapa petunjuk dan menerima nasehat Allah dan Rasul-Nya berikut ini :
1. Harus bersikap sabar; yakni dia harus menerima musibah tersebut dengan kelapangan hati dan terus berusaha sedaya mampu untuk mengobati penyakitnya itu, sehingga sembuh kembali. Sabar merupakan salah satu norma akhlaq atau etika Islam, yang disamping akan membawa kebahagiaan serta ketenangan batin bagi yang bersangkutan, juga akan sangat dicintai Allah, sehingga Allah mengatakan bahwa orang-orang sabar akan dipenuhi seluruh pahalanya tanpa hisab, sebagaimana dikemukakan dalam surat al-zumar ayat ke-10 yang berbunyi:
(PENA: Drs. MARIN ARIF, RAHMAT DAN ISNANIAR)
Motto :
Tiap – tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memeperdayakan.(QS. Ali Imran ayat : 185)
Memandikan jenazah itu, harus dikerjakan oleh keluarganya yang tedekat. Manakala tidak seorangpun yang mengetahui dan mengerti tentang pelaksanaannya dan hal ini adalah merupakan salah satu aib dan kesalahan yang memalukan (malu besar). Maka barulah dilakukan oleh seseorang atau orang lain yang cukup terpercaya, sehingga dapat merahasiakan aib dan keganjilan- keganjilan yang mungkin terlihat pada si mayat.(Hadits Riwayat Ahmad)
Manusia adalah makhluk yang memerlukan orang lain atau masyarakat dalam hidupnya, karena tak bisa mengurus hidupnya sendiri-sendiri, sehebat dan sekaya apapun dia. Seperti tanggung jawab pelaksanaan segala sesuatu atas seseorang yang meninggal dunia, terpikullah atas mereka yang masih hidup atau masyarakat.
Supaya pelaksanaan urusan jenazahnya tidak tertunda-tunda, karena saling tunggu menunggu, maka Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kepada umat Islam sebagai fardhu kifayah, yakni kewajibban kolektif (bersama) umat Islam. Namun jika dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa orang saja, maka sudah dapat dipandang sah dan tidak diwajibkan lagi melakukannya bagi yang lainnya.
Apabila memang tidak ada seorangpun yang mengurus penyelenggaraannya, maka seluruh masyarakat dilingkungan itu dituntut dihadapan Allah dan semuanya ikut menanggung dosa.
Mayoritas dikalangan umat Islam, mengira atau berpendapat bahwa menuntut ilmu atau mempelajari pengetahuan tentang penyelenggaraan jenazah adalah juga fardhu kifayah, tidak fardhu „ain, hal ini jelas merupakan pendapat yang sangat keliru dan sangat menyesatkan umat Islam.
Karena menurut Allah dan Rasul-Nya, bahwa menuntut ilmu itu, dan termasuk menuntut ilmu tentang masalah jenazah adalah fardhu „ain bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan, sebagai mana diperintah Nabi SAW. Dalam salah satu haditsnya yang berbunyi :
Artinya : Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi tiap-tiap orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan. (H.R. Ibnu Majah)
Kekeliruan pendapat diatas, telah menimbukan akibat yang sangat memprihatinkan ditengah-tengah masyarakat Islam, sehingga orang yang memiliki pengetahuan tentang penyelenggaraan jenazah menjadi sangat langka. Hal ini terjadi tidak hanya di desa-desa terpencil, tetapi dikotakota juga sering terjadi, sehingga betapa susahnya mencari petugas-petugas untuk pengurusan jenazah, terutama petugas memandikan jenazah.
Fenomena-fenomena ini diakui oleh ketua-ketua RT, RW atau Pengurus Masjid dan Mushalla bagian sosial kematian, mereka sering mondar-mandir kesana-kemari bahkan sampai ke kelurahan lain, untuk mendapatkan petugas memandikan jenazah. Hal ini terjadi ketika petugas yang biasa bertugas atau dipercaya untuk memandikan jenazah tersebut berhalangan karena sakit atau pulang kampung dan halangan lain.
Menyadari fenomena-fenomena diatas sering terjadi, maka sudah banyak juga ketua-ketua RT, RW atau Pengurus Masjid dan Mushalla bagian sosial kematian berinisiatif mengadakan penataran dan pelatihan penyelenggaraan jenazah bagi warga atau jemaahnya.
Maka untuk mengantisipasi kelangkaan dan kesulitan mendapatkan tenaga atau petugas pengurusan jenazah, terutama di desa-desa terpencil mereka sangat perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan penyelenggaraan jenazah, disamping pengetahuan dan keterampilan yang lain.
Semula materi praktek pengurusan jenazah ini hanya merupakan catatan-catatan yang berserakan, lalu kemudian dirasa perlu untuk dikumpulkan dan penulis susun menjadi diktat kemudian disusun dan diterbitkan menjadi buku yang berjudul “Pedoman Praktis Penyelenggaraan Jenazah” yang cetakan pertamanya tahun 1996, kemudian untuk memenuhi permintaan jemaah masjid dan mushalla agar dicetak ulang kembali, namun karena kesibukan penulis memberi kuliah dan mengisi ceramah-ceramah agama, maka baru tahun 2016 ini bisa penulis penuhi harapan tersebut, semoga dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan agama serta dapat bermanfaat.
