Friday, April 24, 2026

Pengajian Bulanan Universitas Muhammadiyah Riau Jum'at, 24 April 2026 Penceramah : Ustadz Dr. Lari Nijal, M.A

 Pengajian Bulanan Universitas Muhammadiyah Riau Jum'at, 24 April 2026 Penceramah : Ustadz Dr. Lari Nijal, M.A





Kepada Yth. Bapak/Ibu

Dosen dan Tenaga Kependidikan

Se-Lingkungan Universitas Muhammadiyah Riau

di –Tempat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Doa dan harapan mudah-mudahan kita semua senantiasa berada dalam lindungan dan Inayah Allah SWT., serta sukses dalammenjalankan aktivitas sehari-hari, Aamiin.

Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir pada Pengajian Bulanan Universitas Muhammadiyah Riau, yang InsyaAllah dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Jum'at, 24 April 2026

Pukul : 08.30 WIB s.d selesai

Tempat : Masjid Baitul Hikmah Universitas Muhammadiyah Riau

Penceramah : Ustadz Dr. Lari Nijal, M.A.

(Ketua Majelis Tarjih PDM Kota Pekanbaru)

Demikian undangan ini disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tertanda 

Kuasa Rektor

Dr. Baidarus, M.M., M.Ag






CATATAN:

Ustadz Dr. Lari Nijal, M.A

  • QS 
  • orang yang telah melakukan ibadah, lalu hati mereka cemas atau takut, mereka akan kembali kepada tuhannya. mereka sudha beribadah sebaik baiknya tapi tetap cemas ibadahnya diterima atau tidak oleh Allah SWT, karena mereka dalah orang orang yang baik, ingin terdepan dalam beribadah kepada Allah SWT. 
  • Ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang orang yang rajin beribadah namun hatinya cemas atau takut amalannya tidak diterima adalah QS. Al-Mu'minun [23] ayat 60

QS. Al-Mu'minun: 60
  • وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَۙ
    "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (sedekah, zakat, ibadah), dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya."
  • Allah berfirman: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
  • ada yang beramal tapi tetap bermaksiat
  • ada yang beribadah tapi amalnya belum tentu diterima oleh Allah SWT
  • ada yang mengharapkan bahwa dengan beribadah shalat duha untuk menambah rezekinya, ternyata setelah dilakukan sampai banyak rakaat namun rezekinya tidak bertambah, doanya belum dikabulkan Allah SWT, malah Allah uji dengan masalah finansial. beribadah bukan untuk mendapatkan harta
  • namun shalat menjauhkan kita dari berbuat maksiat
  • batal wudhu karena flatus (kentut) boleh langsung kembali berwudhu tanpa istinja, namun tetap lebih baik didahului dengan istinja'
  • WUDHU: membasuh wajah dan tangan, menyapu kepala, dan membasuh kaki dan menggosok (mencuci wajah-tangan dan kaki) menghadap ke kiblat
  • wudhu dengan memakai sepatu bagian kaki boleh menyapu bagian atas sepatu dan boleh melakukan shalat dengan bersepatu
  • ada yang banyak amalnya, tapi bisa saja di sisi Allah SWT nilainya tak ada, namun bisa menjadi ahli neraka, kalau masih bermasalah dalam niat dalam melakukan ibadah tersebut
  • banyak amal kecil tapi pahala dan nilainya besar di sisi Allah SWT karena niat dalam melakukan amal tersebut yang ikhlas dan dilakukan dengan ihsan
  • bisa jadi beribadah hanya supaya dapat pujian atau supaya viral, dan dengan niat yang tak baik
  • balasan besar dari Allah SWT: jika amal kecil dan konsisten tapi dengan niat  yang besar tanpa ada yang diharapkan dari sisi manusia
  • selalu berdoa supaya semua ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT


  • Irfani adalah pendekatan pengetahuan dalam Islam yang didasarkan pada pengalaman spiritual langsung, intuisi (zauq), dan penyinaran hati nurani (kasyf), bukan semata-mata pada teks (bayani) atau rasio (burhani). Ini adalah metode sufi untuk mencapai makrifat (pengenalan mendalam) kepada Allah melalui latihan batin dan penyucian jiwa.
  • Burhani adalah sistem pengetahuan dalam Islam yang berbasis pada kekuatan akal (rasio), logika, dan empirisme (pengamatan/pengalaman) untuk memahami kebenaran. Sebagai salah satu dari tiga pendekatan utama (bersama Bayani dan Irfani), burhani berfokus pada pembuktian kausalitas dan bukti rasional dalam pemikiran keislaman, khususnya dalam konteks ibadah ghairu mahdlah atau muamalah
  • Aqli (atau dalil aqli) dalam Islam adalah dasar hukum atau argumen kebenaran yang didasarkan pada akal pikiran manusia, logika, dan penalaran yang sehat. Aqli berperan memahami keberadaan Allah SWT, kebenaran wahyu, dan menetapkan hukum dalam konteks ilmu tauhid, yang berbeda dengan dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis).
  • Bayani adalah salah satu dari tiga epistemologi utama dalam pemikiran Islam (bersama Burhani dan Irfani) yang menekankan otoritas nas (teks) Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber pengetahuan utama. Pendekatan ini berfokus pada analisis tekstual dan kebahasaan untuk merumuskan hukum fiqih, terutama dalam ibadah mahdah, dengan prinsip serba mungkin (tajwiz) dan diskontinuitas
  • (Nash dalam Islam adalah dalil hukum yang jelas dan tegas, berupa teks ayat Al-Qur'an atau Hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatur perintah, larangan, atau ketetapan hukum tertentu. Nash bersumber dari wahyu yang wajib ditaati dan menjadi dasar hukum utama dalam syariat Islam, yang membedakannya dari hukum tidak tertulis atau pemikiran akal)