"Cerita Kisah Kasihku di Kampus"
Desember 1995...waktu itulah aku memutuskan untuk menjalin kasih dengan si A...dan saat itu tidak akan pernah aku lupakan.
Kami satu angkatan tapi berbeda jurusan.
Si A tipe orang yang humoris...orangnya supel ..pandai bergaul dengan siapa saja...enak diajak ngobrol dan dimintai pendapat..sedikit cerewet..menurutku, tapi juga bisa serius dan tegas dalam situasi tertentu. Pada awalnya mungkin itu yang membuat aku mengaguminya...karena kepribadiannya dan kepintarannya...kalau dari segi wajah...bisa dikatakan dia biasa saja..tidak jelek dan tidak juga tampan. Bukan untuk menyombongkan diri...padahal saat itu ada kakak tingkat yang menyukaiku...yang bila dibandingkan dengan si A...jauh lebih tampan dan kaya...tapi aku tidak melihat dari segi fisik ataupun materi.
Si A adalah mahasiswa yang mandiri...dia kuliah dengan biaya sendiri...kiriman dari orangtuanya tidak mencukupi...tapi dia tahu itu dan tidak mempermasalahkannya..
Dia sangat aktif di kampus...dia ikut di 2 organisasi kampus..HMI dan KOPMA. Tapi jenjang karirnya lebih baik di KOPMA (Koperasi Mahasiswa). Dia diangkat jadi pengurus di bidang Usaha...kemudian menjadi Pengawas dan terakhir menjadi Manager Kopma.
Pada waktu itu...Kopma kampus kami termasuk salah satu Kopma yg terbaik di kota Y...yang memiliki berbagai bidang usaha dan memiliki 30 orang karyawan.
Di kampus banyak yang mengenalnya karena dia memang termasuk salah satu aktifis kampus...bahkan dia juga sering diminta untuk menjadi pembicara di kampus lain apabila ada kegiatan seminar...bahkan sering mengikuti kegiatan diluar kota Y.
Dengan kesibukannya itu sedikit membuat aku susah bertemu dengannya...kalau aku yang tidak menghampirinya mungkin susah aku untuk bertemu dengannya...tapi aku menyadari itu. Aku bukan tipe perempuan yang egois...yang selalu menuntut dia untuk selalu ada didekatku.
Aku tidak pernah menghalangi kegiatannya dikampus...apapun yang dilakukannya ...aku selalu mendukungnya. Cuma 1 yang menjadi kekurangannya saat itu...kuliahnya sedikit terganggu...memang untuk mata kuliah nilainya bagus...tapi ketika akan membuat skripsi...jadi terganggu, karena kesibukannya d kampus dia tidak bisa membagi waktunya...skripsi sempat tertunda dan itu yang membuat dia menjadi lambat menyelesaikan S1-nya...kalau tidak ada teguran dari kampus untuk menyelesaikan skripsinya...bahwa dia akan di DO...mungkin dia tidak akan menyelesaikan skripsinya. Tapi alhamdulillah...dengan teguran itu membuat dia harus menyelesaikan skripsinya.
Hubunganku dengan si A tidak pernah aku ceritakan dengan orangtuaku...karena aku berfikir...belum saatnya untuk memberitahukannya dan karena kami tidak tinggal di kota yang sama...jadi menurutku... orangtuaku tidak perlu tahu.
Suatu hari aku sakit.. yang membuat aku harus di operasi dan tentu saja kabar itu harus disampaikan ke orangtuaku. Sebelum mereka sampai di kota Y, dialah yang sibuk mengurus segala administrasi d rumah sakit. Dia dan teman dekatkulah secara bergantian menemaniku d Rumah Sakit. Setelah 3 hari aku dirawat barulah orangtuaku datang. Aku memperkenalkan teman-temanku termasuk dia...tapi aku tidak mengatakan bahwa si A adalah pacarku...dan dia tidak marah...dia mengerti... karena ada rasa takut untuk mengatakannya kepada orangtuaku..aku takut mereka tidak menyukainya.
Satu minggu aku dirawat...selama itu pula dia menemaniku di Rumah sakit..padahal orangtuaku juga ada disitu.
Orangtuaku sedikit curiga dengannya...tapi mereka tidak menanyakan langsung pada diriku...dan aku merasa kedua orangtuaku tidak begitu menyukainya...tapi aku cuek aja. Akhirnya aku dizinkan pulang dan kembali ke kost. Orangtuaku tidak bisa lama- lama meninggalkan pekerjaannya karena mendapat cuti hanya beberapa hari dan akhirnya mereka kembali ke rumah. Aku pikir orangtuaku tidak mempertanyakan tentang si A...tapi ternyata salah. Orangtuaku sudah mencari informasi tentang si A kepada adikku yg juga kuliah dikota yang sama. Entah apa yang disampaikan adikku tentangnya. Aku ditelpon dan mendapatkan teguran dari orangtuaku untuk tidak berhubungan dengan si A...aku tidak boleh pacaran dengannya ataupun dengan yang lainnya. Sedih juga mendengarnya...aku terdiam...tidak membantah. Hal itu aku sampaikan kepadanya...dan dia sedih juga mendengarnya. Aku membuat keputusan untuk mengatakan pada adikku dan orangtuaku bahwa kami sudah putus dan aku tidak pacaran lagi ...karena mereka kan tidak tinggal di kota yang sama denganku dan mereka tidak bisa melihat. Akhirnya aku membohongi kedua orangtuaku dan mereka percaya... jadinya aku pacaran diam- diam.
Beberapa tahun berlalu hubunganku dengan si A tetap berjalan dengan baik. Disaat sudah mau semester akhir...ternyata orangtuaku mempunyai rencana untuk menjodohkan aku dengan seseorang. Aku kaget mendengarnya. Laki- laki itu adalah keponakan dari teman sekantor ayahku...tentu saja aku tidak mengenalnya...dia tinggal di kota P...sudah bekerja dan kehidupannya sudah berkecukupan. Tapi aku menolaknya dengan berbagai alasan...akhirnya orangtuaku mau mengerti.
Tapi keinginan orangtuaku untuk mencarikan jodohku tidak berhenti begitu saja. Mereka berusaha untuk menjodohkanku dengan seseorang yang memang aku kenal. Inisialnya E...dia jg sudah bekerja. aku memang sudah mengenalnya sejak lama bahkan aku sudah menganggapnya seperti abang sendiri. Aku tidak mau dan menolak perjodohan itu...dan itu sempat membuat orangtua ku...marah...tapi aku hanya diam...tidak melakukan perdebatan dengan orangtuaku.
Untuk yang ke 3 kalinya...orangtuaku masih saja berusaha untuk mencarikan jodoh untukku. Dia adalah anak dari teman ayahku juga. Tapi laki-laki itu belum bekerja dan masih kuliah di PascaSarjana (S2). Dia berasal dari keluarga yang berada dan orangtua memang ingin mencarikan jodoh untuk anaknya walaupun belum bekerja dan mereka menyanggupi untuk membiayai hidup anaknya selama belum mendapat pekerjaan. Sekali lagi aku menolaknya...dan tentu saja orangtuaku marah.
Orangtuaku marah...mereka bingung harus berbuat apalagi pada diriku. Mereka sempat bertanya padaku..."apa yang kau cari lagi"...kami sudah mencarikan jodoh yang baik untuk mu...untuk masa depanmu...supaya kau hidup berkecukupan. Ternyata saat itu mereka memandangnya hanya dari materinya saja.
Aku langsung jujur pada mereka dan mengatakan bahwa aku masih berhubungan dengan si A.. aku mencintainya dan aku ingin dialah yang akan menjadi suamiku.
Orangtuaku marah...mereka mengatakan padaku Waktu terus berjalan...aku selalu berusaha untuk meyakinkan orangtuaku tentang pilihanku...dan akhirnya mereka menyetujuinya ..mungkin karena melihat aku sudah yakin dengannya...dan mengingat umurku saat itu sudah menginjak 27 tahun.
Aku sangat bahagia...mereka menyutjui hubunganku dan menyetujui pernikahan aku dengannya. Tak ada kata yang dapat aku ucapkan selain rasa syukur dan terima kasihku pada kedua orangtuaku karena sudah merestui hubungan kami dan menikahkan kami...."apa yang kau harapkan dari nya...masih kuliah...belum punya pekerjaan...belum jelas nasibnya..". Ada perdebatan sedikit dengan orangtuaku. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku tidak melihat seseorang dari hartanya ataupun kekayaan orangtuanya. Aku meyakinkan orangtuaku bahwa si A adalah orang yang baik...dia tipe orang yang pekerja keras..bertanggungjawab..dan agama juga bagus. Kalau urusan rezeki...itu Allah swt yang ngatur...yang penting kita mau berusaha. Aku berusaha untuk meyakinkan mereka tentang pilihanku sendiri. Tidak ada jawaban saat itu...tapi aku tidak memaksa...biarlah mereka berfikir dulu.
Akhirnya di bulan mei 2002 ...acara ijab - kabul pun berlangssung dan dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang cukup meriah. Hari itu...adalah hari yang sangat membahagiakan bagi diriku dan dia...ternyata Allah swt mendengar doaku ...untuk mempersatukan kami... menjadikan dia sebagai suamiku...seseorang yang akan selalu bersamaku menjalani hari-hari dalam kehidupanku. Terimakasih ya Allah atas segala nikmat yang telah engkau berikan padaku...., kehidupan rumahtangga aku dan dia pun akan dimulai.
Workshop Penulisan Buku: Dari Ide Kreatif hingga Menjadi Buku Ber-ISBN bersama UMRI Press Rabu, 17 Juni 2026 UMRI Press Bekali Dosen Menulis...