Dalam pandangan Muhammadiyah, yang merujuk pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dan prinsip-prinsip ibadah, perasaan cemas amal tidak diterima—selama tidak berujung putus asa—bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari khauf (rasa takut) yang sehat bagi seorang mukmin.
Berikut adalah poin-poin penting terkait fenomena tersebut menurut Muhammadiyah:
  • Keseimbangan Khauf dan Raja’: Muhammadiyah menekankan pentingnya menyeimbangkan rasa takut (khauf) amalan ditolak dan rasa harap (raja’) amalan diterima. Rasa cemas ini menjaga seorang mukmin dari sifat ujub (kagum pada diri sendiri) atau sombong karena merasa amalnya sudah pasti masuk surga.
  • Contoh Para Salaf: Rasa cemas amal tidak diterima juga dirasakan oleh para sahabat Nabi dan salafus saleh, yang senantiasa meneliti keikhlasan hati mereka melebihi kuantitas ibadahnya.
  • Syarat Diterimanya Amal (HPT): Agar ibadah diterima, Muhammadiyah menekankan dua syarat mutlak:
    1. Ikhlas karena Allah SWT (memurnikan ketaatan).
    2. Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW (Ittiba’).
  • Tanda Amal Diterima: Jika cemas tersebut mendorong seseorang untuk semakin taat, memperbaiki ibadah, dan meninggalkan riya, maka itu adalah tanda positif. Tanda utama amal diterima adalah terwujudnya kebaikan (akhlak mulia) dalam kehidupan sehari-hari setelah ibadah tersebut, dan rasa cemas itu membuat seseorang tidak "pede" dengan amalannya.
  • Ikhlas adalah Perbuatan Hati: Rasa cemas muncul karena hati takut terjebak riya atau sum'ah (ingin didengar orang).
Kesimpulan:
Rasa cemas adalah manusiawi. Muhammadiyah mengajarkan untuk mengelola cemas itu dengan meningkatkan ikhlas (meniatkan semata karena Allah) dan memastikan ibadah sesuai tuntunan (sunnah). Setelah berusaha maksimal, seorang mukmin harus bertawakal dan optimis Allah Maha Menerima (Raja')
Penjelasan (Tafsir Ringkas)
  • Hati yang Takut/Cemas: Dalam ayat ini, kata wajilatun berarti hati yang bergetar atau cemas. Rasa takut di sini bukan karena putus asa dari rahmat Allah, melainkan rasa khawatir apakah ibadah yang dilakukan sudah ikhlas, sesuai syariat, dan layak diterima oleh Allah SWT.
  • Bukan Orang Maksiat: Sayyidatina 'Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW apakah yang dimaksud ayat ini adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamar? Rasulullah SAW menjawab: "Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq! Tapi mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut amalannya tidak diterima".
  • Ciri Mukmin Sejati: Rasa takut (khauf) dan harapan (raja') yang seimbang adalah ciri mukmin sejati. Mereka tidak merasa aman dengan amalnya (sombong), melainkan terus memperbaiki diri.
Ayat ini sering dikutip untuk menasihati umat Islam agar selalu mengiringi ibadah dengan keikhlasan dan tidak merasa sombong atas amal yang telah diperbuat.
Orang yang rajin beribadah tetapi hatinya cemas atau gelisah sering kali dikaitkan dengan kurangnya kekhusyukan, kurang ikhlas, masih melakukan maksiat, atau kurang tawakal.
Dalam Al-Qur'an, beberapa ayat yang berkaitan dengan situasi ini antara lain:
  • QS. Al-Baqarah: 45: Menegaskan bahwa shalat terasa berat dan tidak menenangkan kecuali bagi orang yang khusyuk.
    "Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
  • QS. At-Taghabun: 11: Menyatakan bahwa hati akan tenang jika seseorang beriman dan rida dengan ketentuan Allah.
    "Tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya..."
  • QS. Al-A'raf: 205: Mengingatkan untuk berzikir dengan rendah diri dan rasa takut, serta larangan menjadi orang yang lalai.
  • QS. Ali 'Imran: 151: Menjelaskan tentang rasa takut yang bisa menimpa manusia.
Penyebab Hati Cemas Meski Beribadah:
  1. Kurang Khusyuk: Salat hanya gerakan fisik tanpa melibatkan hati.
  2. Masalah Wudu: Wudu yang tidak sesuai rukun.
  3. Kurang Ikhlas: Beribadah karena ingin dipuji atau motivasi duniawi.
  4. Masih Melakukan Dosa: Adanya maksiat yang terus dilakukan membuat hati tidak tenang.
  5. Kurang Tawakal: Terlalu khawatir dengan urusan duniawi/masa depan
Solusi yang ditawarkan adalah meningkatkan ketakwaan, ikhlas, dan mendekatkan diri kepada Al-Qur'an

Dr. Baidarus, M.M., M.Ag

  • Dzulqa'dah : duduk diam, muhasabah diri, apakah shalat kita tetap istiqamah, ibadah ibadah kita tetap terus dilakukan, instropeksi diri
  • banyak mhs yang komplain dengan kita, bahwa dosen tidak masuk ke kelas dan memilih online daripada kelas tatap muka
  • pelaksanaan daring hanya boleh dilakukan 30%
  • komplain mhs harus diperhatikan
  • tim mutu program studi harus melakukan penilaian mutu dengan baik, lakukan pembinaan, jika tak bisa dibina maka akan disampaikan kepada BPH UMRI
  • cara berpakaian mhs saat ini : pakai celana jeans ketat? semua civitas akademika jangan melayani mhs dengan pakaian yang tidak sesuai aturan, termasuk layanan di perpustakaan
  • kita harus bersama sama menegurnya
  • mari kita berkomitmen untuk membentuk kampus islami
  • supaya kita hidup lebih baik, senantiasa mau memperbaiki kehidupan kita













No comments:

Post a Comment

EVALUASI PERKULIAHAN , KEPUASAN MAHASISWA